Industri Data Center dan AI di Indonesia Tumbuh Pesat dengan ISAT dan TLKM
Indonesia kini menjadi pusat pertumbuhan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dan data center di Asia Tenggara seiring meningkatnya kebutuhan komputasi dan kapasitas data center. Kapasitas data center nasional diprediksi melonjak signifikan hingga 3,5 gigawatt pada 2030, menurut riset BRI Danareksa Sekuritas dan CGS International Sekuritas Indonesia.
Kapasitas data center di Indonesia mencapai sekitar 580 megawatt pada semester I-2026 dengan konsentrasi terbesar di Jakarta dan Batam. Proyek-proyek baru dalam pipeline diperkirakan jauh melebihi kapasitas saat ini, dengan Jakarta memiliki rasio pipeline terhadap kapasitas operasional sebesar 5,3 kali dan Batam memiliki tambahan proyek 1,4 gigawatt.
Riset CGSI menyebutkan kapasitas data center Indonesia hampir tiga kali lipat menjadi 1,7 gigawatt pada akhir 2026 dari sekitar 650 megawatt pada Agustus 2026. Sejak 2018, investasi di sektor AI dan data center telah mencapai sekitar USD15 miliar, termasuk dari perusahaan global seperti Amazon Web Services dan Microsoft.
CGSI menilai PT Indosat Tbk (ISAT) menjadi emiten yang paling berpotensi menikmati pertumbuhan ekosistem AI dan data center di Indonesia.
"ISAT dinilai menjadi emiten yang paling berpotensi diuntungkan dari peluang ini," tulis analis CGSI.
ISAT memiliki kepemilikan saham di BDx Indonesia, salah satu platform data center besar di dalam negeri, serta potensi kepemilikan dalam proyek AI NeoCloud Zankore yang tengah mengembangkan kapasitas AI hingga 1 gigawatt di Batang.
Selain ISAT, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga memiliki eksposur signifikan dengan kapasitas data center sekitar 50 megawatt pada semester I-2026 dan proyek tambahan kapasitas 39,5 megawatt yang dijadwalkan beroperasi pada 2027.
Analis Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, "Salah satu katalis utama TLKM berasal dari potensi monetisasi dan divestasi 70% saham anak usahanya, NeutraDC, yang nilai transaksi diperkirakan mencapai USD1,0 hingga 1,5 miliar."
NeutraDC menargetkan kapasitas mencapai 300 megawatt pada 2030 dengan fasilitas tersebar di Cikarang, Batam, dan Singapura.
Selain ISAT dan TLKM, emiten lain seperti PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga mendapat rekomendasi positif dari analis Kiwoom Sekuritas Indonesia. DSSA mengoperasikan 24 pusat data tepi dengan kapasitas total 10 megawatt dan sedang mengembangkan fasilitas hyperscale SMX01 di Jakarta dengan investasi sekitar USD300 juta.
"Pengembangan ini bagian dari transformasi DSSA dari perusahaan pertambangan batubara menjadi ekosistem teknologi dan infrastruktur digital," ujar analis Kiwoom Sukarno Alatas.
Perkembangan industri ini didorong oleh kebutuhan komputasi awan dan infrastruktur padat GPU untuk AI yang terus meningkat, serta kondisi Indonesia yang memiliki tarif listrik kompetitif dan ketersediaan lahan memadai, menurut analis CGSI.
Proyek AI NeoCloud Zankore, yang melibatkan Indosat dan mitra global, direncanakan mulai beroperasi pada semester I-2027 dengan kapasitas tahap awal 200 megawatt dan target perluasan hingga 1 gigawatt.
Investasi besar dan kapasitas yang terus bertambah ini menempatkan Indonesia di posisi strategis dalam peta industri data center Asia Tenggara, terutama setelah Singapura dan Malaysia menghadapi keterbatasan lahan dan pasokan listrik.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow