ITB Terima 8.945 Mahasiswa Baru Angkatan 2026
Institut Teknologi Bandung (ITB) meresmikan penerimaan 8.945 mahasiswa baru tahun akademik 2026/2027 melalui Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru di Sasana Budaya Ganesa, Bandung, pada Rabu (5/8/2026).
Total mahasiswa baru tersebut terdiri atas 5.468 peserta program sarjana, 1.947 peserta program magister, 563 peserta program doktor, serta 967 peserta program profesi.
Pendaftaran program sarjana tahun ini mencatatkan rekor tertinggi dalam sejarah ITB dengan jumlah peminat mencapai 139.399 calon mahasiswa dari berbagai daerah.
"Jumlah pendaftar untuk program sarjana yaitu 139.399. Ini terbesar dalam sejarah ITB dan yang diterima 5.468," kata Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB, Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc.
Persaingan ketat menyaring para peserta, di mana sekitar 96 persen pendaftar lainnya merupakan lulusan terbaik dari sekolah masing-masing yang tidak berhasil lolos seleksi.
"Dan 96% pendaftar lainnya, biasanya yang mendaftar di ITB adalah calon mahasiswa atau siswa SMA terbaik di masing-masing sekolahnya," ucap Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc.
Tingkat keketatan bahkan terkonsentrasi sangat tinggi pada sejumlah fakultas favorit dengan standar nilai kualifikasi peserta berada di taraf teratas nasional.
"Bahkan untuk satu fakultas bisa saya sebut, Anda bisa menduga fakultas yang mana, nilainya adalah 0,5% terbaik se-Indonesia," ungkap Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc.
Komposisi mahasiswa baru program sarjana angkatan 2026 terdistribusi dari 38 provinsi di Indonesia, dengan asal sekolah terbanyak didominasi oleh Provinsi Jawa Barat sebanyak 2.076 mahasiswa dan DKI Jakarta sebanyak 1.026 mahasiswa.
Sebanyak 97 mahasiswa berasal dari wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), 10 mahasiswa diterima melalui jalur Afirmasi Pendidikan Tinggi, serta 446 mahasiswa tercatat sebagai penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah.
Secara demografi gender pada jenjang sarjana, persentase mahasiswa laki-laki mencapai 57,7 persen, sementara mahasiswa perempuan tercatat sebesar 43,3 persen.
Fakultas Seni Rupa dan Desain mencatat proporsi mahasiswa perempuan tertinggi yakni 78 persen, sedangkan Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara didominasi mahasiswa laki-laki sebesar 81 persen.
Mahasiswa termuda yang diterima pada jenjang sarjana berusia 15 tahun, yaitu Kevin VN Sitanggang dari Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan.
Selain mahasiswa domestik, ITB menerima mahasiswa warga negara asing dari 21 negara untuk program sarjana dan 20 negara untuk program pascasarjana.
Dalam pidato penyambutannya, pimpinan universitas mengingatkan sejarah pendirian kampus sejak 3 Juli 1920 sebagai sekolah tinggi teknik pertama di Indonesia.
"Lebih dari satu abad yang lalu, tepatnya pada tanggal 3 Juli 1920 di tempat ini berdiri Technische Hoogeschool te Bandung, sekolah tinggi teknik pertama di Hindia Belanda," kata Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T.
Ia mengutip pesan dari pimpinan awal kampus mengenai pentingnya pengabdian seluruh lulusan kepada bangsa dan masyarakat.
"Pada pidato pembukaannya, Rector Magnificus pertama Profesor Klopper menyampaikan harapan bahwa kampus ini akan melahirkan putra-putri terbaik yang mengabdikan ilmu pengetahuan bagi kemajuan negeri serta mengingatkan bahwa setiap mahasiswa memikul tanggung jawab bukan hanya kepada dirinya sendiri, tetapi kepada masyarakat dan bangsanya," imbuh Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T.
Prinsip sejarah tersebut dinilai menjadi fondasi utama bagi seluruh mahasiswa dalam menempuh perjalanan akademiknya di ITB.
"Amanat besar itulah yang sekarang menjadi dasar perjalanan ITB, perjalanan adik-adik semua," kata Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T.
Ia menegaskan bahwa kelulusan seleksi merupakan awal dari tahapan pengembangan diri dan penciptaan karya bagi masyarakat luas.
"Diterima di ITB bukanlah garis akhir. Ini adalah garis awal," ujarnya.
Proses perubahan zaman dan kemajuan karya para tokoh bangsa diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa baru selama menuntut ilmu.
"Setiap sejarah besar selalu diawali oleh seseorang yang memutuskan bahwa hidupnya harus bermanfaat bagi orang lain sepanjang zaman," katanya.
Rangkaian acara diawali dengan laporan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan serta diisi orasi ilmiah dari jajaran dosen ITB.
Dosen Kepala Subdirektorat Pengembangan Prestasi ITB turut membagikan perspektifnya mengenai dinamika teknologi dan pasar kerja global.
“Kita tidak tahu pekerjaan apa lagi yang akan diciptakan oleh perkembangan teknologi, transisi energi, maupun berbagai inovasi lain yang saat ini sedang berkembang,” ujarnya.
Ia menyoroti bahwa perkembangan teknologi berpotensi memicu ketimpangan jika manfaatnya tidak terdistribusi secara merata kepada seluruh lapisan masyarakat.
“Inovasi harus berpihak kepada mereka yang lemah, sehingga manfaat kemajuan teknologi dapat dirasakan oleh semua orang. No one should be left behind,” tuturnya.
Di akhir orasinya, ia menegaskan pentingnya adaptasi dan ketangguhan mental bagi setiap mahasiswa dalam menghadapi perubahan masa depan.
“Teknologi akan terus berubah. Dunia kerja akan terus berubah. Tetapi, ada satu hal yang tidak akan berubah, yaitu kemampuan manusia untuk bangkit setelah gagal, untuk terus belajar, untuk berkolaborasi, dan untuk terus bertumbuh,” pungkasnya.
Selain program sarjana, pelaksanaan orientasi dan penyambutan bagi mahasiswa program magister serta doktor diselenggarakan secara daring pada hari yang sama.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow