Pramono Anung Soroti Polusi Jakarta Akibat PLTU Batu Bara Sub urban

Smallest Font
Largest Font

Kualitas udara DKI Jakarta kembali memprihatinkan setelah menduduki peringkat ketiga terburuk di dunia dengan Indeks Kualitas Udara mencapai angka 162 pada Kamis (20/8/2026) pagi. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan penanganan emisi tidak akan maksimal tanpa keterlibatan pemerintah pusat dalam mengendalikan industri berbasis batu bara di kawasan penyangga.

Berdasarkan pemantauan situs IQAir pukul 06.00 WIB, Jakarta berada di bawah Kinshasa dengan AQI 208 dan Kuching di angka 199. Mengingat konsentrasi polutan berada dalam kategori tidak sehat, masyarakat diimbau untuk terus mengandalkan masker saat beraktivitas di luar ruangan.

Pramono Anung menjelaskan bahwa berbagai langkah pembenahan di internal Jakarta tidak cukup kuat untuk membendung paparan polusi dari luar wilayah administrasi Ibu Kota.

"Persoalan utamanya bagaimana koordinasi di aglomerasi Jakarta ini, terutama bagi daerah-daerah yang masih mengizinkan industrinya menggunakan bahan bakar batu bara," kata Pramono di Jakarta Selatan, Kamis (20/8).

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah berupaya menekan pergerakan emisi kendaraan melalui perluasan rute moda transportasi umum hingga mendorong konversi armada ke kendaraan listrik. Keberadaan sektor industri di sekitar kawasan aglomerasi dinilai tetap menyumbang beban emisi udara yang tinggi ke kawasan Ibu Kota.

"Problemnya bukan hanya semata-mata transportasi di Jakarta. Ada persoalan-persoalan lain, misalnya pembakaran industri-industri di selingkaran Jakarta, salah satunya yang terkenal adalah Suralaya, yang menggunakan bahan bakar yang masih tidak ramah lingkungan," kata Pramono usai menghadiri acara Indonesia International Transport Summit 2026 di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (20/8/2026).

Penanganan sektor transportasi dalam kota mencatatkan peningkatan integrasi layanan hingga 93 persen dan lonjakan partisipasi warga menggunakan moda publik dari 23 persen menjadi 31 persen. Di sisi lain, armada bus berbasis listrik disiapkan bertambah dari 500 unit menuju target 10.000 unit pada 2030.

"Jadi, apapun yang dilakukan pemerintah di dalam Jakarta dengan membuat mobil listrik, transportasinya diperbaiki, orang yang dulu naik transportasi pribadi ke transportasi umum, menurut saya belum sepenuhnya akan menyelesaikan kalau di sub-urban area atau daerah yang melingkupi Jakarta ini masih diizinkan untuk industrinya menggunakan pembangkit listrik tenaga batu bara, karena itulah salah satu sumber utamanya," ujarnya.

Pramono mendorong adanya langkah bersama secara lintas daerah karena pergerakan polusi udara menyebar tanpa mengenal batas wilayah administrasi.

"Sehingga dengan demikian, saya sebagai Gubernur Jakarta berharap bahwa ada juga koordinasi dengan pemerintah pusat agar yang memberikan kontribusi menyebabkan emisi yang masih tinggi itu bisa diatur bersama-sama," katanya.

Selain pembenahan sektor transportasi dan pengelolaan limbah melalui fasilitas pengolahan sampah di Rorotan, Pemprov DKI menyiapakan intervensi darurat berupa operasi modifikasi cuaca. Penyemaian garam dijadwalkan guna memanfaatkan keberadaan awan potensial di atas langit Jakarta.

"Kalau enggak ada awan, enggak mungkin bisa untuk di-OMC. Dalam melakukan OMC, contohnya nanti hari Jumat besok, itu akan ada awan kembali. Saya sudah perintahkan untuk hari Jumat karena ada awan, maka segera dipersiapkan untuk besok diterbangkan," kata Pramono di Kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (20/8/2026).

Upaya merekayasa cuaca dinilai sebagai langkah ikhtiar untuk memicu hujan berintensitas sedang agar mampu meluruhkan partikel polutan di udara.

"Nah, kalau diterbangkan, apakah terjadi hujan atau enggak, itu bukan belum jaminan. Kami sudah berkali-kali juga menerbangkan enggak ada hujan," ujarnya.

Meskipun efektivitas hujan buatan sangat bergantung pada kondisi alam, langkah teknis terus dioptimalkan guna meminimalkan risiko lonjakan penyakit pernapasan warga.

"Bahwa hujan itu ciptaan Tuhan, ya pasti saya setuju ciptaan Tuhan. Tetapi kalau kemudian tidak ada upaya untuk itu, menurut saya juga enggak baik," jelasnya.

Pelaksanaan modifikasi cuaca ini diharapkan dapat mendatangkan limpahan air hujan yang cukup untuk memulihkan kesegaran kualitas udara tanpa memicu genangan air.

"Di ramalan cuaca juga diramalkan akan ada hujan gerimis. Kan lebih baik kalau kemudian dari hujan gerimis ditambahi garam dan atau apa pun lah, itu menjadi hujan yang lebih deras dan bermanfaat bagi masyarakat, yang paling penting jangan banjir, itu aja," imbuhnya.

Selain bus listrik, Pemprov DKI Jakarta juga merencanakan pengadaan kendaraan umum berbasis hidrogen dan hibrida untuk mempercepat penurunan emisi gas buang.

"Bukan hanya bus elektrik, tapi juga hidrogen dan juga hibrida," ujar Pramono.

Guna mendorong peralihan warga dari kendaraan pribadi, Pemprov DKI Jakarta turut menerapkan kebijakan transportasi umum gratis bagi 15 golongan masyarakat serta membuka jaringan bus Transjabodetabek ke wilayah penyangga.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed