Konflik AS-Iran Tekan Aktivitas Bandara dan Properti Dubai

Smallest Font
Largest Font

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung sejak Februari 2026 telah berdampak besar pada Dubai, terutama pada sektor penerbangan, pariwisata, dan properti. Penurunan aktivitasi penerbangan dan penjualan properti mewah terjadi di tengah ketidakpastian situasi keamanan dan ekonomi kawasan Teluk Persia.

Bandara Internasional Dubai mencatat penurunan jumlah penumpang sebesar 31,3 persen pada semester pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan total penumpang sebanyak 31,5 juta orang, turun dari 46 juta pada 2025, menurut CNNIndonesia.

Jumlah pergerakan pesawat di bandara tersebut turun 32,1 persen secara tahunan, mencapai 150.600 penerbangan selama enam bulan pertama 2026, dengan kuartal kedua mencatat 62.500 pergerakan, seperti dilaporkan PDIPerjuangan Bali dan Detik Travel.

Paul Griffiths, CEO Bandara Dubai, mengatakan, "Peristiwa gangguan yang berlangsung selama dua bulan itu memang berdampak pada arus lalu lintas." Ia menambahkan, "Namun, tren saat ini secara keseluruhan positif." Griffiths juga berharap maskapai asing, khususnya dari Eropa, segera melanjutkan penerbangan ke Dubai.

Konflik yang membuat penutupan Selat Hormuz tetap berlanjut, meskipun Iran dan Oman menyepakati rute transit sementara, belum membuka akses penuh jalur air strategis tersebut. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menegaskan, "Kesepahaman antara Iran dan Oman tidak berarti dibukanya kembali Selat Hormuz." Pernyataan ini muncul di tengah ancaman serangan baru terhadap Iran oleh Presiden Trump.

Dampak konflik juga terasa di sektor properti Dubai, dengan penjualan apartemen residensial pada musim semi turun 31 persen dan penjualan properti mewah di atas 4 juta dolar AS merosot hingga 59 persen, menurut laporan dari agen properti Betterhomes yang dikutip oleh Media ABI.

Indeks properti Dubai di bursa saham turun sekitar sepertiga dari level sebelum konflik, memperlihatkan tekanan berat pada sektor yang menjadi penopang ekonomi emirat tersebut. Sementara sektor perhotelan juga mengalami penurunan tingkat hunian yang signifikan, dari sekitar 80 persen pada 2025 turun menjadi 56 persen pada paruh pertama 2026, menurut data Cavendish Maxwell.

Situasi ini juga memaksa perubahan agenda internasional, seperti pemindahan balapan Formula 1 Bahrain ke Malaysia dan pembatalan balapan di Arab Saudi, yang semakin menandai dampak berkelanjutan konflik pada perekonomian dan kegiatan global di kawasan Teluk Persia.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed