Pemerintah Tawarkan SBSN dengan Potensi Imbal Hasil Sekitar 7 Persen
Pemerintah melalui Direktorat Pembiayaan Syariah Kementerian Keuangan menawarkan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) sebagai alternatif investasi dengan potensi imbal hasil sekitar 7 persen pada Senin (10/8/2026). Tingkat kupon tersebut dinilai jauh lebih menarik dibandingkan bunga deposito perbankan yang saat ini berada di kisaran 3 hingga 4 persen.
Deputi Direktur Pembiayaan Syariah sekaligus Ketua Tim Kerja Pengelolaan Portofolio SBSN, Suharianto, menjelaskan bahwa perhitungan imbal hasil ini merujuk pada perkembangan kupon surat berharga negara konvensional. Pemerintah berencana membuka masa penawaran untuk instrumen Sukuk Ritel seri SR025 bagi investor individu dengan pilihan tenor tiga dan lima tahun.
"Kalau kita lihat dari sisi return-nya, kalau dibandingkan deposito-deposito 3-4% sudah lumayan, gitu ya. Nah, ini kita bisa tawarkan dengan imbalan 7%," ujar Suharianto.
Suharianto menambahkan bahwa angka tersebut mengacu pada realisasi instrumen konvensional sebelumnya yang juga mencatatkan tingkat imbal hasil kompetitif.
"Nah, saat ini bocoran kemarin yang konvensional, yang untuk ORI, itu bisa 7%. Wow banget ya," ujar Suharianto.
Pemerintah telah menetapkan jadwal resmi pembukaan masa penawaran instrumen berbasis syariah ini kepada masyarakat luas.
"Insyaallah nanti SR025 yang kita akan terbitkan, masa penawaran mulai tanggal 21 Agustus," ujar Suharianto.
Selain imbal hasil, keunggulan lain dari investasi SBSN terletak pada pemotongan pajak atas imbal hasil yang hanya sebesar 10 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan pajak atas bunga deposito yang mencapai 20 persen.
"Tadi di awal Pak Deni sudah spill, investasi kita di sukuk hanya dikenakan pajak 10%, kalau yang lain 20%," ujar Suharianto.
Meskipun menawarkan berbagai keuntungan, pemerintah mengimbau investor untuk tetap memperhitungkan risiko pasar, terutama jika menjual instrumen sebelum jatuh tempo saat harga pasar mengalami penurunan.
"Kalau seandainya Bapak-Ibu hold sampai maturity, itu pasti uangnya utuh. Tapi kalau Bapak-Ibu jual di masa tenor tersebut ternyata posisinya lagi merugi, berarti berkurang uangnya," ujar Suharianto.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow