Prancis Berpotensi Pembelot Rencana UEFA Boikot Presiden FIFA

Smallest Font
Largest Font

Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) berpotensi mengambil langkah berbeda dari mayoritas negara Eropa dengan tetap memberikan dukungan kepada Presiden FIFA, Gianni Infantino. Sikap tersebut bertolak belakang dengan rencana boikot yang diusung oleh UEFA, seperti dilansir dari Bola. Jurnalis Romain Molina mengungkapkan bahwa FFF hingga kini berada di belakang Infantino.

Organisasi sepak bola tertinggi Prancis itu disebut tidak bermaksud mengikuti agenda penolakan yang digalang oleh konfederasi Eropa. Tekanan terhadap Gianni Infantino mencuat pasca-terungkapnya rencana privatisasi Piala Dunia melalui penjualan saham kepada investor pada Juli lalu. Kendati rencana tersebut akhirnya dibatalkan karena gelombang penolakan, hubungan antara FIFA dan UEFA tetap merenggang.

UEFA menjadi salah satu pihak yang bersuara paling keras dalam mengecam kebijakan Infantino. Hubungan kedua lembaga sebelumnya juga sempat memanas menyusul penangguhan hukuman kartu merah Folarin Balogun, yang membuatnya bisa membela Amerika Serikat saat melawan Belgia di babak 16 besar Piala Dunia 2026.

Rencana Boikot dan Manuver Prancis

Menanggapi rentetan insiden tersebut, UEFA menyatakan telah kehilangan kepercayaan terhadap pimpinan FIFA. Merekapun merencanakan aksi boikot pada agenda pemilihan Presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung Maret 2027.

Langkah UEFA mencabut dukungan diikuti sejumlah federasi negara Eropa. Wales mengawali aksi pencabutan dukungan resmi pada awal Agustus, yang kemudian disusul dorongan penggantian kepemimpinan dari Inggris, Norwegia, Swedia, Denmark, Jerman, Serbia, Yunani, Albania, Belanda, hingga Kroasia.

Namun, Molina membeberkan indikasi pembelotan Prancis dalam video YouTube bertajuk "French Betrayal". Ia menyoroti sikap Presiden FFF, Philippe Diallo, yang memilih bungkam dan enggan menarik dukungan resmi untuk Infantino.

Sinyal Dukungan dari Kaledonia Baru

Guna meloloskan agenda pergantian pimpinan FIFA pada Maret 2027, UEFA membutuhkan minimal 106 suara dari total 211 anggota FIFA. Eropa sejatinya memegang 55 suara yang awalnya diharapkan solid mendukung posisi UEFA.

Kekhawatiran UEFA terhadap sikap Prancis makin menguat setelah Kaledonia Baru menerbitkan surat dukungan penuh kepada Infantino. Wilayah seberang laut Prancis tersebut diperkirakan memilih sejalan dengan keputusan FFF.

Molina menyebut Diallo secara personal telah menjadi rekan dekat Infantino dan enggan terlibat aksi boikot. Kendati demikian, langkah Diallo disinyalir dilakukan tanpa koordinasi menyeluruh dengan para anggota eksekutif FFF lainnya.

Keterlibatan Emmanuel Macron

Sikap kontroversial ini juga dikaitkan dengan dorongan Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Molina mengklaim Macron turut terlibat di balik layar dengan menyerukan persatuan yang mengarah pada pimpinan FIFA saat ini. "Di balik layar, presiden FFF mendukung Infantino dan tidak berniat mengikuti posisi UEFA terkait boikot. Permainan ganda juga dilakukan Emmanuel Macron, yang terlibat langsung dalam urusan Infantino," tulis Molina dalam unggahan media sosialnya.

Ia menambahkan bahwa posisi Diallo kini memicu keraguan mendalam di internal UEFA. Langkah politik Diallo yang disinyalir demi kepentingan karier di organisasi internasional dinilai berpotensi memberi dampak balik bagi dirinya sendiri. "Di dalam badan Eropa tersebut, keraguan sudah ada dan akan makin kuat karena Kaledonia Baru, anggota asosiasi FFF, baru saja menerbitkan surat dukungan penuh kepada Infantino," ujar Molina.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed