Fenomena Puncak Hujan Meteor Perseid dan Dua Hujan Meteor Bersamaan
Pengamat astronomi di seluruh dunia disuguhi rangkaian fenomena langit pada akhir Juli hingga pertengahan Agustus 2026, yang dipuncaki oleh hujan meteor Perseid pada 12 dan 13 Agustus 2026. Peristiwa ini melengkapi hujan meteor ganda Alpha Capricornid dan Delta Aquariid Selatan yang sebelumnya mencapai puncaknya pada 30 Juli 2026.
Hujan meteor Perseid dikenal sebagai salah satu fenomena tahunan paling andal karena menghasilkan kilatan cahaya terang yang cepat serta sesekali menghadirkan bola api (fireball). Pada tahun ini, puncak Perseid bertepatan dengan fase bulan baru pada 12 Agustus 2026, sehingga kondisi langit malam menjadi sangat gelap dan minim gangguan cahaya bulan.
Pengamat di kawasan Uni Emirat Arab (UEA) dan wilayah sekitarnya diperkirakan dapat menyaksikan hingga 100 meteor per jam. Fenomena Perseid disebabkan oleh sisa-sisa debu dan es dari Komet Swift-Tuttle yang terbakar saat memasuki atmosfer Bumi. Komet berdiameter 26 kilometer tersebut mengorbit Matahari setiap 133 tahun sekali dan terakhir kali melintas dekat Bumi pada tahun 1992.
Perwakilan dari Dubai Astronomy Group memberikan panduan teknis mengenai karakteristik fenomena astronomi ini.
"Paling diandalkan," kata Khadijah Al Hariri, perwakilan Dubai Astronomy Group, saat menggambarkan keunggulan hujan meteor Perseid.
Ia juga membeberkan rentang waktu ideal bagi masyarakat yang ingin mengamati fenomena tersebut dari area terbuka.
"Tidak lebih besar dari sebutir pasir," ujar pihak Dubai Astronomy Group mengenai ukuran serpihan debu dan es Komet Swift-Tuttle yang memicu hujan meteor.
Dubai Astronomy Group dijadwalkan menggelar acara pengamatan bersama di Gurun Al Khatim, Abu Dhabi, mulai pukul 23.00 waktu setempat pada 12 Agustus 2026. Para pengamat disarankan untuk tidak menggunakan teleskop atau teropong karena alat bantu optik justru membatasi sudut pandang area langit yang luas. Pengamatan disarankan menggunakan mata telanjang setelah membiarkan mata beradaptasi dengan kegelapan selama 20 hingga 30 menit.
Sebelum puncaknya Perseid, masyarakat global lebih dahulu menyaksikan hujan meteor ganda Alpha Capricornid dan Delta Aquariid Selatan pada malam 30 Juli 2026. Delta Aquariid Selatan memancarkan hingga 25 meteor per jam dari konstelasi Aquarius, sedangkan Alpha Capricornid menghasilkan rata-rata 3 meteor terang per jam dari konstelasi Capricornus. Berbeda dengan Perseid yang bertepatan dengan bulan baru, puncak Alpha Capricornid dan Delta Aquariid terjadi saat bulan berada pada fase 98 persen penuh akibat fenomena Buck Moon.
Selain fenomena utama tersebut, American Meteor Society (AMS) mencatat aktivitas meteor rutin lainnya pada periode akhir Juli hingga Agustus, seperti kappa Cygnids (KCG) dan July gamma Draconids (GDR). Pihak lembaga astronomi membagikan batasan teknis terkait definisi fenomena ini.
"Sejumlah meteor teramati memancar, atau berasal, dari satu titik di langit malam yang disebut Radiant," kata perwakilan AMS.
Guna meminimalkan kilauan cahaya bulan saat mengamati hujan meteor periode Juli, para ahli membagikan strategi khusus bagi para pengamat di lapangan.
"Menghadap ke utara dengan posisi bulan di belakang Anda, sehingga cahaya bulan langsung tidak memengaruhi penglihatan malam Anda," ujar Bob Lunsford, koordinator laporan di AMS.
Bagi para fotografer, pengamatan dapat dioptimalkan dengan mengarahkan kamera DSLR atau mirrorless ke arah radian konstelasi Perseus, menggunakan lensa sudut lebar, tripod, bukaan lensa f/2.8 atau lebih rendah, serta pencahayaan 15 hingga 30 detik pada ISO 1600 atau lebih tinggi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow