Laba Pupuk Indonesia Melonjak 253 Persen Menjadi Rp8,51 Triliun
PT Pupuk Indonesia (Persero) mengantongi laba bersih Rp8,51 triliun pada periode Januari hingga Juni 2026, melonjak 253 persen dari tahun sebelumnya. Capaian ini diraih di tengah langkah pemerintah menurunkan harga pupuk hingga 20 persen, seperti dilansir dari Detik Finance.
Lonjakan kinerja keuangan perusahaan BUMN ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan sebesar 51 persen menjadi Rp59,67 triliun. Selain itu, EBITDA Pupuk Indonesia juga tercatat melambung 140 persen hingga mencapai Rp14,28 triliun sepanjang semester I 2026.
Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan apresiasi atas lonjakan kinerja keuangan tersebut saat berpidato dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD RI pada Jumat (14/8/2026).
"Keuntungan PT Pupuk Indonesia, perusahaan negara BUMN, keuntungannya naik 252,8%," kata Prabowo.
Di samping peningkatan laba korporasi, Prabowo menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional melalui kebijakan penurunan harga produk pupuk bagi masyarakat.
"Harga pupuk berhasil kita turunkan 20%. Hal ini terjadi pertama kali dalam sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pertama kali harga pupuk dapat kita turunkan kepada rakyat," ujar Prabowo.
Pertumbuhan laba di tengah penurunan harga jual ditopang oleh transformasi bisnis, disiplin efisiensi biaya, serta optimalisasi aset. Perusahaan juga memperluas pasokan bahan baku dan memperkuat segmen non-subsidi guna mengantisipasi volatilitas harga komoditas global.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi menjelaskan bahwa penerapkan operational excellence dan cost leadership secara konsisten menjadi fondasi utama perusahaan untuk terus tumbuh secara berkelanjutan.
"Berkat dukungan pemerintah melalui Danantara transformasi bisnis secara menyeluruh sudah mulai membuahkan hasil berupa capaian kinerja keuangan yang membanggakan. Dengan fondasi keuangan yang semakin kuat, kami optimistis pertumbuhan ini berkelanjutan, bukan hanya untuk kinerja perusahaan, tapi juga untuk contribution yang lebih besar terhadap ketahanan pangan nasional," kata Rahmad.
Sebagai langkah strategis jangka panjang, Pupuk Indonesia berencana meremajakan tujuh pabrik dalam lima tahun ke depan untuk mengoptimalkan kapasitas produksi nasional yang saat ini mencapai 14,8 juta ton per tahun. Perusahaan juga bersiap merambah portofolio baru seperti metanol, clean ammonia, dan industrial support.
Dari sisi distribusi, penyaluran pupuk bersubsidi sepanjang 2025 tercatat mencapai 8.110.571 ton atau naik 10,68 persen. Sementara hingga 1 September 2026, sebanyak 6,33 juta ton pupuk bersubsidi telah disalurkan, setara 64,3 persen dari total alokasi pemerintah sebesar 9,8 juta ton.
"Sejalan dengan agenda transformasi BUMN yang didorong Danantara, semua perubahan struktural ini bermuara pada satu hal, pupuk yang terjangkau dan lebih cepat sampai ke petani, dengan cost yang lebih sehat bagi negara serta menjaga ketahanan pangan," kata Rahmad.
Rahmad menambahkan bahwa ketahanan bisnis jangka panjang diarahkan agar dampak pertumbuhan perusahaan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat bawah.
"Bagi kami, keberlanjutan laba bukan soal mengejar angka tertinggi tiap tahun, tapi memastikan fondasi yang cukup kuat untuk tetap tumbuh meski kondisi global berubah-ubah. Ketahanan bisnis kami bukan hanya soal bertahan dari gejolak industri, tapi juga soal memastikan pertumbuhan ini dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil dan petani di akar rumput," kata Rahmad.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow