Peneliti BRIN Konfirmasi Pencairan Gletser Bisa Bangkitkan Spesies Purba
Pencairan gletser secara masif berpotensi menghidupkan kembali berbagai spesies purba yang terawetkan dalam lapisan es selama ratusan hingga jutaan tahun. Potensi bangkitnya mikroba purba tersebut disampaikan oleh Peneliti Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Profesor Rosichon Ubaidillah, pada Selasa (1/9/2026), menanggapi unggahan publik figur Gofar Hilman di platform Threads terkait banjir gletser di Nepal.
Sorotan publik bermula dari cuitan akun @pergijauh milik Gofar Hilman yang membahas potensi munculnya kembali spesies lama, termasuk jamur endoparasitoid jenis baru akibat banjir dari mencairnya gletser Nepal. Unggahan tersebut menarik perhatian belasan ribu pengguna internet hingga dilansir dari Detik iNET.
Pihak BRIN membenarkan bahwa temuan ilmiah mendukung kemungkinan mikroba purba mengalami kembalinya kehidupan atau mengalami penyebaran ke inang baru (spillover).
"Tentu, banyak spesies lama yang tertimbun ratusan/jutaan tahun yang terawetkan akan muncul kembali dan bisa hidup. Hasil beberapa penelitian meyakini hal itu. Terutama mikroba purba akan spillover," kata Rosichon Ubaidillah, Profesor ilmu biologi sekaligus peneliti utama BRIN.
Rosichon merujuk pada hasil studi pemodelan karya Strona dan rekan-rekan (2023) berjudul 'Time-travelling pathogens and their risk to ecological communities'. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa patogen purba yang bangkit kembali mampu bertahan hidup di ekosistem modern, sehingga berisiko memicu ancaman biosekuriti atau pergeseran inang.
"Misalnya beberapa peneliti berhasil menghidupkan kembali cacing gelang purba berusia 46.000 tahun (Panagrolaimus kolymaensis) dari lapisan es abadi Siberia dengan merehidrasi sampel yang diambil 40 meter di bawah permukaan," kata Rosichon Ubaidillah.
Dampak fenomena fenomena pencairan es berskala besar ini dinilai bakal mengubah tatanan alam secara menyeluruh di wilayah terdampak.
"Yang pasti ada perubahan mendasar unit-unit kehati (keragaman hayati) dari pembentukan ekosistem baru dengan jejaring baru dan komunitas keragaman spesies baru, yang tentu berbeda dengan ekosistem sebelumnya," kata Rosichon Ubaidillah.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow