Kamboja Genjot Promosi Wisata Muslim Usai Kunjungan Turis Asing Anjlok

Smallest Font
Largest Font

Penurunan tajam angka kunjungan wisatawan mancanegara mendorong Pemerintah Kamboja beralih memperkuat promosi wisata ramah Muslim. Langkah strategis ini diambil guna menopang sektor pariwisata nasional yang sedang tertekan.

Sektor pariwisata Kamboja mencatatkan penurunan signifikan pada paruh pertama 2026. Jumlah pelancong asing tercatat hanya 1,75 juta orang, merosot 47,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang menembus 3,36 juta orang, seperti dilansir dari Detik Travel.

Kondisi ini dipicu oleh penutupan perbatasan darat serta konflik militer dengan Thailand. Selain itu, maraknya kasus penipuan siber internasional turut memperburuk citra Kamboja di mata dunia. Dampaknya, pendapatan pariwisata merosot 31,5% menjadi USD 1,4 miliar atau setara Rp 24,96 triliun.

Mengatasi krisis tersebut, Pemerintah Kamboja mengandalkan Rencana Induk Pariwisata Muslim 2023-2027. Program ini mencakup pelatihan bagi pelaku usaha hingga penyediaan fasilitas mushola di dua bandara internasional utama dan pusat perbelanjaan.

Penyediaan fasilitas ramah Muslim terus diperluas oleh para pengelola akomodasi. Sejumlah hotel kini melengkapi kamar dengan sajadah dan penunjuk arah kiblat, sedangkan restoran memperbanyak opsi menu halal serta ruang makan bebas alkohol.

"Kalau melihat perubahan dalam tiga tahun terakhir, kita benar-benar bisa melihat perubahan di lapangan," kata Presiden Cambodian Association of Travel Agents (CATA), Chhay Sivlin.

Sivlin menilai pasar wisata Muslim kini bukan lagi sekadar segmen khusus. Peluncuran kampanye 'Assalamualaikum Cambodia' membantu pelaku usaha memahami kebutuhan turis Muslim dan menyesuaikan layanan mereka secara aktif.

"Kampanye pemerintah 'Assalamualaikum Cambodia' memberikan kerangka yang lebih jelas bagi pelaku usaha lokal. Semakin banyak operator yang kini aktif berpartisipasi, bukan sekadar mengamati dari jauh," ujarnya.

Data Global Muslim Travel Index mencatat sekitar 196 juta Muslim melakukan perjalanan internasional pada 2025. Di Kamboja, jumlah wisatawan Muslim melonjak dari 180.000 orang pada 2022 menjadi 440.000 orang pada 2024, mayoritas berasal dari Timur Tengah, Indonesia, dan Malaysia.

Upaya memperkuat ekosistem wisata halal ditunjukkan lewat penyelenggaraan Forum dan Pameran Pariwisata Muslim ketiga pada pertengahan Juli lalu. Pemerintah juga merilis Handbook on Muslim-Friendly Tourism Standards sebagai acuan resmi bagi industri.

Restoran bersertifikat halal milik warga Muslim mulai menjamur di kota Phnom Penh dan Siem Reap, meskipun proses sertifikasi menyeluruh masih berlangsung bertahap.

Menteri Pariwisata Kamboja, Huat Hak, menjelaskan pariwisata Muslim bukan hanya memiliki potensi yang besar. Tetapi mencerminkan Kamboja sebagai destinasi yang aman dan nyaman bagi seluruh wisatawan.

"Pariwisata Muslim bukan hanya pasar yang potensial, tetapi juga kesempatan untuk menunjukkan bahwa Kamboja merupakan destinasi yang aman, ramah, dapat diandalkan. Dan memiliki keramahan bagi wisatawan dari berbagai negara dan agama," jelas Huat Hak.

Huat Hak menambahkan bahwa diversifikasi pasar penting agar pertumbuhan industri pariwisata lebih tahan terhadap krisis. Namun, Kamboja masih menghadapi kendala belum meratanya fasilitas berstandar internasional di luar kawasan Phnom Penh dan Siem Reap.

Tantangan lain terletak pada minimnya publikasi mengenai sejarah masyarakat Muslim Cham serta keberadaan sekitar 1.000 masjid aktif. Potensi sejarah ini dapat dimanfaatkan Kamboja untuk tampil sebagai destinasi mandiri, bukan sekadar tujuan persinggahan dari negara tetangga.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed