Maybank Indonesia Nilai BI Rate Tidak Perlu Naik

Smallest Font
Largest Font

Global Market Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai Bank Indonesia tidak perlu menaikkan suku bunga acuan meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus merosot hingga menyentuh level Rp17.733 per dolar AS pada Selasa (19/5/2026) pukul 13:54 WIB.

Pelemahan mata uang Garuda tersebut terjadi tepat sehari sebelum otoritas moneter mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Kendati Bank Indonesia telah melakukan intervensi pasar secara maksimal, kenaikan suku bunga acuan dinilai justru akan memberikan dampak negatif bagi sektor riil.

"Karena BI rate naik, praktis suku bunga yang lainnya pun juga ikut naik. Itu semakin membebani real sector, yang sekarang banyak yang terpukul akibat posisi valas dolar yang nilainya mahal, dan juga biaya untuk ekspansi bisnis jadi lebih mahal juga," kata Myrdal saat dihubungi Bloomberg Technoz, Selasa (19/5/2026).

Menurut analisis Maybank Indonesia, kemerosotan nilai tukar ini dipicu oleh tekanan global yang masif serta terjadinya aliran modal keluar. Selain itu, faktor musiman seperti remitansi dividen dan musim haji turut meningkatkan permintaan terhadap mata uang greenback di dalam negeri.

"Faktor musimannya bisa berupa transfer dividen, keluar, ataupun juga haji ya. Nah, kalau kondisinya begitu, sebenarnya untuk nilai tukar rupiah bisa lebih kuat lagi asalkan ekspor itu bisa dimaksimalkan konversinya. Jadi, jangan sampai eksportir itu menahan untuk konversi valas ke rupiah. Plus ditambah juga adanya langkah intervensi moneter yang agresif dilakukan oleh BI," kata Myrdal.

Kapasitas cadangan devisa Indonesia yang mencapai US$146,1 miliar pada April menjadi modal kuat bagi Bank Indonesia. Oleh karena itu, otoritas moneter dinilai memiliki landasan yang cukup aman untuk mempertahankan BI Rate pada pertemuan bulan ini.

Sektor ekspor nasional, khususnya yang berbasis manufaktur dan hilirisasi, serta sektor pariwisata dipandang masih memiliki peluang besar untuk menambah pasokan valuta asing di dalam negeri. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik, surplus perdagangan Indonesia bahkan mengalami pelebaran akibat penurunan aktivitas ekspansi impor saat dolar AS menguat.

"Sehingga suplai valas di dalam negeri juga bisa bertambah dan rupiah kita juga bisa terdorong lebih kuat," kata Myrdal.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang rupiah saat ini murni bukan bersumber dari aktivitas sektor riil maupun kinerja ekspor-impor nasional. Langkah intervensi moneter yang agresif dari Bank Indonesia diharapkan dapat membendung potensi aliran modal keluar di pasar keuangan.

"Jadi ekspansi mereka menurun, sehingga ekspor dengan impor gapnya itu semakin lebar dengan ekspor yang mencatat surplus yang lebih besar. Nah, dengan kondisi seperti sekarang, tekanan yang terjadi di rupiah itu pure bukan dari real sector atau bukan dari aktivitas ekspor-impor," kata Myrdal.

Melalui kapasitas cadangan devisa yang memadai, potensi pelemahan lebih lanjut akibat sentimen pasar keuangan diperkirakan dapat diantisipasi dengan baik. Peluang penguatan nilai tukar rupiah dinilai akan semakin terbuka lebar ke depan.

"Karena kalau untuk potensi outflow di pasar keuangan, saya rasa itu terbatas ya. Dan BI punya kapasitas untuk membendung itu," kata Myrdal.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed