Gedung World Trade Center Terbakar dan Runtuh dalam Serangan Teroris 11 September

Smallest Font
Largest Font

Serangan teroris pada 11 September 2001 mengguncang Amerika Serikat dengan menabraknya dua pesawat komersial ke gedung World Trade Center (WTC) di New York, menyebabkan kebakaran hebat dan runtuhnya gedung pencakar langit tersebut.

Dua pesawat, American Airlines Flight 11 dan United Airlines Flight 175, menabrak North Tower dan South Tower WTC pada pukul 08.46 dan 09.03 waktu setempat. Ledakan membawa bahan bakar pesawat ke dalam gedung sehingga api berkobar hebat.

Diperkirakan sekitar 200 orang melompat dari gedung untuk menghindari panas dan asap tebal, sebagian besar meninggal saat jatuh. South Tower runtuh pada pukul 09.59, diikuti North Tower pada 10.28, hanya dalam waktu kurang dari dua jam sejak benturan pertama.

Serangan itu menewaskan 2.606 orang di kedua menara, termasuk korban langsung dan yang terluka parah hingga meninggal kemudian, menurut BBC International.

Tragedi ini juga meninggalkan dampak luas di bidang politik dan militer, termasuk kebijakan keamanan dan perang di Afghanistan dan Irak yang melibatkan Amerika Serikat serta negara-negara sekutu.

Presiden Jerman saat itu, Johannes Rau, menyatakan, "Dunia telah berubah pada hari ini," menggarisbawahi dampak global dari serangan tersebut.

Pemimpin Jerman lainnya, Kanselir Gerhard Schrder, menyampaikan solidaritas tanpa batas kepada AS dan berjanji membantu dalam penyelidikan serta pengejaran pelaku, sebagaimana dilaporkan Kompas.id.

Jerman kemudian mengesahkan undang-undang antiteror yang memperketat keamanan dan pengawasan, serta ikut serta dalam perang di Afghanistan sejak Desember 2001 hingga 2021.

Kasus tahanan seperti Murat Kurnaz yang ditahan tanpa proses pengadilan di Guantanamo menjadi sorotan, dengan Menteri Luar Negeri saat itu Frank-Walter Steinmeier menyatakan keprihatinan atas perlakuan terhadap tahanan sambil menegaskan kewajiban menjaga keamanan negara.

Mengenai generasi muda AS, mantan Wali Kota New York, Michael Bloomberg, menyebut lebih dari 100 juta warga AS terlalu muda untuk mengingat langsung peristiwa itu. Dokumenter dan rekaman video di media sosial kini menjadi sumber utama pemahaman mereka, namun juga membuka ruang berkembangnya teori konspirasi yang beredar luas di platform digital, menurut CNN Indonesia.

James M. Lindsay dari Council on Foreign Relations menilai teori konspirasi 9/11 dapat mendelegitimasi pemerintahan dan mengalihkan perhatian dari pelaku sebenarnya, sehingga menjadi persoalan serius.

Rekaman siaran langsung serangan menunjukkan kondisi kacau dan ketidakpastian, yang sering disalahartikan dalam teori konspirasi. Media utama saat itu sengaja membatasi tayangan gambar yang sensitif, termasuk foto "Falling Man" yang memperlihatkan seseorang jatuh dari menara.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed