Pentagon Catat 838 Tentara AS Jadi Korban Perang Iran

Smallest Font
Largest Font

Departemen Pertahanan Amerika Serikat memperbarui data korban militer dalam konflik dengan Iran menjadi 838 personel hingga Selasa, 8 September 2026. Laporan terbaru mencatat sebanyak 820 tentara mengalami luka-luka dan 18 personel lainnya dilaporkan tewas di medan perang.

Penambahan 26 personel dalam daftar korban luka tersebut terungkap melalui analisis RIA Novosti terhadap dokumen Kementerian Pertahanan AS yang dikutip Kantor Berita Tasnim. Pentagon tidak membeberkan perincian mengenai tingkat keparahan luka, lokasi kejadian, maupun waktu pasti para prajurit tersebut mengalami cedera.

Sejak operasi militer AS terhadap Iran kembali memanas pada Juli, sebanyak empat personel AS tewas dan 403 lainnya terluka. Rangkaian perselisihan ini berawal saat AS dan Israel melancarkan serangan ke sasaran di Iran pada 28 Februari, yang kemudian memicu balasan dari Teheran. Meski sempat menandatangani memorandum penghentian permusuhan pada pertengahan Juni, kedua belah pihak kembali terlibat kontak senjata.

Data resmi yang dirilis Pentagon memicu sorotan tajam dari sejumlah media Amerika Serikat, seperti The New York Times dan The Intercept. Kedua media tersebut mempertanyakan keakuratan data pemerintah dan menduga adanya upaya mengecilkan skala korban demi pertimbangan politik. The New York Times bahkan mengutip sumber yang dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), yang memperkirakan jumlah tentara AS tewas di Yordania, Irak, dan kawasan Teluk mendekati 500 orang.

Di sisi lain, kebijakan Pentagon mendapat penolakan keras dari internal keluarga prajurit AS yang gugur. Sejumlah keluarga tentara melaporkan penolakan pembayaran tunjangan perang khusus dengan alasan Kongres AS belum secara resmi menyatakan perang terhadap Iran.

Keluhan mengenai status legalitas konflik tersebut disampaikan oleh istri salah satu pilot militer yang gugur.

"Suami saya meninggal dalam perang yang nyata, tetapi sekarang mereka mengatakan kepada saya bahwa tidak ada perang," kata Libby Klinner, istri pilot AS berusia 33 tahun yang tewas pada Maret lalu, dilansir dari Associated Press melalui laporan Fars News Agency.

Selain masalah tunjangan kematian, protes juga berdatangan dari keluarga awak kapal induk USS Abraham Lincoln terkait perpanjangan masa penugasan yang tidak lazim serta kondisi pasokan logistik di atas kapal. Beberapa keluarga turut mengkritik penanganan medis Pentagon yang dinilai enggan mengklasifikasikan prajurit cedera sebagai korban perang.

Sementara itu, Kepala Organisasi Basij Iran, Hojjat al-Islam Hossein Taeb, menilai dinamika konflik tersebut menandakan penurunan dominasi militer Washington. Dalam acara di Teheran, Taeb mengkritik strategi perang AS yang dinilainya berbiaya besar namun tidak menjamin kemenangan di tengah momentum peringatan 250 tahun kemerdekaan AS.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed