BRIN Uji Rumah Modular Tahan Gempa di Manggarai Barat

Smallest Font
Largest Font

Tiga unit prototipe rumah modular tahan gempa besutan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terbukti tetap berdiri kokoh di Dusun Rangko, Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bangunan tersebut berhasil bertahan tanpa kerusakan struktur usai dilanda guncangan gempa bermagnitudo 7,7 beserta rangkaian gempa susulan, seperti dilansir dari Detikcom.

Hasil pemantauan pascabencana menunjukkan sama sekali tidak ada retakan struktural pada komponen fondasi, kolom, maupun dinding ketiga hunian tersebut. Kerusakan yang timbul hanya tergolong masalah kosmetik ringan, yakni sebagian keramik dinding kamar mandi yang terlepas dari panel sandwich EPS akibat kuatnya getaran. Kondisi ini berbanding terbalik dengan bangunan SD Rangko di dekatnya yang mengalami kerusakan struktural.

Pembangunan ketiga unit hunian ini berlangsung pada kurun waktu 2021 hingga 2022. Proyek tersebut merupakan kelanjutan dari pengembangan teknologi konstruksi tahan gempa yang awalnya dirintis oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sebelum akhirnya terintegrasi ke dalam BRIN.

"Hasil ini membuktikan bahwa desain dan metode konstruksi yang kami terapkan mampu melindungi struktur bangunan, dan yang terpenting, melindungi keselamatan penghuninya, bahkan saat diguncang gempa sebesar ini," kata perekayasa ahli muda BRIN, Vian Maranta Haryanto.

Meskipun kondisi fisik di lapangan menunjukkan hasil yang memuaskan, pihak BRIN tetap menjadwalkan evaluasi teknis lanjutan di laboratorium. Pengujian lanjutan tersebut akan menggunakan metode uji siklik yang merujuk pada standar SNI 3966:2012 di fasilitas Pusat Riset Kekuatan Struktur.

"Gempa besar yang mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026 menjadi ujian lapangan bagi teknologi tersebut," ujar Vian.

Performa tangguh dari prototipe ini bakal dimanfaatkan sebagai bahan evaluasi penting untuk penyempurnaan rumah modular tahan gempa yang dikembangkan riset nasional. Hasil analisis teknisnya akan direkomendasikan sebagai pedoman standar dalam skema rehabilitasi serta rekonstruksi pemukiman pascabencana.

Melalui Pusat Riset Komposit dan Biomaterial, BRIN mendorong pemerintah pusat dan daerah agar mengadopsi standar hunian tahan gempa guna mempercepat pemulihan pemukiman warga. Model konstruksi ini diusulkan untuk direplikasi secara masif di berbagai kawasan rawan bencana lainnya di Indonesia.

Pengembangan riset struktur ini sebetulnya telah berjalan sejak 2019, dimulai dari pembangunan dua unit di Kabupaten Tangerang. Proyek kemudian berlanjut ke bangunan dua lantai di Kabupaten Lebak pada 2021, sebelum akhirnya dibangun tiga unit di kawasan NTT pada akhir 2021.

BRIN juga terus memperbarui inovasi pada tipe hunian modular generasi kedua dengan menyematkan komponen rubber bearing seismic. Komponen berbahan dasar karet alam atau polimer elastis ini dikembangkan khusus oleh Pusat Riset Komposit dan Biomaterial untuk meredam guncangan.

"Rubber bearing seismic bekerja dengan memisahkan struktur bagian bawah dan atas bangunan. Ketika terjadi gaya geser akibat gempa, komponen tersebut dirancang untuk membantu menahan gaya geser sehingga dampak guncangan yang diterima struktur bangunan dapat dikurangi," kata Vian.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed