Lanal Denpasar Periksa Prajurit TNI Pengawal Arya Wedakarna
Pangkalan TNI Angkatan Laut Denpasar memeriksa seorang prajurit TNI AL yang bertugas sebagai ajudan anggota DPD RI Arya Wedakarna pada Kamis (3/9/2026) setelah kehadirannya berseragam dinas harian dalam acara Miss Equality World 2026 di Bangkok, Thailand, memicu perhatian publik.
Penyelidikan mendalam saat ini tengah dilakukan oleh pihak Pangkalan TNI AL Denpasar untuk mengusut dugaan pelanggaran prosedur administratif maupun disiplin prajurit. Personel yang bersangkutan diketahui telah mendampingi legislator asal Bali tersebut selama satu tahun terakhir berdasarkan permohonan resmi.
Komandan Pangkalan TNI AL Denpasar Kolonel Laut (P) Ary Mahayasa mengonfirmasi bahwa penugasan prajurit tersebut berlandaskan dokumen perizinan yang sah sejak tahun sebelumnya.
"Untuk perizinan, sebatas pemahaman saya, itu sejak tahun lalu, memang sebagai ajudan dari anggota DPD tersebut," kata Ary.
Pihak pangkalan militer memastikan akan mengambil tindakan tegas dan menerapkan sanksi terukur apabila hasil pemeriksaan membuktikan adanya tindak pelanggaran oleh anggotanya.
"Untuk perizinan, sebatas pemahaman saya, itu sejak tahun lalu, memang sebagai ajudan dari anggota DPD tersebut," kata Ary.
Di sisi lain, Arya Wedakarna memberikan penegasan bahwa kedatangannya ke Thailand dilakukan dalam kapasitas sebagai Presiden Hindu Center of Indonesia dan tokoh kebudayaan Bali, bukan membawa mandat resmi lembaga DPD RI.
Undangan dari MS Organization yang diterima Arya di kediamannya di Jembrana pada Juni lalu menjadi awal dari agendanya menerima penghargaan serta peluncuran video promosi pariwisata Bali Barat.
"Jadi kronologisnya, pertengahan tahun ini ya, Juni ya. Itu, saya bertempat di istana saya di Jembrana. Mewakili pribadi ya dan juga sebagai tokoh budaya Hindu.
Kita menerima panitia, namanya MS Organization. Jadi mereka berjaringan di 15 negara dan mereka ini sudah sering mengadakan kegiatan charity di Bali. Kegiatan sosial, begitu.
Nah, jadi namanya tamu kan kita terima," kata Arya.
Rangkaian agenda kebudayaan selama tiga hari tersebut mencakup peninjauan tempat ibadah, forum diskusi, serta malam penyerahan apresiasi pada 30 Agustus 2026.
"Dan di sana rangkaian acaranya banyak. Jadi saya sempat keliling ke sana juga, ke Vihara Buddha, ada juga ke kuil-kuil Hindu. Kemudian ada juga, apa, pameran-pameran ya.
Macam-macam, acara diskusi. Nah, malam puncaknya itu kan ada penghargaan, salah satu kegiatannya adalah memberikan penghargaan kepada lima tokoh," kata Arya.
Penghargaan tersebut diberikan atas penilaian keberhasilan promosi destinasi wisata Bali yang digalang melalui materi audio visual.
"Nah,tim mereka itu juga membuat video tentang Bali, pariwisata Bali. Jadi yang di mana saya datang untuk mewakili Bali, karena menerima apa, video itu ya tentang pariwisata Bali yang dianggap berhasil. Ya udah itu aja. Tanpa pidato, menerima, ya sudah, selesai gitu aja, pamit, begitu," kata Arya.
Terkait latar belakang penyelenggara acara, Arya menyatakan tidak melakukan konfirmasi mengenai identitas gender demi menjaga etika sebagai tamu internasional.
"Nggak. Kan kita kan secara, saya nggak tahu. Yang kedua kan kita kan tidak etis dong nanya-nanya tentang gender, ya.
Kita kan tahu Thailand. Thailand kan di sana kan gendernya banyak. Nggak, nggak (perwakilan DPD) saya sebagai pribadi.
Makanya saya pakai baju adat Bali," kata Arya.
Mengenai pengawalan militer yang melekat, Arya menjelaskan bahwa keberadaan prajurit tersebut semata-mata untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan dan konflik wilayah di Thailand.
"Memang kita kan lihat di Thailand tuh kan lagi, lagi rawan ya. Kemarin masih ada perang, perang antara Thailand, Myanmar, Kamboja," kata Arya.
Langkah pengamanan ketat diperketat menyusul insiden kekerasan yang berisiko mengancam keselamatan fisik selama lawatan.
"Kemudian kemarin tuh ada, di sana kan sering ada ledakan bom dan juga ada penembakan. Jadi memang melekat aja, memang tugasnya mengawal saya, nggak ada hubungannya," kata Arya.
Pernyataan serupa ditegaskan kembali bahwa kehadirannya tidak melibatkan instansi dewan tempatnya bertugas.
"Saya yang kemarin acara di Thailand, saya datang mewakili lembaga Hindu. Jadi sebagai tokoh Bali dan tidak ada kaitannya sama jabatan saya di mana pun," kata Arya.
Masyarakat Bali dinilai selalu terbuka dalam menerima bentuk apresiasi positif dari pihak luar bagi kemajuan pariwisata daerah.
"Mereka sudah membuat video yang baik untuk promosi Bali mengenai alamnya, pantainya, dan saya menerima penghargaan atas nama tokoh budaya Bali. Maka dari itu, kami biasa di Bali memberikan dan menerima penghargaan dari kalangan mana pun. Namanya orang memberi penghargaan, kita hargai," kata Arya.
Fokus utama kehadiran dalam acara tersebut ditujukan sepenuhnya untuk mendukung promosi sektor pariwisata Bali.
"Ada namanya etika, seperti itu. Jadi buat kami, kami mewakili masyarakat Bali yang bekerja di pariwisata. Kita hormati tuan rumah, enggak mungkin kita komentari seperti itu. Jadi saya hadir untuk promosi video wisata Bali," kata Arya.
Tugas pengawalan personil militer ditegaskan murni untuk aspek keselamatan personal selama berada di area rawan.
"Jadi mengamankan. Kita tahu Thailand itu suatu wilayah yang agak rawan konflik. Kita tahu bahwa kemarin ada penembakan siswa, tentang bullying, dan kita tahu bahwa Thailand dengan Kamboja juga sedang ada konflik. Jadi melekat kepada kami seperti itu dan bertugas dengan baik saja, untuk mengamankan saja tidak ada masalah," kata Arya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow