Keluarga Ungkap Kejanggalan Kematian Sutrimo di Jakarta Selatan

Smallest Font
Largest Font

Keluarga Sutrimo mengungkap sejumlah kejanggalan terkait kematian pria asal Desa Wlahar, Banyumas, yang ditemukan meninggal dengan mulut berbusa di depan klinik kecantikan Mordent, Jakarta Selatan, Kamis (23/7/2026).

Kuasa hukum keluarga, Aan Rohaeni, menyebut jenazah diterima sudah dikafani dan dalam kondisi bersih tanpa tanda mencurigakan, sehingga keluarga awalnya menerima kematian tersebut sebagai wajar karena riwayat penyakit gula dengan kadar gula darah mencapai 600.

Jenazah dimakamkan pada malam yang sama saat diterima sekitar pukul 22.00 WIB tanpa kecurigaan dari keluarga.

Namun, kejanggalan mulai muncul setelah berita tentang kematian Sutrimo tersebar, memicu keluarga bertanya-tanya dan merasa ada yang tidak beres.

"Beberapa hari kemudian kan ada berita dan lain-lain. Pihak keluarga ya di satu sisi merasa, ini ada apa sih," ujar Aan Rohaeni, kuasa hukum keluarga.

Keluarga juga mulai curiga karena ponsel dan dompet Sutrimo yang ikut dibawa tidak pernah dikembalikan. Nomor telepon orang yang mengantarkan jenazah sempat aktif lalu mendadak tidak bisa dihubungi.

Aan menjelaskan keluarga merasa tertekan karena terbatas secara finansial dan takut berhadapan dengan perkara besar yang melibatkan tokoh penting di Indonesia.

"Mereka merasa, 'saya ini siapa'. Siapa yang menjamin kalau ada masalah? Mau wara-wiri saja pasti mengeluarkan uang. Sementara mereka itu untuk hidup saja susah," kata Aan.

Persoalan lain ditemukan setelah Aan mendapatkan dokumen kronologi kondisi Sutrimo sebelum meninggal yang tidak pernah diserahkan kepada keluarga saat jenazah dipulangkan.

Aan terkejut karena dalam dokumen tersebut disebutkan adanya busa keluar dari mulut dan hidung Sutrimo, sementara keluarga tidak pernah menerima surat keterangan rumah sakit yang memuat hal itu.

"Dokumen itu tidak pernah disampaikan kepada keluarga. Jadi memang pengantar jenazah dengan sengaja, orang pengirim jenazah itu menyembunyikan satu formulir kronologis tadi," ujar Aan.

Aan juga membandingkan tanda tangan dalam dokumen kronologis dengan tanda tangan yang dimiliki keluarga dan menemukan kesamaan dengan nama Febrio Adiono.

Keluarga menilai ketidaksingkapan dokumen tersebut menjadi alasan mempertanyakan proses pemulangan jenazah Sutrimo.

Aan memaparkan jenazah dibawa oleh empat orang, dua dari pihak ambulans dan dua lainnya mengaku sebagai petugas keamanan sekaligus teman Sutrimo di tempat kerja.

Sutrimo disebut bekerja pada Eks Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah, namun status pekerjaannya tidak diketahui jelas oleh keluarga.

Setelah berbagai kejanggalan dan pemberitaan simpang siur, keluarga Sutrimo akhirnya melaporkan kematian pria asal Banyumas itu ke Polresta Banyumas pada Sabtu (8/8) malam dengan nomor laporan STTLP/79/VIII/2026/SPKT/POLRESTA BANYUMAS/POLDA JAWA TENGAH.

"Prinsipnya keluarga cuma minta kepastian hukum terkait meninggalnya saudara Sutrimo. Wajar atau tidak, cuma itu saja," ujar Aan seusai mendampingi keluarga membuat laporan.

Keluarga ingin kejelasan karena berbagai isu simpang siur yang beredar mulai mengganggu lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar Desa Wlahar.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed