Prototipe Rumah Tahan Gempa BRIN Kokoh Diterjang Gempa M7,7 NTT
Tiga unit prototipe rumah tahan gempa buatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terbukti tetap berdiri kokoh tanpa retak struktural usai diguncang gempa bermagnitudo M7,7 di Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026. Keberhasilan teknologi ini dilansir dari Detikcom melalui pemantauan resmi situs BRIN di Dusun Rangko, Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat. Hasil inspeksi menunjukkan area dinding, kolom, hingga fondasi bangunan sama sekali tidak mengalami kerusakan struktural.
Dampak guncangan hanya memicu kerusakan kosmetik, seperti beberapa keramik dinding kamar mandi yang terlepas dari panel Sandwich EPS dan pecah. Kondisi bangunan inovasi ini berbanding terbalik dengan gedung Sekolah Dasar Rangko yang berlokasi di dekatnya. Berdasarkan dokumentasi per 16 Agustus 2026, fasilitas pendidikan tersebut mengalami kerusakan pada bagian struktur akibat gempa.
Ketiga hunian cepat bangun itu sejatinya dibangun pada rentang 2021-2022 untuk mengembangkan teknologi konstruksi di area rawan bencana. Riset ini awalnya dirintis oleh BPPT sebelum akhirnya dilanjutkan oleh BRIN pascaintegrasi lembaga penelitian.
Perekayasa Ahli Muda BRIN, Vian Marantha Haryanto, menyebutkan bahwa bangunan dirancang khusus untuk mengantisipasi potensi gempa tinggi. Evaluasi lapangan pun mengonfirmasi ketahanan seluruh elemen utama bangunan. "Rumah-rumah ini dirancang khusus dengan teknologi konstruksi tahan gempa untuk wilayah rawan bencana seperti NTT. Hasil ini membuktikan bahwa desain dan metode konstruksi yang kami terapkan mampu melindungi struktur bangunan, dan yang terpenting, melindungi keselamatan penghuninya, bahkan saat diguncang gempa sebesar ini," kata Vian.
Sebagai langkah validasi teknis lanjutan, BRIN menjadwalkan pengujian di laboratorium Pusat Riset Kekuatan Struktur. Prosedur tersebut bakal menerapkan uji siklik yang mengacu pada standar SNI 3966:2012. "Gempa besar yang mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026 menjadi ujian lapangan bagi teknologi tersebut," ujar Vian.
BRIN kini tengah menyempurnakan inovasi tersebut pada rumah modular generasi kedua dengan menyematkan komponen rubber bearing seismic. Fitur buatan Pusat Riset Komposit dan Biomaterial BRIN ini memanfaatkan karet alam atau polimer elastis guna meredam getaran. "Rubber bearing seismic bekerja dengan memisahkan struktur bagian bawah dan atas bangunan.
Ketika terjadi gaya geser akibat gempa, komponen tersebut dirancang untuk membantu menahan gaya geser sehingga dampak guncangan yang diterima struktur bangunan dapat dikurangi," kata Vian. Teknologi modular ini didorong agar diadopsi sebagai model standar dalam agenda rehabilitasi dan rekonstruksi hunian di wilayah rawan gempa. Langkah ini krusial demi meminimalkan risiko kerusakan properti serta melindungi nyawa warga.
Selain inovasi teknik, BRIN menekankan pentingnya integrasi standar bangunan tahan gempa dan edukasi bencana ke dalam kebijakan perumahan di tingkat daerah. Secara teknis, model bangunan ini mengusung prinsip 'strong column, weak beam' dengan struktur simetris dan berbobot ringan sehingga lebih stabil, efisien diangkut, serta mudah dirakit.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow