IHSG dan Rupiah Melemah Tertekan Sentimen Rebalancing MSCI
Pasar keuangan Indonesia ditutup melemah serentak pada perdagangan Selasa (11/8/2026), memukul Indeks Harga Saham Gabungan, nilai tukar rupiah, hingga imbal hasil Surat Berharga Negara. Tekanan pasar terjadi akibat bayang-bayang sentimen rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International serta berlanjutnya ketidakpastian geopolitik global.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG merosot 97,49 poin atau 1,53 persen ke posisi 6.267,88 pada penutupan perdagangan. Indeks saham domestik sempat tertekan lebih dari 2 persen pada sesi kedua dengan rentang pergerakan harian di level 6.230 hingga 6.388.
Pelemahan indeks terseret penurunan 567 saham, sementara 148 saham menguat dan 248 saham stagnan. Total transaksi mencapai Rp14,48 triliun dengan volume 34,01 miliar saham, di mana investor asing membukukan penjualan bersih sebesar Rp687,84 miliar di seluruh pasar.
Saham PT DCI Indonesia Tbk menjadi penekan utama IHSG setelah terkoreksi 4,66 persen ke posisi Rp196.500 per saham. Tekanan pada IHSG juga diperberat oleh pergerakan negatif saham-saham berkapitalisasi besar seperti PT Bank Central Asia Tbk, PT Amman Mineral Internasional Tbk, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah terdepresiasi 0,45 persen ke level Rp17.830 per dolar AS berdasarkan data Refinitiv. Pelemahan tersebut menghentikan tren penguatan mata uang Garuda yang sempat berlangsung selama empat hari berturut-turut.
Tekanan rupiah bertepatan dengan penguatan indeks dolar AS ke level 99,883 dan kenaikan harga minyak dunia di atas 4 persen. Di sisi lain, imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik ke posisi 7,226 persen yang menandakan tingginya aksi jual oleh investor obligasi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow