Kilas Balik Tragedi 11 September WTC dan Rekonstruksinya
Peringatan 25 tahun peristiwa 11 September 2001 menjadi momen mengenang kehancuran Menara Kembar World Trade Center (WTC) di New York, Amerika Serikat. Bencana akibat serangan yang disengaja tersebut menghancurkan dua gedung pencakar langit yang menjadi ikon ekonomi global pada masanya.
Dikutip dari Detikcom, empat pesawat yang terbang di wilayah timur Amerika Serikat dibajak oleh kelompok kecil pada pagi hari tanggal 11 September 2001. Dua di antaranya diarahkan langsung menuju kompleks WTC di Kota New York.
Pesawat Flight 11 menghantam lantai 93 hingga 99 Menara Utara pada pukul 08.46 waktu setempat. Sekitar 17 menit kemudian, Flight 175 menabrak lantai 77 hingga 85 Menara Selatan tepat pada pukul 09.03 pagi.
Ledakan bahan bakar jet memicu kebakaran hebat yang melemahkan struktur baja penyangga bangunan. Dalam rentang waktu kurang dari dua jam, kedua menara setinggi lebih dari 400 meter tersebut runtuh total dan merusak bangunan di sekitarnya.
Aksi penghantaman pesawat ke fasilitas WTC tersebut dilakukan pelaku untuk menyerang simbol kekuatan dan kemakmuran Amerika Serikat. Kompleks yang dirancang arsitek Minoru Yamasaki dan rampung pada 1973 itu pun rata dengan tanah.
Lahan bekas runtuhnya Menara Kembar kini dialihfungsikan menjadi monumen peringatan bernama Ground Zero yang selesai dibangun pada 2011. Kawasan ini dirancang oleh arsitek Michael Arad dan Peter Walker.
Monumen tersebut memiliki dua kolam air terjun buatan seluas masing-masing 4.000 meter persegi dengan kedalaman dinding sekitar 9 meter. Pada bagian pinggir kolam, terpasang 76 plat perunggu yang mengukir 2.977 nama korban tragedi WTC serta 6 korban pengeboman WTC tahun 1993.
Di bagian bawah tanah kompleks tersebut berdiri The National September 11 Memorial Museum seluas 10.219 meter persegi. Museum yang berada 21 meter di bawah permukaan tanah ini menyimpan berbagai artefak bersejarah sekaligus tempat persemayaman jenazah korban yang belum teridentifikasi.
Tantangan Rekonstruksi Kompleks WTC
Pembangunan ulang kawasan WTC diprakarsai oleh pemegang hak sewa jangka panjang, Silverstein Properties. Pemimpin perusahaan, Larry Silverstein, mengalokasikan dana rekonstruksi setelah melewati sengketa hukum selama lima tahun melawan lebih dari 20 perusahaan asuransi.
Silverstein sebelumnya membeli hak sewa kompleks WTC senilai US$ 3,2 miliar pada tahun 2001. Kemenangan klaim asuransi beserta dukungan Obligasi Kebebasan federal menjadi modal utama untuk membangun kembali One World Trade Center, 3 WTC, 4 WTC, dan 7 WTC.
Proses rekonstruksi sempat terhambat kendala birokrasi karena keterlibatan 19 lembaga pemerintah serta kepemilikan tanah oleh Otoritas Pelabuhan. Proyek gedung terakhir, yakni 2 WTC, dipastikan berjalan setelah American Express sepakat menjadi penyewa utama dengan target penyelesaian pada 2031.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow