Madison Huang Putri CEO Nvidia Hadiri Konferensi AI Beijing

Smallest Font
Largest Font

Putri tertua dari CEO Nvidia Jensen Huang yaitu Madison Huang semakin menarik perhatian publik. Sosoknya mendadak disorot lantaran kerap terlihat mendampingi sang ayah dalam berbagai agenda penting, dilansir dari Detik iNET.

Madison Huang yang saat ini berusia 36 tahun memegang posisi sebagai Direktur Senior Nvidia. Ia dilaporkan hadir dalam ajang Konferensi Robot Sedunia 2026 yang berlangsung di Beijing baru-baru ini.

Sebelum menghadiri acara tersebut, Madison sempat mendatangi Pabrik Data di kampus R&D milik LG Electronics di Seoul. Dalam kunjungan itu, ia menggelar pertemuan tertutup bersama jajaran eksekutif LG Electronics untuk membahas kolaborasi sektor kecerdasan buatan fisik dan robotika.

Kehadirannya di ruang publik yang semakin intens memunculkan dugaan dari sejumlah pihak. Jensen Huang diperkirakan tengah menyiapkan sang putri untuk menjadi penerus kepemimpinan di perusahaan teknologi berkapitalisasi raksasa tersebut.

Perjalanan karier Madison Huang terbilang cukup unik sebelum terjun ke industri teknologi. Ia merupakan lulusan U.S. School of Culinary Arts dan mengantongi lisensi tata boga dari Le Cordon Bleu Paris pada tahun 2013.

Madison kemudian menyelesaikan pendidikan manajemen anggur serta perhotelan di London pada rentang 2014 hingga 2015. Pengalaman kerjanya berlanjut di LVMH Paris sebagai manajer pemasaran dan pengembangan selama empat tahun.

Setelah mengambil kursus AI di MIT Sloan School of Business pada 2019, Madison bergabung ke Nvidia sebagai pemagang pemasaran pada 2020. Kariernya melesat cepat hingga dipercaya menjabat sebagai direktur senior.

Langkah serupa juga diambil oleh saudara laki-lakinya Spencer Huang yang mulai bergabung di Nvidia pada 2022. Sebelum masuk ke Nvidia, Spencer sempat berkarier di industri kuliner dengan mengelola sebuah bar koktail di Taiwan.

Dalam kesempatan berbicara di Seoul National University, Madison membagikan pandangannya mengenai peran kecerdasan buatan bagi generasi muda.

"Kecerdasan buatan (AI) adalah pengubah permainan di era ini dan rekan yang akan membantu Anda memikirkan matang-matang apa yang Anda ciptakan," kata Madison.

Ia mengimbau publik untuk tidak takut dan justru aktif memanfaatkan teknologi tersebut dalam pekerjaan sehari-hari.

"Jangan takut, naiklah ke roket AI. Banyak yang takut kehilangan pekerjaan karena AI, tapi tugas-tugas yang akan digantikan oleh AI hanyalah tugas berulang yang kita lakukan sebelumnya, AI tidak dapat menghilangkan profesi itu sendiri," tuturnya.

Menurutnya, AI tidak akan bisa menggantikan inti dari profesi teknik dalam menyelesaikan masalah nyata meski mampu melakukan tugas pengodean sederhana. Madison menekankan pentingnya keluar dari zona nyaman untuk meraih pertumbuhan diri.

"Sekolah adalah ruang paling aman dalam hidup untuk bereksperimen. Pergilah tinggal di luar negeri, bekerjalah di perusahaan yang membuat Anda merasa kecil, dan temuilah orang-orang dengan pengalaman yang sama sekali berbeda. Pengalaman yang terasa mengintimidasi justru menghasilkan pertumbuhan terbesar," sebutnya.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed