Kasus Pembunuhan Perempuan di St. Francis Soroti Hambatan Korban KDRT
Seorang perempuan asal Cudahy tewas setelah ditembak beberapa kali di Lake Park Apartments, St. Francis, yang memicu sorotan dari para aktivis kekerasan dalam rumah tangga terkait hambatan keselamatan bagi penyintas. Kepolisian melaporkan korban meninggal di rumah sakit, sementara seorang pria berusia 33 tahun telah ditahan atas insiden tersebut pada 17 Juli 2026.
Dokumen pengadilan dari bulan April menunjukkan mantan pasangan korban sempat mengaku memiliki empat senjata api di rumahnya. Pada hari yang sama, perintah perlindungan sementara dibatalkan oleh pengadilan lantaran korban tidak hadir dalam persidangan.
Perwakilan dari Asha Family Services, Shawn Muhammad, menjelaskan bahwa kasus penembakan ini mencerminkan tren yang sangat mengkhawatirkan di wilayah tersebut.
"Too many women are dying from gun violence, you know, and me being a child of Milwaukee, I hate to see what's happening here," kata Shawn Muhammad, perwakilan Asha Family Services.
Ia menambahkan bahwa situasi penembakan saat ini terus memburuk dan menjadi beban tersendiri bagi para penyedia layanan pendampingan yang menghadapi tragedi serupa setiap hari.
"It's very tragic. You know, it's hard being a provider and not to take what we see home with us, you know. But I've actually seen it get worse," ujar Shawn Muhammad.
Kondisi psikologis para penyintas juga menjadi sorotan berat karena mereka harus terus-menerus berhadapan dengan rasa takut saat mencoba lepas dari lingkaran kekerasan.
"Survivors feel afraid the majority of the time and are always navigating safety," kata Carmen Pitre, perwakilan Sojourner Family Peace.
Terkait aturan sistem hukum yang mengharuskan pelapor untuk hadir di pengadilan, lembaga pendamping tidak menganggap regulasi itu sebagai kelemahan hukum, melainkan kegagalan struktur sosial.
"I don't consider it a flaw in the system. I think it's a flaw in our society that people don't have safety and processes and doors that are open to help them sooner in their lives," tutur Carmen Pitre.
Guna memutus rantai kekerasan ini, Shawn Muhammad menekankan pentingnya mengalihkan fokus kerja dari sekadar intervensi pascakejadian menjadi langkah pencegahan sejak dini.
"Our work for the most part is intervention. But we really need to start thinking about prevention," ucap Shawn Muhammad.
Pihak Asha Family Services kini tengah menyusun program khusus yang menyasar para pelaku kekerasan agar tindakan fatal dapat dicegah lebih awal.
"There are not a lot of services and resources out for men or perpetrators that are in crisis. And sometimes we could stop violence before it happens if we could find somebody that's in crisis and stabilize their behavior," jelas Shawn Muhammad.
Para aktivis pendamping mendesak setiap individu yang terjebak dalam situasi kekerasan untuk segera membuka komunikasi dengan lembaga layanan perlindungan.
"I think a conversation with an advocate is critically important for people who are living in violence," pungkas Carmen Pitre.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow