Rumah Hijau Kokoh Hadapi Banjir Bandang Nepal dan Korban Meningkat

Smallest Font
Largest Font

Banjir bandang dahsyat melanda Nepal sejak 26 Agustus 2026, menyebabkan lebih dari 1.000 korban jiwa dan ribuan orang hilang. Di tengah kerusakan luas, sebuah rumah hijau di Trishuli, Distrik Nuwakot, tetap berdiri kokoh, menyelamatkan seluruh penghuninya dari terjangan banjir.

Rumah beton bertulang yang dikenal sebagai "rumah ajaib" itu menahan hantaman air, lumpur, dan puing selama hampir dua jam, memberi perlindungan bagi keluarga Prakash Pandey Pyakurel dan anggota keluarganya.

"Kami sangat ketakutan. Kami bersiap diri, ini adalah akhir zaman. Saya memberi tahu semua orang bahwa kita harus mati bersama," ujar Pyakurel kepada The Telegraph.

Video banjir yang viral menunjukkan lantai dasar rumah terendam lumpur dan pintu serta jendela rusak, namun struktur utama tetap utuh. Setelah selamat, Pyakurel menambahkan, "Kami mendapatkan kehidupan baru. Semua orang mengatakan bahwa ini adalah keajaiban. Kami masih tidak percaya bisa hidup."

Bencana ini juga menimbulkan kerusakan besar di wilayah hilir sepanjang 168 kilometer, menghancurkan 19 jembatan dan 40 kilometer jalan raya, serta melumpuhkan lebih dari 10 persen kapasitas pembangkit listrik Nepal, menurut Stimson Center.

Keshav Prasad Baral, warga Desa Tupche, mengungkapkan dampak dahsyat banjir itu. "Itu bukan air. Itu adalah semburan lumpur dalam jumlah sangat besar yang langsung mengarah ke kami," katanya. Ia juga kehilangan istrinya yang terbawa lumpur.

Kepala Sekolah Tribhuvan Trishuli, Rajendra Dawadi, menyelamatkan sekitar 900 siswa dalam 14 menit saat banjir datang menyerang sekolah mereka, dari total 1.600 siswa yang terdaftar, menurut laporan Kompas.id.

Korban tewas akibat banjir dan tanah longsor di Nepal kini mencapai 1.056 jiwa, dengan lebih dari 3.000 orang masih hilang, termasuk sekitar 590 warga asing dari 39 negara, kata Kementerian Luar Negeri Nepal dan CCTV yang dikutip ANTARA.

Analisis menunjukkan bencana ini dipicu oleh runtuhnya gletser Himalaya setinggi 5.200 meter yang jatuh lebih dari satu kilometer, memicu longsoran es dan batuan yang membendung Sungai Lhende Khola. Ketika bendungan alami itu runtuh, tercetus banjir bandang yang menghantam wilayah hilir, menurut Institut Geofisika dan Vulkanologi Italia (INGV).

Dosen Fisika dan peneliti perubahan iklim Nofiyendri Sudiar menyatakan bahwa perubahan iklim menyebabkan ketidakstabilan gletser dan permafrost di pegunungan tinggi seperti Himalaya, meskipun belum cukup bukti runtuhnya gletser ini langsung disebabkan oleh pemanasan global.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed