Makam Kiai Modjo di Tondano Jadi Destinasi Religi Sejarah dan Budaya
Makam Kiai Modjo yang terletak di atas Bukit Tondata, Desa Wulauan, Kecamatan Tondano Utara menjadi destinasi wisata religi penting di Sulawesi Utara. Tempat ini tidak hanya menyimpan nilai sejarah, tetapi juga menjadi simbol kerukunan dan perpaduan budaya Jawa dan Minahasa.
Untuk mencapai lokasi makam, pengunjung dari pusat Kota Manado dapat menempuh perjalanan sekitar 1 jam 16 menit melalui Jalan Raya Manado-Tomohon. Kompleks makam berada sekitar empat kilometer dari pusat Kota Tondano.
Kiai Modjo dikenal sebagai jenderal sekaligus guru spiritual Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa yang berlangsung antara 1825 hingga 1830. Dia menjadi salah satu pengatur strategi militer melawan penjajahan Belanda. Setelah perang, Kiai Modjo diasingkan ke Tondano dan meninggal pada 20 Desember 1849.
Selain makam utama Kiai Modjo, kompleks ini juga dikelilingi makam para pengikut setianya yang turut diasingkan bersamanya. Di Tondano, Kiai Modjo turut menyebarkan ajaran Islam, yang kini menjadikan kawasan tersebut dikenal dengan nama Kampung Jawa Tondano atau Jaton.
Arsitektur makam yang mengusung gaya Jawa berpadu dengan pemandangan perbukitan Minahasa menciptakan suasana unik dan khidmat. Tempat ini juga menjadi simbol akulturasi budaya antara masyarakat Jawa dan Minahasa yang berdampingan secara harmonis.
Pengelolaan makam dilakukan oleh juru pelihara yang ditunjuk oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara. Makam Kiai Modjo terbuka untuk kunjungan setiap hari, menawarkan pengalaman religius sekaligus edukasi sejarah bagi traveler yang datang ke Manado dan sekitarnya.
Informasi ini dikutip dari Detik Travel yang menyoroti nilai sejarah dan budaya yang melekat pada makam Kiai Modjo sebagai destinasi wisata religi di Tondano, Sulawesi Utara.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow