IPB Jelaskan Penyebab Matahari Memerah Saat Kebakaran Hutan

Smallest Font
Largest Font

Kebakaran hutan dan lahan di beberapa wilayah Kalimantan dan Sumatera memicu fenomena penampakan Matahari berwarna merah pekat akibat partikel aerosol yang terkandung di dalam asap karhutla pada Jumat, 28 Agustus 2026, seperti dilansir dari Detikcom.

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Dr Givo Alsepan membenarkan bahwa hamburan dan penyerapan cahaya Matahari oleh konsentrasi partikel tersebut bertindak layaknya filter optik alami yang menyaring gelombang cahaya di atmosfer.

"Sederhananya, asap bertindak seperti filter optik alami. Sebagian cahaya Matahari dihamburkan dan diserap oleh partikel asap, sehingga cahaya yang sampai ke mata kita relatif lebih kaya warna merah dan jingga," ujar Dr Givo Alsepan, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University.

Perubahan warna atmosfer ini dipengaruhi oleh ukuran, bentuk, dan komposisi partikel aerosol karhutla yang membiaskan cahaya Matahari. Saat posisi Matahari mendekati horizon pada pagi dan sore hari, lintasan cahaya menempuh jalur atmosfer yang lebih panjang sehingga interaksi gelombang warna merah menjadi semakin kuat.

"Ketika asap karhutla menambah konsentrasi aerosol di atmosfer, interaksi cahaya dengan partikel tersebut menjadi lebih kompleks," terang Dr Givo Alsepan, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University.

Fenomena perubahan warna ini kerap terjadi saat posisi Matahari berada di lintasan bawah atmosfer yang memicu pembiasan lebih intensif.

"Semakin panjang lintasan cahaya di atmosfer, semakin besar peluang cahaya berinteraksi dengan molekul udara dan aerosol. Karena itu, warna merah atau jingga biasanya lebih kuat pada pagi dan sore hari," jelas Dr Givo Alsepan, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University.

Meskipun fenomena ini menarik perhatian, kemunculan warna merah pekat pada Matahari ditegaskan tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator tingkat pencemaran atau buruknya kualitas udara di permukaan tanah.

"Asap yang berada cukup tinggi di atmosfer bisa membuat Matahari tampak merah, tetapi belum tentu konsentrasi PM2.5 di permukaan tinggi. Jadi, warna Matahari tidak bisa dijadikan satu-satunya alat ukur kualitas udara," kata Dr Givo Alsepan, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University.

Kondisi kualitas udara juga dipengaruhi oleh tinggi lapisan asap, kelembapan, kondisi awan, sudut Matahari, hingga arah pergerakan angin.

"Jika Matahari merah disertai kabut asap, jarak pandang menurun, dan adanya sumber karhutla di sekitar atau arah datang angin, masyarakat sebaiknya meningkatkan kewaspadaan dan memeriksa informasi kualitas udara resmi," pungkas Dr Givo Alsepan, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed