Pelatih Masa Kecil Ungkap Bakat Awal Arthur Fery di Wimbledon

Smallest Font
Largest Font

Mantan pelatih dan anggota klub tenis masa kecil Arthur Fery mengungkapkan tanda-tanda awal kehebatan sang petenis lokal menjelang laga perempat final tunggal putra Wimbledon pada Rabu waktu setempat.

Petenis wildcard berusia 23 tahun tersebut mencatat lonjakan performa signifikan sepanjang pekan ini hingga berhasil melaju ke babak delapan besar di SW19. Di luar All England Club, orang-orang di klub tenis pertama Fery, Westside Lawn Tennis Club, mengaku sudah lama terpukau oleh aksi sang atlet di lapangan.

Fakta tersebut diungkapkan oleh Patrick Gibbs, seorang anggota Westside Lawn Tennis Club selama 15 tahun, yang pernah bertanding dengan Fery saat sang petenis masih sangat muda.

"I played him on an informal basis when he was I think 7 or 8," kata Patrick Gibbs.

Pertandingan informal yang berlangsung satu set tersebut berakhir dengan kemenangan mutlak bagi Fery tanpa memberikan gim satu pun kepada lawannya.

"It was just one set, 6-0. I didn’t get a game off him," ujar Patrick Gibbs.

Keberhasilan Fery di masa kecil membuat seluruh anggota klub menyadari kemampuan istimewa yang dimilikinya sejak dini.

"Everybody in the club knew he was special. I think people would’ve been maybe surprised that he got to this level that he is now, but everybody knew he was a phenomenon," ucap Patrick Gibbs.

Meskipun memiliki kemampuan di atas rata-rata, Fery dikenal tetap memiliki kepribadian yang baik dan ramah.

"He had extraordinary confidence for a boy that age, it was never arrogance. He was always a really, really lovely boy," tambah Patrick Gibbs.

Fery terus menunjukkan dominasinya dengan memenangkan kejuaraan pria tahunan di klub tersebut pada tahun 2017 saat masih berstatus pelajar sekolah. Tinus Nortje, salah satu pelatih pertama Fery, menilai determinasi kuat sang petenis sudah terlihat jelas sejak masa mudanya.

"I think the fourth round said it all really, " kata Tinus Nortje.

Determinasi itu kembali terbukti saat Fery berjuang keras membalikkan keadaan dalam laga sengit di babak keempat.

"He wasn’t going to let himself down and not fight, you could see that from an early age," tutur Tinus Nortje.

Menurut pelatih asal Cape Town tersebut, Fery selalu menunjukkan hasrat tinggi untuk berkembang dalam setiap kesempatan bermain tenis.

"He was always keen to progress, always keen to play, have fun, had great passion for the sport," jelas Tinus Nortje.

Perjalanan Fery menuju perempat final diwarnai aksi comeback impresif, termasuk saat mengalahkan mantan petenis nomor tiga dunia, Grigor Dimitrov. Kecepatan eksplosif, pertahanan gigih, dan pukulan backhand bertenaga menjadi kunci utama kesuksesannya yang diakui oleh Caroline Joy, warga yang sering menonton Fery muda.

"He was very quick and an amazing backhand, you could see that from a young age," ujar Caroline Joy.

Caroline Joy juga menambahkan bahwa gaya bermain Fery sangat dipengaruhi oleh latar belakang ibunya, Olivia Fery, yang merupakan mantan petenis profesional.

"You can see his mother’s influence on his game," kata Caroline Joy.

Selain pengaruh sang ibu yang namanya tercatat sembilan kali di papan juara klub Westside, Fery disokong oleh ayahnya, Loic Fery, seorang pengusaha dan ketua klub sepak bola Prancis, Lorient. Fery sempat menempuh pendidikan di King’s College School dan meraih beasiswa ke Stanford University.

Mantan petenis nomor satu Inggris, Johanna Konta, turut memberikan pandangannya mengenai peluang Fery yang memiliki tinggi badan 175 cm dalam mengatasi keterbatasan fisiknya melalui ledakan performa di lapangan.

"Of course, I believe he can win that match," cetus Johanna Konta.

Konta meyakini bahwa kehadiran Fery di fase krusial ini membuktikan kelayakannya untuk bersaing memperebutkan tiket semifinal.

"Of course, he's here for a reason," pungkas Johanna Konta.

Fery dijadwalkan menghadapi petenis unggulan kesembilan asal Italia, Flavio Cobolli, di Centre Court untuk memperebutkan satu tempat di babak semifinal.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed