Kemnaker Targetkan Pelatihan Vokasi dan Magang Atasi Ketidaksesuaian Kerja
Kementerian Ketenagakerjaan menargetkan 270 ribu peserta pelatihan vokasi dan memperluas kuota Program Magang Nasional menjadi 150 ribu orang pada 2026. Langkah ini diambil guna mengatasi persoalan ketidaksesuaian bidang kerja atau mismatch yang mencapai 33,5 persen di kalangan lulusan perguruan tinggi. Penguatan kompetensi tersebut diprioritaskan untuk menyelaraskan keahlian tenaga kerja dengan kebutuhan dunia industri modern, termasuk memperkuat kolaborasi bersama perguruan tinggi di berbagai daerah. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengungkapkan bahwa kesiapan kurikulum dan tenaga instruktur di puluhan balai kerja telah dipetakan untuk mendukung program ini.
"Nah, pelatihan vokasi itu ada 270 ribu orang," kata Yassierli di Makassar pada Selasa (4/8/2026).
Pemerintah mencatat puluhan ribu peserta telah mengikuti pelatihan awal dari target keseluruhan yang tersebar di puluhan fasilitas vokasi. "Ini sekarang sedang kita data, kurikulumnya sudah siap, instrukturnya sudah siap. Kita sudah melatih 70 ribu dan kita akan tambahkan 270 ribu pelatihan vokasi di 43 balai yang ada di Kemenaker dan nanti kita juga akan berikan alokasi untuk balai-balai yang ada di daerah," jelas Yassierli.
Selain pelatihan vokasi, pemerintah juga mencatat tingginya animo masyarakat terhadap program pemagangan nasional yang sedang berjalan. "Ya magang, Alhamdulillah magang sekarang prosesnya, kita sedang seleksi oleh perusahaan dan kita buka batch pertama 50 ribu orang dan antusiasme luar biasa yang daftar lebih dari 400 ribu," kata Yassierli.
Proses penyaringan peserta magang diserahkan sepenuhnya kepada pihak industri agar mendapatkan kualifikasi tenaga kerja yang tepat. "Sekarang bolanya ada di perusahaan, dan kita berharap perusahaan bisa mendapatkan kandidat yang sesuai dengan harapan sehingga adik-adik kita bisa mengikuti program magang dan memperoleh banyak pengalaman," ungkap Yassierli. Pengawasan berlanjut pada gelombang berikutnya dengan memastikan kecocokan antara latar belakang pendidikan peserta dan tempat magang.
"Kita dalam angkatan yang kedua ini, kita juga sudah mulai lebih detail melihat perusahaan-perusahaan tempat mereka magang dan kita memang pilihkan perusahaan yang memang sesuai tempat magang yang sesuai dengan program studi mereka saat di kampus," jelas Yassierli.
Saat membawakan kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Kendari pada Rabu (5/8/2026), Menaker Yassierli menyoroti masalah tingginya angka ketidaksesuaian latar belakang pendidikan dengan pekerjaan di Indonesia. “Ada mismatch yang menjadi PR (pekerjaan rumah) kita bersama. Perguruan tinggi menghasilkan lulusan, namun seringkali tidak nyambung dengan kebutuhan industri. Inilah mengapa kampus harus selalu dekat dengan industri,” ujar Menaker Yassierli dalam keterangannya di Jakarta pada Kamis (6/8/2026). Ia juga mendorong mahasiswa untuk memiliki kompetensi adaptif berbasis konsep M-Shaped dan melatih kemampuan berpikir kritis yang tidak dapat digantikan oleh kecerdasan buatan.
“Mahasiswa juga didorong memiliki kombinasi beberapa kompetensi spesifik yang didukung satu kompetensi umum (M-Shaped), sehingga lebih adaptif menghadapi perkembangan dunia kerja dibanding hanya mengandalkan satu spesialisasi,” ujar Yassierli.
Penambahan kuota magang secara nasional menjadi salah satu langkah konkret pemerintah dalam menutup jurang perbedaan keterampilan tersebut. “Program Magang Nasional ini adalah investasi besar dan bukti keseriusan pemerintah untuk memperkecil kesenjangan kompetensi antara lulusan dengan kebutuhan dunia industri,” kata Menaker.
Mengejar perubahan dunia kerja yang sangat cepat, pencari kerja diimbau untuk terus mengasah kemampuan diri di luar lingkungan akademik. “Dunia bergerak cepat. Sebanyak 39 persen keahlian akan berubah dalam enam tahun ke depan. Mahasiswa tidak boleh berhenti belajar hanya di dalam kelas,” imbuh Yassierli.
Khusus di Provinsi Sulawesi Tenggara, Kementerian Ketenagakerjaan mengalokasikan minimal 10 ribu kuota pelatihan vokasi gratis sepanjang tahun 2026 di BPVP Kendari. "Saya juga sudah sampaikan ke Gubernur Sultra, khusus untuk Sultra kita siapkan minimal 10 ribu kuota pelatihan hingga Desember 2026," kata Menteri Ketenagakerjaan Yassierli saat membawakan kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Kendari pada Rabu (5/8/2026). Fasilitas pelatihan tersebut akan menyambungkan kompetensi peserta secara langsung dengan kawasan industri setempat.
"Materi pelatihan akan terus kami perbarui dan nantinya disambungkan langsung dengan kebutuhan di kawasan-kawasan industri," ujarnya.
Program ini diperuntukkan bagi pencari kerja berusia minimal 17 tahun yang terdaftar di platform SIAPkerja, lengkap dengan sertifikasi BNSP dan bantuan fasilitas pendukung. "Program ini diprioritaskan bagi lulusan SMA/SMK sederajat dan masyarakat umum berusia minimal 17 tahun yang telah memiliki akun terdaftar pada platform SIAPkerja," sebut Yassierli. Terkait program magang, angkatan pertama yang telah lolos seleksi dijadwalkan mulai menerjunkan pesertanya langsung ke dunia industri pada pertengahan Agustus 2026.
"Untuk batch pertama sudah selesai dan pelaksanaan magang dimulai pada 10 Agustus 2026. Setelah itu, akan dibuka batch kedua sebanyak 50 ribu peserta dan batch ketiga 50 ribu peserta lagi," jelasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow