Dua Hujan Meteor Capai Puncak Bersamaan Akhir Juli 2026
Dua fenomena hujan meteor periodik, Southern Delta Aquariids dan Alpha Capricornids, mencapai titik puncak pengamatan secara bersamaan pada 30 dan 31 Juli 2026 di seluruh wilayah Indonesia. Fenomena ganda ini terjadi akibat Bumi melintasi dua jalur sisa puing komet yang berbeda dalam periode waktu bersinggungan.
Hujan meteor Southern Delta Aquariids memancarkan intensitas hingga 25 meteor per jam yang bergerak cepat dari arah rasi Aquarius. Sementara itu, Alpha Capricornids memproduksi sekitar 5 meteor per jam dari rasi Capricornus yang cenderung meluncur lebih lambat serta kerap menghasilkan kilatan bola api terang.
Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional mengonfirmasi posisi strategis wilayah Indonesia untuk menyaksikan peristiwa langit ini secara langsung tanpa memerlukan bantuan teleskop.
"Dua hujan meteor ini mencapai puncaknya secara bersamaan pada akhir Juli. Indonesia berada pada posisi pengamatan yang sangat strategis," kata Thomas Djamaluddin, Peneliti Utama Pusat Riset Antariksa BRIN.
Masyarakat yang berencana menyaksikan fenomena ini disarankan memilih lokasi pengamatan yang terbuka dan terbebas dari paparan polusi cahaya perkotaan.
"Waktu pengamatan terbaik terjadi pada saat sebelum fajar atau setelah tengah malam. Ketika posisi titik radian sudah berada cukup tinggi di langit," ujar Thomas.
Area pegunungan maupun pesisir pantai menjadi titik pantau ideal, dengan memberi waktu adaptasi kegelapan bagi mata selama 15 hingga 30 menit.
"Untuk bisa melihat fenomena ini secara optimal, ada tiga syarat utama yang harus terpenuhi. Seperti cuaca cerah, pandangan ke langit tidak terhalang, dan lokasi pengamatan jauh dari polusi cahaya," kata Thomas.
Thomas menegaskan bahwa seluruh serpihan debu komet akan habis terbakar di lapisan atmosfer pada ketinggian di atas 80 kilometer sehingga tidak berpotensi membahayakan permukaan Bumi.
Di sisi lain, pengamat amatir menyoroti tantangan intensitas cahaya Bulan pascapurnama yang dapat menyamarkan pendar meteor redup.
"Namun, karena bersamaan dengan cahaya Bulan pasca purnama, jumlah meteor yang benar-benar terlihat diperkirakan jauh lebih sedikit, hanya sekitar separuh untuk Delta Aquarida selatan dan sekitar 1-2 meteor per jam untuk Alfa Capricornida," kata Marufin Sudibyo, Astronom Amatir.
Waktu ideal untuk mengamati pergerakan kilatan cahaya ke arah barat, utara, atau selatan ini berlangsung mulai tengah malam hingga menjelang fajar.
"Pada tengah malam, meteor dari kedua hujan meteor ini dapat disaksikan sebagai kilatan cahaya yang bergerak ke arah barat, utara, atau selatan," kata Marufin.
Pengamatan disarankan dilakukan dengan pandangan bebas ke arah langit timur saat tengah malam atau ke arah selatan dan utara menjelang subuh.
"Cara pengamatannya cukup dengan mengarahkan pandangan ke langit bagian utara atau selatan menjelang waktu subuh, atau ke langit bagian timur saat tengah malam," ujar Marufin.
Penggunaan teleskop justru tidak direkomendasikan karena dapat membatasi sudut pandang pengamatan di langit malam.
"Jika ingin menggunakan alat bantu optik, kamera bersudut pandang lebar atau kamera langit (sky camera) menjadi pilihan yang lebih baik dibandingkan teleskop," tutur Marufin.
Kawasan perkotaan padat seperti Jabodetabek dinilai kurang ideal akibat ambang batas polusi cahaya yang tinggi.
"Mata manusia umumnya baru bekerja optimal di lingkungan gelap setelah beradaptasi minimal 30 menit," ungkap Marufin.
Penggunaan sumber cahaya putih seperti gawai atau senter terang perlu dihindari guna menjaga sensitivitas penglihatan malam selama periode pengamatan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow