PT Pertamina Patra Niaga Menurunkan Harga BBM Non Subsidi Pertamax Series

Smallest Font
Largest Font

PT Pertamina Patra Niaga secara resmi menetapkan penyesuaian penurunan harga bahan bakar minyak non-subsidi jenis Pertamax Series mulai Sabtu, 1 Agustus 2026. Penurunan sebesar Rp 300 per liter ini membuat harga Pertamax RON 92 turun menjadi Rp 15.950 per liter dari yang sebelumnya berada di angka Rp 16.250 per liter untuk kawasan DKI Jakarta.

Selain Pertamax RON 92, harga BBM jenis Pertamax Green 95 juga mengalami koreksi dari Rp 17.000 menjadi Rp 16.600 per liter, sementara Pertamax Turbo terkoreksi menjadi Rp 18.300 dari semula Rp 19.300 per liter. Perubahan tarif bahan bakar non-subsidi tersebut berlaku bagi wilayah yang menerapkan tarif Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor sebesar 5 persen.

Kendati mengalami penurunan nominal, sejumlah warga konsumen bahan bakar tersebut menganggap perubahan tarif ini belum memberikan efek yang besar bagi kondisi keuangan harian mereka.

Toto (25), salah seorang pengguna Pertamax di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, menyampaikan pandangannya terkait selisih harga baru ini.

"Jujur cuma turun Rp 300, jadi ya enggak berasa apa-apa kalau buat dompet mah," ungkap dia.

Toto menambahkan bahwa durasi antrean yang jauh lebih pendek dibanding lini pengisian Pertalite menjadi alasan utamanya untuk tetap bertahan menggunakan BBM RON 92 tersebut.

"Karena sejak harganya (Pertamax) naik, banyak tuh yang pindah ke Pertalite dan bisa mengantre ada kali 100 meter mah. Jadi mending Pertamax," ucap dia.

Keluhan dan penilaian serupa juga dilontarkan oleh pengendara lain di kawasan Grogol Petamburan, Jakarta Barat, Pras (23).

"Turunnya cuma Rp 300, jadi kayaknya enggak berpengaruh deh. Kalau full tank 5 liter, cuma turun Rp 1.500, belum keliatan berpengaruh. Sementara dibanding harga lama, naiknya bisa sekitar Rp. 15.000 untuk full," kata dia.

Demi menghemat pengeluaran tanpa perlu mengantre lama saat jam sibuk pagi hari, Pras menyiasati pembelian bahan bakar secara terbatas pada pagi hari dan mengombinasikannya dengan jenis BBM lain pada malam hari.

"Saya suka buru-buru kalo berangkat kerja, jadi kalau pagi buru-buru belinya Pertamax, paling mentok beli dua liter. Sisanya dioplos Pertalite buat penuhin pas malemnya, pas engga ngantre," ujar dia.

Pras mengutarakan harapannya agar penyesuaian harga Pertamax ke depan bisa terus mengikuti dinamika perkembangan harga minyak dunia secara berkala.

"Kayaknya kalau balik ke Rp 12.000 bakal susah ya, tapi minimal mengikuti dinamika harga minyak dunia, kalo pas yang lain turun, ikut turun lah jangan nangkring di Rp 16.000," tutur dia.

Ia menekankan bahwa pengeluaran untuk kebutuhan bahan bakar kendaraan bersifat rutin sehingga akumulasinya akan sangat terasa dalam jangka panjang.

"Mungkin bisa turun at least sampai ke Rp 13.000 atau Rp 14.000 kali ya. Soalnya kan bensin itu ngisi nya sering. Jadi walaupun rasanya enggak terlalu gede jauhnya, tapi kalo diakumulasi berasa juga membengkak pengeluaran," tambah dia.

Penilaian senada terkait minimnya dampak efisiensi biaya harian dari penurunan selisih nominal BBM tersebut turut diutarakan oleh pengguna lainnya.

"Kalau (perhitungan) kasar ya sekali isi dua liter, selisih cuma Rp 600 perak. Kecil juga jadi engga ada apa-apa kayaknya," ucap Anwar (30).

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed