Prakiraan Cuaca D-Day 1944 Manfaatkan Celah Badai Perang Dunia II

Smallest Font
Largest Font

Sekitar 160 ribu pasukan Sekutu bersiap menyeberangi Selat Inggris untuk menyerang Normandia pada 5 Juni 1944. Namun, pergerakan badai dan tekanan rendah dari Atlantik mengancam keselamatan penerbangan serta pelayaran militer.

Prediksi cuaca presisi menjadi kunci keselamatan ribuan nyawa prajurit. Seperti dilansir dari Detik iNET, tim meteorolog masa Perang Dunia II belum dibekali satelit, radar modern, maupun simulasi komputer dalam memetakan atmosfer.

Invasi militer tersebut semula dijadwalkan berlangsung pada 5 Juni. Kepala meteorolog markas Sekutu, Kapten J.M. Stagg, lantas menyarankan penundaan invasi karena buruknya kondisi atmosfer.

Pemantauan pergerakan badai Atlantik mengandalkan stasiun darat dan laporan kapal laut. Keterbatasan akses data berhasil teratasi setelah pihak Sekutu memecahkan kode Enigma untuk mengintip laporan cuaca milik Jerman.

"Perbedaan informasi yang tersedia bagi kedua pihak memberikan keuntungan penting bagi Sekutu pada D-Day," kata Catherine Ross, National Meteorological Archivist Inggris, seperti dikutip dari IFL Science.

Keunggulan informasi tersebut memberi ruang bagi Stagg dan timnya untuk menemukan celah cuaca singkat pada 6 Juni. Meski laut masih bergelombang dan awan tebal mengganggu pendaratan pasukan payung, operasi tetap dilanjutkan.

Pihak Jerman justru memprediksi cuaca buruk bakal berlangsung lebih lama. Keyakinan tersebut membuat sebagian pasukan militer Jerman meninggalkan pos penjagaan mereka sebelum serangan mendadak terjadi.

Persyaratan iklim untuk pendaratan D-Day sangat ketat. NASA mencatat Sekutu membutuhkan kombinasi langit cerah, laut tenang, angin sedang, kondisi pasang surut yang pas, serta pantulan sinar Bulan purnama.

Kini, reka ulang ilmuwan European Centre for Medium-Range Weather Forecasts bersama Prof Ed Hawkins dari University of Reading memperlihatkan kondisi realistis atmosfer saat itu melalui visualisasi citra bergaya satelit.

"Tentara berangkat ketika langit masih berangsur pulih setelah berhari-hari diterpa badai, menuju jendela cuaca yang lebih baik dan sangat sempit," kata Hawkins.

"Sehari lebih awal, atau beberapa jam lebih cepat atau lambat, cuaca bisa menghentikan invasi dan mengubah hasil perang," lanjut Hawkins.

Mantan Presiden Amerika Serikat Harry Truman sempat menyebut 6 Juni 1944 sebagai satu-satunya kesempatan yang memungkinkan invasi militer berjalan. Rekonstruksi data historis modern berhasil membuktikan betapa sempitnya celah cuaca yang ditemukan para ahli meteorologi tersebut.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed