Kabut Asap Karhutla Lumpuhkan Banjarbaru dan Ganggu Penerbangan

Smallest Font
Largest Font

Eskalasi kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan memicu pekatnya kabut asap yang melumpuhkan berbagai sektor vital pada Kamis, 20 Agustus 2026. Bencana ekologis ini berdampak langsung pada penyesuaian jam masuk sekolah di Kota Banjarbaru hingga gangguan fatal terhadap belasan penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor.

Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru merilis Surat Edaran Nomor 400.35./1738/P.SMP/Disdik tertanggal 19 Agustus yang menginstruksikan pengunduran jam masuk sekolah menjadi pukul 09.00 WITA mulai Kamis, 20 Agustus 2026. Kebijakan ini menyasar seluruh jenjang pendidikan mulai dari PAUD-TK, SD, hingga SMP di bawah naungan Disdik Banjarbaru.

"Satuan pendidikan bisa memulai pelaksanaan pembelajaran pada pukul 09.00 Wita bagi sekolah terdampak," ujar Kepala Disdik Banjarbaru, Abdul Basid, dilansir detikKalimantan, Kamis (20/8/2026).

Basid menambahkan bahwa keputusan penyesuaian jam belajar ini bakal terus berlaku sampai pekatnya kabut asap mereda demi menjamin keselamatan para siswa.

"Bagi tenaga pendidik dan pendidik untuk bisa melaksanakan tugas sesuai dengan jam kerja yang telah ditetapkan," katanya.

Dampak paparan asap juga dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar. Firman, salah satu orang tua siswa di Banjarbaru, mengungkapkan bahwa anak-anaknya sudah diwajibkan memakai masker saat pergi ke sekolah sejak pekan lalu serta dibatasi dari segala aktivitas luar ruangan.

Selain merambah area pemukiman dan sekolah, sebaran kabut asap mengepung kawasan Liang Anggang hingga landasan pacu Bandara Internasional Syamsudin Noor. Kondisi tersebut memaksa pihak otoritas bandara membatasi penerbangan akibat jarak pandang yang turun drastis.

General Manager Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru, Stephanus Millyas Wardana, menyampaikan bahwa jarak pandang di area runway sempat merosot tajam di bawah batas aman penerbangan sejak Rabu (19/8/2026) Subuh selama hampir empat jam.

"Tadi itu jarak pandang turun hingga 400 meter sehingga kami ada 12 penerbangan yang terdampak, 8 departure dan 4 arrival," ujar Stephanus kepada Kompas.com, Rabu.

Setelah kepungan asap mulai terurai dan jarak pandang kembali normal, Stephanus memastikan seluruh jadwal penerbangan yang sempat tertahan langsung diberangkatkan menuju tujuan masing-masing.

"Saat ini seluruh penerbangan terdampak telah lepas landas dari Bandara Internasional Syamsudin Noor menuju tujuan masing-masing," jelas Stephanus.

Guna mengantisipasi potensi penundaan susulan, manajemen bandara mengimbau calon penumpang agar tiba tiga jam sebelum jadwal keberangkatan.

"Sehubungan dengan kondisi kabut asap yang tengah terjadi, kami menyarankan para pengguna jasa agar tiba lebih awal di bandara, yaitu tiga jam sebelum waktu keberangkatan sudah tiba di bandara dan dua jam sebelum waktu keberangkatan telah melakukan proses check-in, dan satu jam sebelum penerbangan sudah berada di ruang tunggu keberangkatan," imbau Stephanus.

Seorang penumpang tujuan Jakarta, Dewi, mengaku telah menyiapkan langkah antisipasi mandiri setelah memantau perkembangan situasi di media sosial.

"Kami berangkat sudah tahu kalau akan delay karena kabutnya sangat pekat, makanya kami sudah menyiapkan masker dan bekal sarapan di bandara," ujar Dewi.

Dewi berharap penanganan karhutla dapat segera dituntaskan oleh pihak berwenang agar kerugian waktu akibat penundaan penerbangan tidak terus berulang.

"Ya harapannya bisa diatasi lah. Supaya masyarakat nyaman beraktivitas. Kalau kayak gini kan rugi waktu karena delay," harap Dewi.

Berdasarkan data pantauan satelit Google, area kebakaran di wilayah Kalimantan diperkirakan telah meluas hingga menyentuh angka 572 kilometer persegi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengategorikan kualitas udara di wilayah terdampak telah berada pada level Berbahaya.

Menanggapi situasi krusial ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa upaya pemadaman terus dikerahkan secara intensif melalui jalur darat maupun udara.

"Sampai saat ini satgas penanganan karhutla, baik udara dan darat, terus menerus memberikan layanan terbaik untuk memadamkan api di beberapa provinsi terdampak karhutla," kata Kapusdatin dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, melalui pesan singkat kepada CNBC Indonesia, Kamis (20/8/2026).

Sementara itu, riset dari peneliti Fakultas Kehutanan UGM merinci bahwa pemicu utama karhutla di Indonesia didominasi oleh aktivitas antropogenik atau pembalakan dan pembakaran lahan oleh manusia. Faktor ini diperparah oleh pengeringan lahan gambut melalui kanalisasi yang memicu kebakaran bawah permukaan (subsurface fire), serta akselerasi fenomena iklim El Nino.

"Pengendalian karhutla memerlukan pendekatan jangka panjang yang tidak hanya berfokus pada pemadaman, tetapi juga pada perbaikan aspek sosial-ekonomi masyarakat sekitar hutan. Program perhutanan sosial, peningkatan kesejahteraan petani, penyediaan alternatif pembukaan lahan tanpa bakar, serta penguatan tata kelola lahan menjadi bagian penting dalam strategi pencegahan berkelanjutan," tulis studi dari peneliti UGM.

Tim peneliti UGM menekankan pentingnya pengintegrasian rekam sejarah bencana dalam perancangan tata kelola hutan guna menghentikan siklus tahunan bencana kabut asap.

"Pembelajaran dari sejarah karhutla harus terus diintegrasikan dalam perencanaan pembangunan agar pengelolaan hutan dan lahan di Indonesia dapat berjalan secara berkelanjutan dan bebas dari bencana kabut asap," tegas laporan studi tersebut.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed