PBB Melaporkan Angka Kelaparan Global Penurunan pada 2025
Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan tingkat kelaparan global kembali menurun pada 2025 dengan perkiraan 645 juta orang atau 7,8 persen populasi dunia mengalami kelaparan, meski laju perbaikan ini dinilai belum cukup untuk mencapai target Nol Kelaparan pada 2030.
Laporan The State of Food Security and Nutrition in the World (SOFI) 2026 yang dirilis FAO, IFAD, UNICEF, WFP, dan WHO mencatat angka kelaparan tersebut berkurang 14 juta orang dari 2024. Kendati demikian, Afrika kini menjadi wilayah dengan jumlah penduduk lapar terbanyak yakni 309 juta orang, melampaui Asia yang mencatatkan 292 juta orang.
Selain masalah kelaparan, sekitar 2,1 miliar penduduk dunia atau 25,8 persen populasi global masih mengalami kerawanan pangan tingkat sedang hingga berat pada 2025. PBB memperingatkan konflik geopolitik yang meningkat, cuaca ekstrem, serta penurunan dana kemanusiaan dapat memicu 510 juta hingga 520 juta orang tetap memikul dampak kelaparan pada 2030.
Masalah gizi juga masih memprihatinkan dengan 150 juta balita mengalami stunting dan prevalensi obesitas dewasa naik menjadi 16,2 persen pada 2024. Rata-rata biaya harian untuk pola makan sehat secara global pun melonjak menjadi 4,28 dolar PPP per orang pada 2025, di mana kawasan Afrika mencatat 66,6 persen penduduknya tidak mampu membeli makanan bergizi.
Direktur Jenderal FAO Qu Dongyu menegaskan bahwa penurunan angka kelaparan membuktikan adanya peluang kemajuan apabila ada komitmen nyata.
"Mengakhiri kelaparan dan membuat makanan sehat terjangkau membutuhkan komitmen politik, investasi berkelanjutan, dan kebijakan yang mendukung," ujar Qu Dongyu, Direktur Jenderal FAO.
Laporan PBB tersebut juga menggarisbawahi perlunya aksi nyata bersama untuk membenahi harga dan keterjangkauan akses pangan bagi masyarakat dunia.
"Tugas kita menuju tahun 2030 memang sangat berat. Namun, menciptakan dunia di mana makanan sehat tidak lagi sulit dijangkau oleh satu dari tiga orang adalah hal yang sangat berharga untuk diperjuangkan," tulis laporan tersebut.
Langkah penguatan rantai pasokan dan pasar di wilayah pedesaan dinilai menjadi kunci utama dalam mengatasi masalah tingginya biaya pangan bergizi ini.
"Laporan SOFI menunjukkan bahwa harga makanan sehat terus naik dan hampir 2,7 miliar orang masih belum mampu membelinya. Rantai pasok makanan yang kuat harus menjadi jawaban utamanya. Tugas kita sekarang adalah mengubah data laporan ini menjadi investasi nyata, tentunya melalui kerja sama. Bersama-sama, kita bisa membangun rantai pasok, sistem pasar, dan perekonomian desa yang membuat makanan sehat terjangkau bagi semua orang," ungkap Alvaro Lario, Presiden IFAD.
Di sisi lain, pemenuhan nutrisi dan perlindungan sosial bagi kelompok anak-anak serta perempuan rentan perlu disinergikan secara lintas sektor.
"Setiap anak berhak mendapat kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara maksimal, dan hal itu dimulai dari kemudahan mendapatkan makanan bergizi yang terjangkau. Laporan ini menjadi peringatan keras bahwa sistem pangan kita masih gagal memenuhi kebutuhan jutaan anak dan keluarga. Sektor pangan, kesehatan, pendidikan, dan perlindungan sosial harus berjalan berdampingan untuk melindungi anak-anak dan perempuan yang paling rentan dari krisis global," kata Catherine Russell, Direktur Eksekutif UNICEF.
Sekitar 70 hingga 75 persen dari total harga akhir makanan yang dibayar oleh konsumen global saat ini disumbang oleh aktivitas pascapanen, termasuk biaya pengolahan, logistik, dan distribusi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow