Pakar UMY Sebut Aktivitas Manusia Picu Kebakaran Hutan Kalimantan 2026
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan pada 2026 dinilai bukan semata disebabkan fenomena El Niño, melainkan aktivitas manusia. Hal ini disoroti oleh Pakar Kebijakan Lingkungan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rijal Ramdani, MPA, PhD, dilansir dari Detikcom.
Menurut Rijal, sistem peringatan karhutla yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memang memetakan kondisi cuaca yang mendukung terjadinya kebakaran jika ada sumber api. Namun, kondisi meteorologis hanya meningkatkan kerentanan, sementara kebakaran tetap memerlukan penyulut untuk dimulai.
Sumber api dalam banyak kasus karhutla, kata Rijal, justru berkaitan erat dengan aktivitas manusia. Salah satu praktik yang sering ditemui adalah pembukaan lahan untuk bercocok tanam dengan metode pembakaran. “Kalau tidak ada El Niño, praktik membakar untuk bercocok tanam bisa dikendalikan. Tetapi, karena kondisi kering dan angin kencang, api menjadi sulit dikendalikan,” ujarnya.
BMKG sendiri telah memperingatkan sejak April 2026 bahwa periode kritis karhutla diperkirakan berlangsung dari Mei hingga September. Risiko kebakaran diprediksi meningkat pada Agustus hingga September, seiring meluasnya wilayah dengan curah hujan di bawah normal.
---
El Niño Perpanjang Musim Kemarau, Tapi Bukan Pemicu Langsung
Stasiun Klimatologi NTB BMKG menjelaskan, El Niño adalah fenomena iklim yang ditandai dengan peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian timur dan tengah. Kondisi ini memicu pergeseran awan konveksi ke Pasifik Timur, sehingga curah hujan di Indonesia berkurang drastis.
Akibatnya, musim kemarau menjadi lebih kering dan panjang, yang pada gilirannya meningkatkan risiko kebakaran hutan. Pada akhir Agustus 2026, BMKG mencatat El Niño kategori sangat kuat masih menjadi salah satu faktor utama yang mendukung kondisi kering di sebagian besar wilayah Indonesia.
Rijal menambahkan, El Niño berkontribusi terhadap berkurangnya curah hujan dan memperpanjang kondisi kering. Akibatnya, vegetasi dan lahan gambut kehilangan kelembapan, sehingga semakin mudah terbakar. “Musim kemarau bisa menjadi lebih panjang karena El Niño. Akibatnya, ketersediaan ilalang dan hutan yang kering menjadi rentan untuk terbakar,” jelasnya.
Namun, ia menekankan, El Niño pada dasarnya hanya menciptakan kondisi lingkungan yang semakin kering dan mudah terbakar. Fenomena ini bukan sumber api yang secara langsung menyebabkan kebakaran.
---
Sumber Api Karhutla dan Risiko Lahan Gambut
Rijal mengidentifikasi sejumlah potensi sumber api karhutla, antara lain pembukaan lahan, pencarian madu hutan dengan asap untuk mengusir lebah, aktivitas di kawasan hutan yang meninggalkan api tanpa dipadamkan sepenuhnya, serta kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan, terutama di kawasan gambut yang telah mengering.
Lahan gambut, kata Rijal, memiliki karakteristik yang memperbesar risiko karhutla. Gambut yang kehilangan kelembapan dapat menjadi bahan bakar yang mudah terbakar. Bahkan, api bisa merambat hingga ke bawah permukaan gambut, sehingga proses pemadaman menjadi jauh lebih sulit. “Serbuk-serbuk kecil dari gambut yang kering juga bisa terbakar,” tuturnya.
---
Langkah Pencegahan yang Menyasar Sumber Api
Untuk mencegah karhutla, Rijal merekomendasikan sejumlah langkah yang menyasar sumber api, antara lain:
Edukasi masyarakat mengenai risiko pembakaran lahan, penggunaan api di kawasan hutan dan gambut, serta pembuangan puntung rokok.
Patroli secara rutin di wilayah rawan.
Deteksi dini untuk mendeteksi hotspot sedini mungkin.
Pembasahan gambut untuk mengurangi risiko kebakaran.
Pemantauan kondisi cuaca secara berkala.
---
Karhutla Bukan Bencana Alam Murni
Rijal menuturkan, berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup, sebagian besar kebakaran hutan dan lahan bukan merupakan bencana alam murni. Penyebabnya banyak berkaitan dengan aktivitas manusia, baik disengaja maupun karena kelalaian. Hal ini juga disampaikan oleh Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (PPLH) Jawa KemenLH, Eduward Hutapea, SSi, M.H.
Eduward menekankan, karhutla pada dasarnya merupakan bencana yang dapat dicegah dan dikendalikan. Jika kebakaran terus berulang, persoalan utamanya bukan terletak pada kemampuan memadamkan api, melainkan pada belum optimalnya sistem pencegahan dan mitigasi.
Menurut Eduward, karhutla bukanlah kejadian insidental, melainkan risiko berulang yang harus dikelola secara sistematis, berkelanjutan, dan berbasis mitigasi. Data Sistem Pemantauan Karhutla KLHK, yang juga dikutip dalam Global Assessment Report (GAR) 2024 UNDRR, menunjukkan luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia pada 2023 mencapai sekitar 1,16 juta hektare. Angka ini turun pada 2024 menjadi sekitar 376.805 hektare, tetapi titik-titik panas tetap bermunculan di wilayah rawan.
---
Butuh Kolaborasi dan Penegakan Hukum
Eduward menilai, karhutla bukan hanya soal sektor lingkungan hidup atau kehutanan, tetapi juga melibatkan tata ruang, pertanian, perkebunan, penegakan hukum, pemerintahan daerah, hingga pemberdayaan masyarakat. Kolaborasi pemerintah dengan dunia usaha, akademisi, dan masyarakat, kata dia, harus dimulai sejak tahap pencegahan.
Ia juga menekankan perlunya pengawasan wilayah rawan sebelum masuk musim kemarau, yang saat ini dinilai masih lemah. Langkah ini diperlukan mengingat data hotspot dan riwayat kebakaran selama bertahun-tahun menunjukkan lokasi-lokasi yang berulang kali terbakar dari tahun ke tahun.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow