Kuala Lumpur hadapi tantangan modernisasi dan warisan sejarah

Smallest Font
Largest Font

Kuala Lumpur menghadapi dilema antara memodernisasi kota dan menjaga warisan sejarahnya, sementara tekanan sosial semakin meningkat akibat kebijakan pengembalian pengungsi Rohingya ke Myanmar.

Di tengah hiruk-pikuk perkembangan kota, Toko Emas Abdul Razak Gold House di Lebuh Ampang menyimpan selembar kwitansi kuning yang mengingatkan masa lalu. Kwitansi tersebut mencatat alamat lama: “63 Ampang Street, Kuala Lumpur (Malaya)”, sebelum jalan itu berganti nama.

Mohd Razalie Abdul Rasul, 37, penerus usaha keluarga ini, telah mengembangkan bisnisnya ke perdagangan logam mulia dan membeli properti tetangga untuk mempersiapkan generasi berikutnya.

"Ayah saya masih menjadi mentor, tetapi cara berpikir kami sangat berbeda," ujar Mohd Razalie. "Kami harus berpikir sangat modern. Kami harus selalu satu langkah lebih maju."

Perubahan ini mencerminkan pertanyaan besar yang dihadapi Kuala Lumpur: bagaimana menjaga akar sejarah sambil terus berkembang.

---

Sementara itu, isu pengungsi Rohingya menambah kompleksitas sosial. Dua tahun lalu, Muhiduzamal melarikan diri dari penganiayaan agama dan perang saudara di Myanmar, tiba di Malaysia setelah empat bulan perjalanan darat dan laut. Tanpa status pengungsi, ia dianggap tinggal secara ilegal dan ditahan pada Juni lalu.

Malaysia berencana mengembalikan sekitar 5.000 pengungsi tak berdokumen dari Myanmar, termasuk Rohingya, ke negara asal mereka. Keluarga dan kelompok hak asasi manusia khawatir mereka akan direkrut paksa oleh pemerintah militer Myanmar untuk berperang.

"Lebih baik bunuh kami di Malaysia daripada mengembalikan kami ke Myanmar," ujar Mohammad, 25, yang memiliki status pengungsi dan tinggal di Kuala Lumpur.

"Saudara saya akan dibunuh jika dikembalikan, karena junta Myanmar akan mengirimnya ke garis depan untuk bertempur."

Selama satu dekade terakhir, ratusan ribu orang dari Myanmar mencari suaka di Malaysia untuk melarikan diri dari pembersihan etnis dan rezim militer yang kejam. Ribuan di antaranya memiliki status pengungsi, namun tetap menghadapi diskriminasi yang semakin meningkat.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed