Iran Tuding Israel Sabotase Gencatan Senjata dengan AS
Iran menuduh Israel secara aktif menyabotase upaya diplomasi gencatan senjata dengan Amerika Serikat, sementara Presiden AS Donald Trump mengaku menggunakan jalur komunikasi rahasia untuk bernegosiasi langsung dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa rezim Zionis adalah penghalang terbesar bagi pelaksanaan kesepakatan tersebut dan berusaha menggagalkan dan menghambat jalannya negosiasi. Araghchi mengatakan bahwa walaupun Trump menuntut penyerahan tanpa syarat dari Iran, Teheran akhirnya menerima gencatan senjata dan melakukan negosiasi berdasarkan ketentuan mereka sendiri.
"Rezim Zionis adalah dan tetap menjadi penentang serta penghalang terbesar bagi pelaksanaan nota kesepahaman tersebut. Mereka mengerahkan segala upaya untuk mencegah tercapainya kesepakatan itu, menggagalkan kesepakatan tersebut, dan menghalangi pelaksanaannya," ujar Araghchi, dilansir dari IRNA.
Araghchi juga menambahkan, "Kamilah yang menyatakan tidak akan menerima gencatan senjata dan melanjutkan perang hingga mencapai titik di mana mereka akhirnya menerima gencatan senjata serta negosiasi sesuai dengan ketentuan Iran." Di sisi lain, Trump dalam wawancara eksklusif dengan Fox News menyatakan bahwa pejabat AS berkomunikasi langsung secara rahasia dengan pemimpin IRGC untuk memperlancar proses negosiasi dengan Iran.
"Mereka pemain poker yang hebat, tetapi mereka sekarat," kata Trump mengenai komunikasi tersebut. Trump mengonfirmasi laporan bahwa komunikasi tersebut dilakukan melalui Presiden wilayah Kurdistan di Irak, Nechirvan Barzani, yang dipercaya oleh kedua pihak AS dan Iran. Komunikasi ini terjadi pada Mei, saat Direktur Intelijen Nasional AS masih dijabat Tulsi Gabbard.
Gabbard meminta Barzani menghubungi komandan IRGC, Jenderal Ahmad Vahidi, untuk memastikan apakah IRGC setuju dengan negosiasi yang telah dilakukan oleh pejabat Iran lainnya. Setelah berhasil dihubungi, Vahidi menegaskan bahwa IRGC sejalan dengan negosiator Iran, menurut laporan Axios. Namun, upaya pertemuan rahasia antara AS dan Iran di Erbil yang dimediasi Barzani tidak terealisasi karena kekhawatiran keamanan dari pihak Iran terkait intelijen Israel di Irak.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak AS dan Iran untuk melanjutkan negosiasi damai dan berkelanjutan secepat mungkin serta menurunkan retorika untuk mencegah konflik militer kembali pecah.
Guterres menyampaikan hal itu saat masa negosiasi 60 hari yang ditetapkan Trump berakhir tanpa kesepakatan, dan ketegangan militer antara kedua negara meningkat sejak Juli. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan Iran tidak akan diperbudak oleh tekanan waktu atau syarat buatan dalam negosiasi, menyatakan Amerika Serikat telah melanggar nota kesepahaman sejak awal. Baghaei menolak klaim adanya tenggat waktu 60 hari untuk negosiasi dan menyatakan keputusan Iran akan didasarkan pada kepentingan nasional, bukan tekanan eksternal.
Ia juga menuding AS mengubah tujuan perang untuk menutupi kegagalannya dan menyarankan AS menarik diri dari konflik sebelum keterlibatannya semakin dalam.
Dalam konferensi pers yang sama, Baghaei menyampaikan Iran terus berupaya melalui jalur diplomatik untuk mengetahui nasib tiga pilot yang hilang setelah operasi militer terhadap pangkalan AS di Qatar pada Maret lalu. Iran meminta Komite Internasional Palang Merah dan Qatar membantu memastikan kondisi ketiga pilot tersebut dan hak mereka sebagai tawanan perang dihormati menurut hukum humaniter internasional.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow