Roberto Martinez Mundur dari Kursi Pelatih Portugal Pasca Piala Dunia

Smallest Font
Largest Font

Pelatih Tim Nasional Portugal Roberto Martinez memutuskan tidak memperpanjang kontraknya dan bakal segera mundur dari jabatannya setelah kompetisi Piala Dunia 2026 berakhir pada Juli mendatang.

Dilansir dari talkSPORT pada Selasa (16/6), keputusan juru taktik asal Spanyol tersebut diambil berdasarkan kesepakatan bersama dengan Federasi Sepak Bola Portugal (FPF) agar pencarian suksesor bisa segera dimulai. Martinez dilaporkan berniat kembali melatih klub di Liga Inggris atau kompetisi Eropa, serta tidak menutup peluang untuk menangani negara lain.

Pengamat sepak bola Alex Crook memberikan rincian terkait keputusan sang pelatih dalam acara penyiaran radio bersama Rory Jennings dan Darren Bent.

"I am told it it is his decision not to renew his contract with Martinez looking to return to club management either in the Premier League or a top European side, or potentially, take over one of the other big European nations." ujar Crook, Pengamat talkSPORT.

Crook menambahkan bahwa pengumuman resmi belum disampaikan kepada publik, namun Martinez dipastikan akan menghadapi pertanyaan media pada kesempatan berikutnya menyangkut keputusan yang diambil bersama FPF ini.

"We've not heard anything publicly about it, but no doubt, he will be asked about it the next time he faces the media." kata Crook, Pengamat talkSPORT.

Menurut Crook, situasi ini berpotensi memotivasi para pemain Portugal untuk memberikan perpisahan terbaik bagi Martinez, terlebih skuad Selecao das Quinas memiliki komposisi pemain berbakat yang luar biasa.

"But the decision has been made in conjunction with the Portuguese FA, so they can start looking for a potential successor." tutur Crook, Pengamat talkSPORT.

Mantan manajer legendaris Jose Mourinho sempat dinilai sebagai kandidat kuat pengganti, namun posisi tersebut gugur karena Mourinho sudah berkomitmen melatih Real Madrid.

"I think had Jose Mourinho not already taken that job at Real Madrid, he would have been a genuine contender." ujar Crook, Pengamat talkSPORT.

Crook juga meyakini kekuatan Portugal saat ini masih sering dipandang sebelah mata oleh banyak pihak menjelang turnamen global tersebut.

"It might galvanise the Portuguese players to send Martinez out on a high." kata Crook, Pengamat talkSPORT.

Kualitas mendalam di dalam tim Portugal dianggap menjadi modal besar untuk mengarungi kompetisi di Amerika Utara.

"Before I came out here, I thought Portugal were being overlooked, but when you look at the talent they've got..." tutur Crook, Pengamat talkSPORT.

Meskipun performa kapten utama Cristiano Ronaldo memicu banyak pertanyaan, Crook menilai kualitas kolektif Portugal tetap menjanjikan.

"There are a lot of question marks over Cristiano Ronaldo." ujar Crook, Pengamat talkSPORT.

Crook menegaskan keunggulan komposisi tim Portugal dibandingkan dengan kontestan-kontestan lain yang berlaga di Piala Dunia.

"But I haven't seen a team yet that will be as good as Portugal might well be." kata Crook, Pengamat talkSPORT.

Merespons situasi internal tim yang beredar ke publik, pihak federasi langsung mengeluarkan pernyataan tertulis demi menjaga kondusivitas skuad.

“The FPF and Roberto Martinez are focused exclusively on the World Cup. The federation and the coach are aligned on this matter, as they have publicly stated.” tulis Federasi Sepak Bola Portugal (FPF), dalam pernyataan resminya.

Rekor Martinez bersama Portugal tercatat sangat impresif dengan rasio kemenangan mencapai 70 persen, tertinggi dalam sejarah negara tersebut, serta menjadi pelatih tercepat yang membawa tim mencetak 100 gol. Setelah tersingkir di perempat final Euro 2024 oleh Prancis, Martinez membawa Portugal menjuarai Nations League kedua mereka dengan mengalahkan Spanyol pada final tahun 2025.

Sebelum memulai laga pembuka Grup melawan DR Kongo pada hari Rabu, Martinez memberikan pandangannya mengenai ekspektasi besar dari publik Portugal.

"I wouldn't say there's an anxiety in Portugal to win the World Cup." ujar Roberto Martinez, Pelatih Timnas Portugal.

Martinez menjelaskan bahwa keberadaan figur-figur pemimpin klub besar Eropa di dalam skuadnya memicu optimisme tinggi di masyarakat.

"I would say it’s excitement, hope. That comes with these players." kata Roberto Martinez, Pelatih Timnas Portugal.

Pemain kunci seperti Cristiano Ronaldo, Bruno Fernandes selaku kapten Manchester United, Diogo Costa selaku kapten Porto, dan Bernardo Silva selaku kapten Manchester City menjadi pilar utama emosional publik.

"We’re talking about Cristiano Ronaldo. The Manchester United captain [Bruno Fernandes]. The Porto captain [Diogo Costa].

The Man City captain [Bernardo Silva]. Four important players at the European champions [Paris Saint-Germain]. That makes the Portuguese people feel good." tutur Roberto Martinez, Pelatih Timnas Portugal.

Kendati menyadari Portugal belum pernah memenangi trofi Piala Dunia sepanjang sejarah, Martinez tetap mendorong anak asuhnya untuk berani bermimpi besar.

“We know we’ve never won the World Cup; that tells us it’s hard." ujar Roberto Martinez, Pelatih Timnas Portugal.

Faktor detail kecil dan dinamika turnamen yang cepat disebut Martinez bisa menjadi penentu, namun mentalitas pemenang tetap menjadi tuntutan utama.

"We know things can change fast, that talent alone is not enough, that small details can go against you, and of course it’s a hammer blow when you don’t succeed, but let us dream." kata Roberto Martinez, Pelatih Timnas Portugal.

Martinez menegaskan komitmen sikap yang harus ditunjukkan oleh seluruh anggota tim nasional sepanjang turnamen berlangsung.

"I think we can. And that’s the attitude I want our team to have." tutur Roberto Martinez, Pelatih Timnas Portugal.

Di sisi lain, mantan penyerang Inggris Darren Bent mempertanyakan rekam jejak Martinez yang dianggap menyia-nyiakan 'Generasi Emas' Belgia saat hanya meraih posisi ketiga pada Piala Dunia 2018 dan tersingkir di fase grup pada 2022. Crook memberikan pembelaan terhadap kritik tersebut dengan membandingkan kesulitan tim nasional lain.

"It is difficult to win a World Cup. England haven't done it since 1966." ujar Crook, Pengamat talkSPORT.

Crook menilai pencapaian semifinal ditambah trofi Nations League sudah cukup membuat era kepelatihan Martinez di Portugal dikategorikan sukses besar.

"There are some fantastic sides that are going to develop and evolve." kata Crook, Pengamat talkSPORT.

Evaluasi terhadap performa buruk Belgia di masa lalu menurut Crook tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada kesalahan taktik Martinez semata.

"If Portugal find themselves in a semi-final, he as a Nations League triumph under his belt, so I think he'd go down as resounding success." tutur Crook, Pengamat talkSPORT.

Sorotan tajam terhadap generasi emas Belgia juga didasarkan pada performa mereka yang dinilai kurang meyakinkan saat berhadapan dengan Mesir.

"I take your point about that 'Golden Generation', but they didn't look particularly golden against Egypt." ujar Crook, Pengamat talkSPORT.

Crook menyimpulkan adanya masalah internal mendalam yang selalu membayangi timnas Belgia setiap kali tampil di turnamen major interasional.

"There just seems to be something wrong with that Belgium side whenever they turn up at a major international tournament, you expect them to do well, and they don't quite deliver." kata Crook, Pengamat talkSPORT.

Faktor kegagalan Belgia dalam memenuhi ekspektasi dianggap melampaui kendali manajerial yang dijalankan Martinez kala itu.

"I am not sure you can blame that on Martinez." tutur Crook, Pengamat talkSPORT.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed