Kasus ISPA Melonjak Akibat Kabut Asap Karhutla di Pekanbaru dan Wilayah Lain

Smallest Font
Largest Font

Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Pekanbaru melonjak dua kali lipat akibat kabut asap yang terbentuk dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda wilayah Riau dan sekitarnya.

Data Dinas Kesehatan Pekanbaru mencatat rata-rata kasus harian naik dari 100 pasien menjadi sekitar 300 pasien per hari. Total sepanjang masa tanggap darurat tercatat 706 warga menderita ISPA.

Selain ISPA, berbagai gangguan kesehatan lain juga meningkat, termasuk iritasi kulit, asma, pneumonia, dan konjungtivitis yang dialami puluhan warga.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, Dedy Sambudi, mengatakan, "Ada peningkatan kasus ISPA, dua kali lipat peningkatan kita hitung rata-ratanya per hari."

Dedy juga menyampaikan, "Dari data tersebut, didapati pula, warga bukan hanya terkena ISPA karena kualitas udara yang memburuk akibat kebakaran lahan. Namun ada juga yang mengalami iritasi kulit."

"Disebutkannya, jumlah warga yang terkena iritasi kulit sebanyak 33 orang. Ada juga yang mengalami asma sebanyak 23 orang. Ada juga warga yang mengalami pneumonia sebanyak lima orang. Lalu ada juga yang mengalami konjungtivitis atau mata merah sebanyak 15 orang," ujar Dedy.

Kementerian Kesehatan menyiapkan 1.891 puskesmas dan 360 rumah sakit rujukan untuk pelayanan kesehatan masyarakat terdampak Karhutla. Langkah ini termasuk penyediaan obat-obatan, masker, oksigen, dan tenaga kesehatan cadangan di daerah terdampak.

Plt. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menyatakan, "Kami sudah menyiapkan pos pelayanan kesehatan termasuk obat-obatannya di seluruh puskesmas di daerah kejadian, yakni 1.891 puskesmas."

"Kami menyiapkan rumah sakit rujukan sebanyak 360 rumah sakit rujukan, menyiapkan Labkesmas sebanyak 87 laboratorium kesehatan masyarakat," tambah Andi.

Andi menjelaskan, laboratorium digunakan untuk pengujian kualitas udara dan pemeriksaan kesehatan masyarakat terdampak. Pemerintah juga menyiagakan Public Safety Center 119 serta menyalurkan logistik kesehatan untuk antisipasi gangguan pernapasan.

Kemenkes mencatat sejak Juli hingga Agustus 2026, total kasus ISPA di wilayah terdampak mencapai 50.891 kasus, dengan 12.600 kasus pada anak di bawah lima tahun dan 38.291 kasus pada anak di atas lima tahun.

Dampak kesehatan jangka panjang dari paparan polusi asap Karhutla mengkhawatirkan. Dewan Pakar Perdokmil/Pertasindo Brigjen TNI (Purn) Alexander K Ginting menjelaskan, partikel halus PM2,5 yang terkandung dalam asap dapat memasuki sistem pernapasan hingga aliran darah, meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan kardiovaskular.

"Untuk anak-anak, ini yang terjadi adalah karena oksigenasi yang sudah turun dan kemudian perkembangan tumbuh otak juga akan terhambat oleh karena PM2,5 ini yang 28 kali lebih kecil dari rambut manusia ini terhirup," ujar Alexander.

Alexander menegaskan pentingnya pemantauan kualitas udara melalui Air Quality Index (AQI) dan perlindungan masyarakat dengan pembatasan aktivitas luar ruangan dan penggunaan masker N95 jika AQI di atas 150.

Ekonom dari Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira, memperkirakan dampak ekonomi dan biaya kesehatan akibat Karhutla bisa mencapai Rp 123,1 triliun, termasuk biaya pengobatan dan produktivitas terganggu akibat gangguan kesehatan.

"Begitu kemudian dia sakit karena terkena ISPA akibat adanya karhutla ini, dia akan mengeluarkan biaya yang juga ekstra," kata Bhima menjelaskan beban ekonomi bagi rumah tangga terdampak.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed