Kebijakan Perang Benjamin Netanyahu Hadapi Gelombang Protes Warga Israel
Gelombang unjuk rasa besar melanda beberapa kota di Israel akibat meningkatnya kritik publik terhadap kebijakan perang Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang dinilai tidak memiliki arah politik jelas. Sentimen negatif ini diperkuat oleh laporan kegagalan strategis dalam konflik dengan Iran dan ketegangan yang mendalam pada aliansi diplomatik antara Israel dan Amerika Serikat.
Aksi protes meluas dari pusat kota Tel Aviv hingga wilayah Yerusalem, Haifa, Karkur, Afula, Rosh Pina, Nahariya, dan Beersheba. Berdasarkan laporan surat kabar Haaretz yang dilansir Anadolu Agency, ratusan warga berkumpul pada Sabtu (20/6) waktu setempat, termasuk sekitar 1.000 demonstran yang memadati Lapangan Habima di Tel Aviv untuk menuntut pengunduran diri Netanyahu.
Di Tel Aviv, salah satu demonstran bernama Carmit Palty Katzir yang kehilangan ayahnya dalam serangan 7 Oktober 2023 mengecam kepemimpinan perdana menteri. Ia menyoroti jatuhnya ribuan korban jiwa serta puluhan ribu orang yang terluka secara fisik dan psikologis akibat konflik berkepanjangan.
Sementara itu, pihak kepolisian dilaporkan menyita pengeras suara milik demonstran di Lapangan Paris, dekat kediaman Netanyahu di Yerusalem, dengan alasan mencegah kebisingan. Mantan wakil kepala Dewan Keamanan Nasional Israel, Eran Etzion, yang ikut berunjuk rasa di Haifa turut memperingatkan warga untuk waspada terhadap manipulasi politik menjelang pemilihan umum.
Di sisi lain, tekanan terhadap militer Israel juga datang dari perbatasan utara oleh kelompok Hizbullah. Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menyatakan perlawanan bersenjata akan terus berlanjut di Lebanon.
"Israel tidak punya pilihan selain menarik diri dari wilayah Lebanon," tegas Qassem.
Narasi kegagalan strategis Israel ini juga dianalisis oleh Robert Kuttner dalam majalah The American Prospect. Menurut Kuttner, perang melawan Iran justru gagal meruntuhkan Teheran dan memicu keretakan hubungan antara Washington dan Tel Aviv akibat tindakan sepihak Netanyahu, terutama setelah perpanjangan gencatan senjata di Lebanon yang dimediasi Amerika Serikat.
Ketidakpuasan domestik ini tercermin dari jajak pendapat publik di Israel yang dikutip Kuttner, di mana sekitar 92 persen responden meyakini Iran keluar sebagai pemenang dalam konflik tersebut. Selain itu, survei menunjukkan kepercayaan warga Israel terhadap Presiden AS Donald Trump merosot hingga tersisa 13 persen dalam hal perlindungan kepentingan Israel, sementara posisi politik Netanyahu terancam menjelang pemilu musim gugur.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow