Keluarga Korban Banjir Bandang Himalaya Gelar Upacara Pemakaman Simbolis

Smallest Font
Largest Font

Sejumlah keluarga korban banjir bandang di kawasan Himalaya mulai menggelar ritual pemakaman simbolis dengan membakar boneka jerami pada Rabu (2/9/2026), sepekan setelah bencana akibat runtuhnya gletser menerjang perbatasan Nepal dan Cina.

Langkah spiritual tersebut diambil setelah pencarian di tempat penampungan dan kamar jenazah tidak membuahkan hasil, sementara total korban tewas kini mencapai 1.130 orang dan hampir 4.500 lainnya masih dinyatakan hilang.

Prosesi pembakaran boneka jerami dalam tradisi Hindu tersebut dilakukan untuk memberikan penghormatan terakhir bagi anggota keluarga yang belum ditemukan di tengah hamparan puing dan lumpur beku.

"Kami harus melakukan ini untuk membebaskan jiwanya, agar ia tenang dan bahagia di mana pun ia berada," kata Dolma Newar Tamang, warga Nepal yang kehilangan suaminya akibat bencana tersebut.

Ia menceritakan keberadaan suaminya yang sedang dalam perjalanan menuju Cina saat bencana melanda wilayah perbatasan.

"Saya melihat beritanya dan langsung menelepon dia," kata Dolma kepada AFP. "Saya menelepon berulang kali, tapi dia tidak pernah mengangkat."

Di sisi lain, tim darurat masih terus melakukan penggalian, pengeboran, hingga peledakan material puing untuk melepaskan terowongan pembangkit listrik tenaga air yang tertimbun lumpur padat.

Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal menyatakan bahwa upaya pencarian korban selamat masih terus dilakukan oleh petugas di lapangan.

"Mukjizat memang terjadi," kata Shisir Khanal kepada AFP. "Pada titik ini, saya tidak mau sepenuhnya menyerah pada harapan."

Pemerintah Nepal menegaskan perlunya tindakan global mengingat kehancuran masif yang dialami negara berpenduduk 30 juta jiwa tersebut akibat laju pemanasan suhu di pegunungan Himalaya.

Perdana Menteri Nepal Balendra Shah menilai bencana dahsyat ini merupakan peringatan nyata bagi wilayah pegunungan yang menampung sumber air vital jutaan warga.

"Perubahan iklim adalah kontribusi global, dan respons terhadap bencana juga merupakan tanggung jawab global," kata Balendra Shah dalam unggahan media sosialnya.

Pemerintah di Kathmandu memperkirakan biaya rekonstruksi akan mencapai miliaran dolar di tengah keterbatasan sumber daya negara. Sementara itu, pihak berwenang mulai menguburkan ratusan jenazah tak teridentifikasi setelah pengambilan sampel DNA karena kapasitas kamar jenazah yang meluap.

Data resmi mencatat 1.114 jenazah ditemukan di Nepal dan 3.916 orang hilang, sedangkan media pemerintah Cina melaporkan 16 tewas dan 546 hilang di wilayah Tibet. Selain itu, terdapat lebih dari 800 warga negara asing dari 30 negara yang terdaftar hilang, serta 17 jenazah ditemukan di aliran sungai wilayah India.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed