Pertamina Jamin Pasokan Solar Subsidi Tengah Antrean Panjang Kendaraan

Smallest Font
Largest Font

PT Pertamina Patra Niaga mengoptimalkan pengawasan serta penyaluran bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Solar di wilayah Sumatera dan Jawa Timur pada Jumat (26/6/2026) demi mengatasi kepadatan antrean kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Langkah penertiban ini diambil menyusul terjadinya penumpukan truk dan keterlambatan distribusi pasokan di lapangan, seperti yang terpantau di Kabupaten Batang Hari, Provinsi Jambi, serta Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur. Pengetatan pengawasan dilakukan bersama aparat kepolisian untuk memastikan Biosolar didistribusikan secara tepat sasaran kepada masyarakat yang berhak.

Area Manager Communication, Relations and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Rusminto Wahyudi mengonfirmasi pemeriksaan lapangan bersama Tim Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Polres Batanghari di beberapa SPBU, termasuk SPBU 24.366.72, SPBU 24.366.45, dan SPBU 24.366.17.

"Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan pengecekan lapangan bersama Tim Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Polres Batanghari di sejumlah SPBU di Kabupaten Batang Hari, Provinsi Jambi," kata Rusminto Wahyudi dalam keterangan resmi yang diterima di Jambi, Jumat.

Sinergi ini bertujuan meningkatkan kepatuhan pengendara serta mendeteksi potensi penyalahgunaan BBM bersubsidi dengan memeriksa kecocokan kode batang (barcode) Subsidi Tepat dan nomor polisi kendaraan.

“Pertamina terus berkomitmen memastikan penyaluran BBM subsidi, khususnya Biosolar, dapat diterima oleh konsumen yang berhak sesuai ketentuan yang berlaku," kata Rusminto Wahyudi.

Pengecekan difokuskan pada kendaraan yang mengantre di SPBU demi mengurai kepadatan yang dilaporkan mengganggu aktivitas publik dan pelayanan di wilayah Batang Hari.

"Tim gabungan melakukan pengecekan kesesuaian kode batang (barcode) Subsidi Tepat, nomor polisi kendaraan, serta memeriksa beberapa kendaraan yang terindikasi tidak memenuhi standar atau tidak sesuai dengan ketentuan penerima BBM bersubsidi," kata Rusminto Wahyudi.

Selain penegakan aturan di lapangan, Rusminto menjelaskan kepada Kompas.com mengenai faktor geografis Sumatera sebagai jalur logistik utama dan disparitas harga BBM non-subsidi yang memicu lonjakan konsumsi, di samping adanya dampak penertiban tambang minyak ilegal.

"Untuk pembelian Solar subsidi di SPBU wajib menggunakan barcode Subsidi Tepat. Kalau terkait suplai Solar subsidi, kami menyalurkan sesuai dengan kuota yang telah ditetapkan oleh pemerintah melalui BPH Migas," ujar Rusminto Wahyudi.

Pertamina juga mengingatkan bahwa volume distribusi di masyarakat terikat oleh batas kuota tahunan yang ditetapkan pemerintah pusat.

"Kuota BBM subsidi terbatas sesuai dengan penetapan dari pemerintah melalui BPH Migas," kata Rusminto Wahyudi.

“Kami berharap melalui kegiatan ini masyarakat semakin memahami kriteria penerima BBM subsidi serta turut mendukung penyaluran yang tepat sasaran. Dengan demikian, pelayanan di SPBU dapat berjalan lebih tertib, lancar dan memberikan manfaat bagi masyarakat yang berhak,” kata Rusminto Wahyudi.

Sementara itu, kondisi kelangkaan solar berdurasi beberapa hari turut memicu keluhan dari para pengemudi angkutan material di Mojokerto, Jawa Timur, karena memotong waktu kerja dan pendapatan mereka.

"Sudah antre sejak tadi. Biasanya kami cari muatan dulu baru berangkat. Sekarang ketika muatan sudah ada, malah solar yang tidak ada. Akhirnya pekerjaan jadi terhambat," ujar Khoirul Adim, seorang sopir truk pengangkut material di SPBU 54.613.11 Kecamatan Bangsal.

Kendaraan terpaksa mengular karena stok di beberapa tempat pengisian lain habis, sehingga konsentrasi truk berpindah ke area yang masih memiliki persediaan bahan bakar.

"Saya sudah keliling ke beberapa SPBU, tapi banyak yang kosong. Untung di sini masih ada meski harus antre panjang. Harapan kami sederhana, semoga distribusi solar kembali normal supaya kami bisa bekerja seperti biasa," kata Khoirul Adim.

Pihak manajemen SPBU setempat membatasi pembelian maksimal senilai Rp500 ribu per kendaraan untuk meratakan sisa pasokan logistik yang terlambat masuk.

"Pengiriman Bio Solar dan Pertalite memang sempat terlambat. Untuk setiap pengiriman kami menerima masing-masing sekitar delapan kiloliter solar dan delapan kiloliter Pertalite," jelas Alil, Pengawas SPBU 54.613.11.

Datangnya pengiriman pada Jumat pagi langsung memicu kepadatan dari berbagai kendaraan yang datang dari luar wilayah.

"Because banyak SPBU lain yang kehabisan, akhirnya kendaraan mengarah ke sini. Itu yang membuat antrean menjadi panjang," ujar Alil.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed