Iran Bantah Trump dan Tegaskan 75 Persen Rudal Siap Dipakai

Smallest Font
Largest Font

Pemerintah Iran menegaskan bahwa lebih dari 75 persen kapasitas rudal dan pesawat nirawak milik mereka berada dalam kondisi utuh serta siap dioperasikan. Pernyataan ini disampaikan untuk menanggapi klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai kerusakan parah akibat rentetan serangan militer Washington dan Tel Aviv. Sikap tersebut memicu pergeseran dinamika geopolitik di kawasan Teluk Persia.

Selain memamerkan kekuatan militer, Teheran memperkuat pengaruhnya di Selat Hormuz melalui jalur diplomasi dengan negara-negara tetangga. Penegasan mengenai kesiapan tempur Teheran disampaikan oleh militer Iran merespons penilaian Washington yang menyebut persediaan persenjataan mereka telah hancur drastis.

"Lebih dari 75 persen kemampuan rudal dan drone masih utuh dan siap," tegas Reza Sheikh, Wakil Komandan Militer Iran untuk Urusan Eksekutif Brigadir Jenderal Ali Reza Sheikh.

Ia menambahkan bahwa efektivitas serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat bersama Israel sejak Februari lalu tidak sesuai dengan klaim publik pihak musuh. "mimpi buruk bagi musuh", ujar Ali Reza Sheikh.

Pernyataan militer Iran tersebut bertolak belakang dengan angka kalkulasi persenjataan yang sebelumnya dibeberkan oleh Gedung Putih dalam wawancara media. "Sebagian besar pabrik drone telah dilumpuhkan, sebagian besar landasan peluncuran telah dilumpuhkan, dan sebagian besar area produksi rudal telah dilumpuhkan," kata Trump dalam wawancara dengan NBC News pada saat itu.

Pemimpin Amerika Serikat itu menilai kekuatan pertahanan Teheran telah berkurang secara signifikan jika dibandingkan dengan kondisi awal pertempuran. "Mereka (Iran-red) masih memiliki kapasitas. Mereka memiliki sejumlah rudal, mereka memiliki sejumlah drone," sebutnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Trump menyebutkan bahwa Teheran kini hanya menyisakan porsi kecil dari total persenjataan strategis yang tadinya mereka miliki.

"Saya perkirakan dalam persentase, mungkin sekitar 21-22 persen dari rudal mereka. Itu jumlah rudal yang banyak, tetapi tidak sebanyak saat kita pertama kali menyerang," klaim Donald Trump.

Nada optimistis terhadap hasil serangan militer juga disampaikan oleh perwakilan diplomatik Amerika Serikat untuk wilayah Timur Tengah. "Operasi yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel telah menimbulkan kerusakan yang sangat besar," kata Huckabee, Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee. Huckabee menekankan bahwa tindakan tegas terhadap Teheran diperlukan guna memutus dukungan bagi kelompok milisi regional.

"melakukan berbagai tindakan, baik secara langsung maupun melalui proksi-proksinya, yang telah menewaskan ribuan warga Amerika", klaim Mike Huckabee.

Sementara itu, pejabat tinggi pertahanan Iran mengindikasikan preparedness yang lebih tinggi jika eskalasi militer kembali terjadi di masa mendatang. "Kami berdiri teguh dalam perang baru-baru ini dan, atas izin Allah, kami akan berdiri lebih teguh dan lebih agresif dalam kemungkinan perang di masa depan," kata Sanaei-Rad, Penasihat Politik Kantor Pemimpin Tertinggi Iran Brigadir Jenderal Rasoul Sanaei-Rad.

Penguatan posisi Iran di Selat Hormuz turut diamati oleh lembaga kajian internasional, di mana Oman dan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) mulai membangun dialog tertutup mengenai aturan pelayaran maritim. "Pemahaman saya adalah bahwa pihak Oman telah terlibat dalam diskusi ini dengan Iran melalui dukungan diam-diam dari GCC," kata Stevens, Analis Royal United Services Institute Michael Stevens.

Perkembangan diplomasi ini dinilai menandai pergeseran sikap negara-negara Teluk terhadap realitas kendali di koridor laut strategis tersebut. "Apa yang tampaknya ditunjukkan oleh hal tersebut adalah bahwa GCC menerima adanya realitas baru di Selat Hormuz," lanjut Michael Stevens. Meskipun pihak Amerika Serikat mewacanakan pembangunan jalur pipa alternatif untuk melewati Selat Hormuz, pengamat menilai langkah tersebut membutuhkan waktu operasional yang panjang.

"Sementara itu, Iran memperkuat posisinya saat kita memasuki fase negosiasi lainnya," ujar Michael Stevens.

Analis independen tersebut juga menyoroti tantangan politik yang dihadapi Washington dalam menyikapi perkembangan negosiasi di kawasan. "Saya tidak berpikir ada cara bagi AS untuk menyajikan hal itu sebagai kemenangan politik atau strategis," pungkas Michael Stevens. Di tengah perdebatan kekuatan armada dan negosiasi maritim, penilaian intelijen militer Amerika Serikat menyimpulkan bahwa Teheran kini menempatkan Selat Hormuz sebagai kartu tawar utama menggantikan program nuklirnya. Pada saat bersamaan, upaya fasilitasi saluran komunikasi diplomatik antara Washington dan Teheran masih terus diusahakan melalui perantara pihak ketiga.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed