Pemerintah Berusaha Stabilisasi Pasar Finansial Usai IHSG Rupiah Melemah
Pasar keuangan domestik mengalami tekanan besar pada perdagangan Senin (18/5/2026) setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok hingga lebih dari 4 persen dan nilai tukar rupiah merosot mendekati level Rp17.700 per dolar AS akibat sentimen negatif global.
Data dari Katadata mencatat IHSG ambruk 4,18 persen ke level 6.442 pada pukul 10.29 WIB, dengan nilai transaksi mencapai Rp8,72 triliun dari perdagangan 16,21 miliar saham. Kejatuhan ini membuat kapitalisasi pasar saham Indonesia menyusut sebesar Rp5,278 triliun dari posisi puncaknya pada Januari 2026.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa gejolak yang terjadi merupakan sentimen jangka pendek, sementara fondasi ekonomi nasional saat ini dipastikan tetap berada dalam kondisi yang sangat kokoh.
"Gak apa-apa nanti kita perbaiki. Sekarang pondasi ekonominya bagus itu masalah sentimen jangka pendek," kata Purbaya di Jakarta, Senin (18/5/2026) seperti dilansir dari CNBC Indonesia.
Pemerintah kini berfokus penuh untuk menjaga roda perekonomian agar tidak terganggu serta mengendalikan pergerakan di pasar obligasi melalui langkah stabilisasi yang lebih signifikan.
"Saya fokus jaga pondasi ekonomi dengan memastikan pertumbuhan ekonomi tidak terganggu," jelas Purbaya.
Langkah intervensi di pasar obligasi ditingkatkan demi mencegah terjadinya pelarian modal asing yang dipicu oleh kekhawatiran terhadap penurunan harga surat utang.
"Kita sudah masuk tapi hanya sedikit, mulai hari ini kita akan masuk lebih signifikan lagi sehingga pasar obligasi terkendali," ujar Purbaya.
Upaya penyerapan di pasar obligasi diharapkan dapat memberikan dampak positif langsung untuk menahan laju penurunan mata uang rupiah.
"Sehingga asing yang pegang obligasi nggak keluar karena takut misalnya ada capital loss karena harga obligasi turun. Itu akan bisa membantu pergerakan rupiah sedikit," papar Purbaya.
Menkeu menambahkan bahwa kekhawatiran pasar yang menyamakan kondisi saat ini dengan krisis moneter tahun 1998 tidak beralasan karena kondisi struktural dan arah kebijakan saat ini sepenuhnya berbeda.
"Nggak apa-apa, nanti kita perbaiki. Kan pondasi ekonominya kan bagus, itu masalah sentimen jangka pendek aja. Jadi, saya akan focus jaga pondasi ekonomi dengan memastikan pembangunan ekonomi tidak terganggu," beber Purbaya di Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, seperti dikutip dari Detik Finance.
Faktor utama pembeda dari situasi krisis masa lalu adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang saat ini dinilai masih berjalan dalam tren ekspansi yang cepat.
"Oh ini kan banyak sentimen. Kalau rupiah melemah seolah kita akan bergerak seperti 1998 lagi. Beda 1998 itu kebijakannya salah," ujar Purbaya.
Ketiadaan indikasi resesi pada tahun ini memberikan ruang penyesuaian yang cukup luas bagi otoritas fiskal dan moneter untuk memulihkan pasar finansial.
"Kita kan sekarang belum resesi. Ekonomi masih tumbuh kencang, jadi masih ada ruang untuk memperbaiki semua," beber Purbaya.
Purbaya justru menilai penurunan harga saham di bursa domestik saat ini membuka peluang bagi para pelaku pasar untuk kembali membeli aset pada valuasi yang murah.
"Jadi, teman-teman nggak usah khawatir, investor pasar saham kalau saya bilang jangan takut serok ke bawah sekarang. Jadi, jangan lupa beli saham," pungkas Purbaya.
Melalui rilis pers terpisah, Purbaya memproyeksikan perbaikan pergerakan indeks saham domestik dapat terjadi dalam waktu dekat setelah faktor teknikal terpenuhi.
"Jadi, teman-teman nggak usah khawatir, investor pasar saham kalau saya bilang jangan takut serok ke bawah sekarang. Kalau saya lihat teknikalnya, sehari dua hari udah balik. Jadi, jangan lupa beli saham," kata Purbaya sebagaimana dikutip dari ASATU NEWS.
Respons ketenangan terhadap dinamika kurs ini juga disuarakan oleh Presiden Prabowo Subianto yang meminta masyarakat untuk mempercayai ketahanan fundamental ekonomi nasional.
"Selama Purbaya (Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa) bisa senyum, tenang saja tidak usah khawatir. Mau dolar berapa ribu (rupiah) kek, kalian di desa-desa tidak pakai dolar," kata Prabowo di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5) dilansir dari Katadata.
Presiden menyatakan keprihatinan yang berlebihan umumnya dirasakan oleh pihak yang sering bepergian ke luar negeri, sementara ekonomi sektor riil di dalam negeri diklaim masih kokoh.
"Orang mau bilang apa, Indonesia kuat. Percaya pada kekuatan kita, percaya kepada rakyat kita," ujar Prabowo.
Di sisi lain, Co-Founder FINE Institute Kusfiardi memberikan catatan bahwa volatilitas tajam pasca-rebalancing indeks global menunjukkan adanya ketergantungan struktural pasar modal Indonesia terhadap pergerakan dana asing.
“Pelajaran terbesar dari Mei 2026 adalah problem pasar modal Indonesia bukan sekadar volatilitas, tetapi struktur ketergantungan. Selama market depth masih dangkal, investor domestik lemah, free float rendah, serta governance belum kuat, maka MSCI, foreign flow, dan risk sentiment global akan terus memiliki kekuatan besar dalam menentukan arah pasar Indonesia,” ujar Kusfiardi dalam ulasan yang dilansir SINDOnews.
Kusfiardi menilai bahwa perubahan alokasi aset oleh dana pasif global dapat secara otomatis menekan stabilitas keuangan domestik terlepas dari kondisi fundamental ekonomi nasional.
“Secara formal MSCI bukan regulator Indonesia. Namun secara riil, MSCI memiliki pengaruh besar terhadap alokasi modal internasional, perilaku passive funds global, dan persepsi investability Indonesia. Kasus Mei 2026 menunjukkan bahwa stabilitas pasar domestik masih sangat dipengaruhi oleh structural power of global finance melalui indeks internasional, dana pasif global, dan mekanisme external market discipline, meskipun lembaga tersebut tidak memiliki otoritas hukum formal di Indonesia,” jelas Kusfiardi.
Analis Doo Financial Lukman Leong menyatakan kepada Katadata bahwa kejatuhan rupiah didorong penguatan dolar AS yang dipicu aksi jual massal aset keuangan global, sementara pelaku pasar kini menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 20 Mei 2026.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow