Pengusaha Ritel dan Pemerintah Dorong Wisata Belanja Jadi Motor Ekonomi 2026
Pengusaha ritel dan pemerintah memperkuat pengembangan wisata belanja sebagai motor pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia, berupaya mengantisipasi potensi pelambatan penjualan pada September hingga November 2026, menurut laporan dari acara Indonesia Retail Summit and Expo 2026.
Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah mengatakan pelaku usaha akan membuka pasar ekspor bagi produsen sebagai strategi menjaga penjualan di bulan sepi tersebut.
"Kita akan coba membuka pasar ekspor untuk para teman-teman produsen. Itu adalah tanggung jawab daripada kami juga selaku offtaker. Ke depan ini bulan-bulan sepi mulai bulan sembilan (September), sepuluh (Oktober), sebelas (November) harus ada upaya dari kita untuk meningkatkan penjualan," ujar Budihardjo dalam acara di Swissotel PIK Avenue, Jakarta Utara.
Budihardjo juga menyampaikan kekhawatiran pelambatan penjualan tidak hanya berdampak pada ritel, tetapi juga sektor lain seperti perhotelan.
"Tadi sudah melapor ke Pak Mendag (Budi), habis ini kita harus melakukan sesuatu kalau tidak nanti hotel-hotel juga sepi," katanya.
Budihardjo menegaskan sektor ritel offline sangat tergantung pada arus kunjungan konsumen dan berharap adanya dukungan pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi dan aktivitas perdagangan.
"Sektor offline sangat bergantung sama offline-nya, harus ada traffic, harapan kami bisa ada dukungan dari pemerintah agar ekonomi stabil, politik pasti stabil," ujar Budihardjo.
Dia menambahkan bahwa pelaku usaha akan berjuang menciptakan lapangan kerja, membuka toko, mendistribusikan barang, serta menjaga ketersediaan dan kestabilan harga dengan kerja sama semua pemangku kepentingan.
"Jadi kita akan berjuang agar lapangan kerja tercipta, membuka banyak toko, mendistribusikan barang, memastikan harga-harga stabil, stok semua ada. Untuk itu kita butuh kerja sama dengan semua stakeholder," kata Budihardjo.
Sekretaris Jenderal Hippindo Haryanto Pratantara menilai konsumsi domestik sangat menentukan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan sektor ritel sebagai pendorong utama konsumsi tersebut.
"Karena pertumbuhan ekonomi Indonesia itu sangat ditentukan oleh konsumsi dalam negeri yang porsinya lebih dari 50 persen. Dan kalau bicara konsumsi dalam negeri tentu tidak lepas dari sektor utama pendorongnya yaitu retail," ujar Haryanto.
Haryanto juga menyoroti besarnya penyerapan tenaga kerja di sektor ritel yang sering terlupakan sebagai industri padat karya, meskipun menyerap jutaan pekerja, termasuk di perusahaan besar seperti Alfamart dan Indomaret serta sektor informal UMKM.
Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan pengembangan wisata belanja sebagai salah satu peluang pertumbuhan ekonomi yang dioptimalkan seiring meningkatnya aktivitas pariwisata.
"Tentu di berbagai negara, tujuan dari wisatawan sebagian adalah kuliner dan belanja. Jadi ini tentu perlu didorong supaya mereka belanja di Indonesia saja. Dan kita berharap bahwa ini juga bisa memanfaatkan wisata belanja sebagai motor pertumbuhan baru," ujar Airlangga pada acara yang sama.
Data menunjukkan pada Januari-Juni 2026, kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 7,45 juta orang dan perjalanan wisatawan nusantara 630,41 juta perjalanan, dengan potensi pengeluaran wisatawan Indonesia ke luar negeri mencapai sekitar US$6,7 miliar atau Rp118,66 triliun.
Airlangga menilai kondisi ini membuka peluang untuk menarik pengeluaran wisatawan agar belanja di dalam negeri, sekaligus memperkuat integrasi antara ritel dan produksi dalam negeri.
"Dan terus pemerintah mendorong sinergi antara retail, dan harapannya tentu barang yang didorong di retail itu juga barang yang diproduksi di dalam negeri," katanya.
Selain itu, pemerintah juga mendorong perluasan ekosistem ritel hingga ke pedesaan melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih agar akses barang kebutuhan ritel semakin luas.
Dalam hal transformasi digital, PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) mendukung pelaku usaha ritel dengan platform Qlola by BRI yang memudahkan pengelolaan keuangan dan operasional bisnis secara terintegrasi.
Qlola by BRI menyediakan fitur untuk memantau keuangan, distribusi dana, pembayaran bisnis, penggajian, hingga solusi rantai pasok dan perdagangan yang membantu efisiensi operasional bagi bisnis skala besar maupun menengah.
Dengan pembaruan yang menitikberatkan pada personalisasi, konektivitas, dan kemudahan penggunaan, Qlola by BRI diharapkan dapat menjadi fondasi pengelolaan bisnis ritel yang lebih efektif dan siap berkembang, kata perwakilan BRI.
Budihardjo menambahkan bahwa meski Indonesia memiliki objek wisata dan kuliner yang menarik, unsur belanja belum banyak menarik wisatawan asing dan berharap adanya kemudahan bagi merek global beroperasi lebih lengkap di Indonesia untuk menarik wisatawan berbelanja.
"Selain itu faktor pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kedua adalah sektor pariwisata. Dan kunci pariwisata selalu bicara tiga hal utama, objek wisatanya, kulinernya, dan shopping. Indonesia memiliki dua hal pertama, objek wisata yang bagus dan kuliner yang bervariasi dan sangat enak. Tetapi sayangnya jarang sekali turis ke Indonesia untuk berbelanja," kata Budihardjo.
"Baru belakangan ini aja ramai dengan berbelanja karena satu penyebab utama yang sebenarnya kita suarakan juga ke pemerintah yaitu sekarang belanja di Indonesia lebih murah. Ya, sayangnya tapi ini karena kurs rupiah Indonesia yang relatif melemah," ujarnya.
Budihardjo juga menyoroti kebiasaan masyarakat Indonesia yang lebih banyak berbelanja merek global saat ke luar negeri dibandingkan di dalam negeri.
"Apalagi kalau kita melihat orang Indonesia kalau ke luar negeri itu kalau belanja juga gila-gilaan. Dan sayangnya mereka belanja banyakan juga merek-merek global yang sayangnya juga sebenarnya udah ada di Indonesia juga. Tapi kenapa mereka belanja di luar negeri, enggak di Indonesia? Ya, karena kelengkapan barang, harga, dan variasinya," ujarnya.
Untuk itu, Hippindo mengharapkan dukungan pemerintah agar merek global yang berkontribusi di Indonesia mendapatkan kemudahan membuka toko dan pemasukan produk guna mendukung program wisata belanja dalam negeri.
"Kita punya merek juga enggak kalah, namun kami juga mengharapkan dukungan terhadap merek-merek luar yang sudah berkontribusi di Indonesia untuk membuka toko, menciptakan lapangan pekerjaan, membayar pajak, dapat diberikan kemudahan," ujar Budihardjo.
"Posisi Hippindo akan memastikan harmonisasi antara merek lokal dan global bersama-sama dan seperti kemudahan impor, kemudahan-kemudahan produk luar negeri yang branded bisa dijual di Indonesia sehingga mendatangkan turis, program Belanja di Indonesia Aja bisa berjalan," tutupnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow