Nepal Makamkan Massal Korban Banjir Bandang dan Terima Bantuan Internasional

Smallest Font
Largest Font

Ratusan jenazah korban banjir bandang yang belum teridentifikasi dimakamkan secara massal di Distrik Chitwan, Nepal, pada 31 Agustus 2026, sebagai bagian dari upaya penanganan dampak bencana yang terjadi sejak 26 Agustus lalu.

Lokasi pemakaman khusus berada di hutan Devghat dengan setiap makam dicatat dan diberi penanda. Sampel DNA jenazah juga dikumpulkan untuk identifikasi lebih lanjut, sementara tim penyelamat terus mencari korban hilang.

Perdana Menteri Nepal Balendra Shah menyatakan pemerintah memprioritaskan bantuan dan rehabilitasi bagi warga terdampak agar kembali menjalani kehidupan normal setelah lebih dari 1.000 orang meninggal dan ribuan lainnya hilang akibat banjir bandang.

"Ribuan warga telah kehilangan rumah, keluarga, orang-orang terkasih, dan harta benda mereka," ujar Balendra Shah melalui media sosial, seperti dilansir CNBC Indonesia.

Upaya penyelamatan masih berfokus pada proyek pembangkit listrik tenaga air yang rusak parah, dengan 279 pekerja berhasil diselamatkan dari lokasi berbahaya.

Pejabat kepolisian Bipin Regmi mengungkapkan tim pencari terus menjangkau wilayah baru dan sudah mengevakuasi puluhan jenazah dari daerah terdampak.

"Kami terus menjangkau wilayah-wilayah baru dan mengevakuasi jenazah," kata Bipin Regmi kepada Reuters.

Dalam menghadapi bencana ini, bantuan internasional mengalir dengan lebih dari US$42 juta atau sekitar Rp743,4 miliar dikirimkan ke Nepal. India dan China turut membantu dengan operasi penyelamatan dan pembangunan jembatan guna membuka akses ke wilayah terpencil.

Para ilmuwan memperkirakan bencana ini dipicu oleh runtuhnya struktur batuan di bawah gletser di Himalaya yang memicu aliran batu, es, dan air lelehan ke lembah, memperparah banjir di hilir.

Andrew Mackintosh, glasiolog dari Monash University, Australia, menjelaskan bahwa keruntuhan gletser menyebabkan air dan sedimen bercampur membentuk aliran besar yang menghantam wilayah di bawah lereng gunung.

"Ketika gletser sebesar itu runtuh, tercipta air dalam jumlah besar, lalu terjadi rangkaian peristiwa beruntun... di mana air dan sedimen bercampur, bertambah volumenya, dan memicu banjir," ujar Mackintosh.

Selain menghilangnya es gletser yang drastis di Himalaya akibat pemanasan global, perubahan suhu juga melemahkan permafrost yang berfungsi sebagai "lem" menahan batuan dan gletser, sehingga meningkatkan risiko longsor dan bencana.

Ancaman banjir akibat jebolnya danau glasial juga menjadi perhatian, dengan Nepal memiliki lebih dari 2.000 danau glasial dan puluhan di antaranya berpotensi berbahaya.

Adrian McCallum dari University of the Sunshine Coast, Australia, menyatakan bahwa perubahan iklim menyebabkan gletser menyusut dan air terperangkap di danau glasial yang bisa jebol kapan saja.

"Akibat iklim yang menghangat, gletser menyusut, es berubah menjadi air, dan air itu pun terperangkap," ujar Adrian McCallum.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed