Panlok Muktamar NU Jombang Bantah Info Resmi Penjemputan Muktamirin
Panitia Lokal (Panlok) Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) menegaskan bahwa poster mengenai pelayanan dan penjemputan muktamirin di Jombang, Jawa Timur, yang beredar pada Sabtu, 22 Agustus 2026, bukanlah informasi resmi organisasi.
Poster bertajuk Hasil Rapat Koordinasi Hari Ini tersebut memuat rincian teknis pelayanan peserta di Bandara Juanda, Stasiun Gubeng, hingga Stasiun Pasar Turi. Ketua Panlok Muktamar ke-35 NU KH Abdurrazaq Sholeh meluruskan kekeliruan informasi tersebut pada Senin, 24 Agustus 2026.
"Panlok sama sekali belum mempublikasikan tim yang akan menjemput muktamirin di bandara maupun di stasiun. Jadi, poster yang beredar itu bukan publikasi resmi Panlok," kata KH Abdurrazaq Sholeh.
KH Abdurrazaq Sholeh menjelaskan bahwa teknis pelayanan masih terus dipatangkan agar tidak menimbulkan kebingungan saat pelaksanaan Muktamar pada 27–31 Agustus 2026.
"Kalau ada informasi resmi, tentu akan disampaikan melalui jalur Panlok. Jangan sampai informasi yang belum resmi justru membuat bingung teman-teman di lapangan," kata KH Abdurrazaq Sholeh.
Persiapan pengamanan lalu lintas juga terus ditingkatkan oleh Korps Lalu Lintas Polri guna mengantisipasi lonjakan mobilitas masyarakat selama rangkaian acara di Jawa Timur.
"Tanggal 27, 28, sampai dengan 31 Agustus, ini ada Muktamar NU di Jombang. Ini seluruh ulama akan berkumpul di Jawa Timur dan ini menjadi atensi kita bersama terkait dengan Kamseltibcarlantas," kata Dirgakkum Korlantas Polri Brigjen Pol. I Made Agus Prasatya.
Brigjen Pol. I Made Agus Prasatya mengingatkan jajarannya untuk menjaga soliditas serta membendung potensi perpecahan informasi di media sosial.
"Selalu menjaga kekompakan. Saat ini sangat masif sekali upaya-upaya untuk memecah belah, baik di media sosial. Oleh sebab itu, lalu lintas seluruh Indonesia harus kompak," kata Brigjen Pol. I Made Agus Prasatya.
Penguatan profesionalisme personel kepolisian menjadi poin utama dalam mendukung ketertiban di area pelaksanaan kegiatan keagamaan tersebut.
"Kerjakan tugas pokok masing-masing dengan baik, dilengkapi dengan skill, knowledge, dan diimbangi oleh attitude," kata Brigjen Pol. I Made Agus Prasatya.
Di sisi lain, jajaran pengurus pusat dan pengamat menilai agenda Muktamar ini harus menjadi wadah gagasan serta pemersatu seluruh warga Nahdliyin.
"Saya melihat bursa calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 NU sebagai sesuatu yang sangat positif. Ini menunjukkan bahwa NU sedang mengalami proses regenerasi dan kontestasi gagasan yang nyata," kata Direktur Eksekutif Jaringan Muslim Madani Syukron Jamal.
Syukron Jamal menambahkan bahwa kepemimpinan masa depan NU harus berfokus pada tantangan keumatan dan menjaga marwah jam'iyyah secara utuh.
"Yang jauh lebih penting adalah NU membutuhkan kepemimpinan seperti apa untuk memasuki fase berikutnya. Apalagi Muktamar ke-35 mengusung tema 'Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa'," kata Syukron Jamal.
Sikap senada disampaikan oleh pihak internal PBNU yang mengimbau agar seluruh elemen menjaga kesejukan dan menghindari narasi yang merusak persaudaraan.
"Jangan membuat warga NU resah dengan membangun opini yang menjatuhkan, menyebarkan fitnah, apalagi menggunakan cara-cara yang tidak beradab. Perbedaan pandangan dalam organisasi adalah hal yang biasa, tetapi adab dan akhlak tidak boleh ditinggalkan," kata Wakil Sekretaris Jenderal PBNU KH Ma’shum Faqih.
KH Ma’shum Faqih menekankan pentingnya niat pengabdian dalam menjalankan roda organisasi keagamaan.
"Kita ini tidak sedang berebut posisi atau jabatan politis. Kita sedang berkhidmah untuk umat. Kalau niat kita benar-benar khidmah, maka tidak perlu saling menjatuhkan, apalagi mengorbankan persaudaraan hanya karena berbeda pilihan atau pandangan," kata KH Ma’shum Faqih.
Imbauan untuk menjaga etika dan moralitas terus disuarakan agar persatuan antarwarga Nahdliyin tetap kokoh selama proses muktamar.
"Silakan berbeda pendapat. Silakan mempunyai pilihan. Tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita kehilangan adab. Jangan karena Muktamar, sesama warga NU kemudian saling mencaci, memfitnah dan menjatuhkan kehormatan satu sama lain," kata KH Ma’shum Faqih.
Menutup keterangannya, KH Ma’shum Faqih mengingatkan seluruh pihak agar mengedepankan kebijaksanaan demi menjaga marwah organisasi.
"Mari kita jaga persatuan. Tetap beradab dan berakhlakul karimah. Jangan mudah terprovokasi, jangan menyebarkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya, dan jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan saudara sendiri," kata KH Ma’shum Faqih.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow