Ahli Waris Jual Rumah Peninggalan Prof Sardjito di Yogyakarta

Smallest Font
Largest Font

Pihak keluarga menyepakati untuk menjual rumah kuno bergaya jengki peninggalan pahlawan nasional sekaligus rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof dr M Sardjito, yang terletak di Jalan Cik Di Tiro, Terban, Gondokusuman, Kota Jogja.

Properti dengan sertifikat hak milik (SHM) tersebut memiliki luas tanah 1.206 meter persegi dan luas bangunan sekitar 800 meter persegi yang berstatus sebagai rumah warisan budaya. Penjualan ini didasarkan pada keputusan ahli waris, yaitu dua cucu Prof Sardjito bernama Alita Poedjioetomo dan Dyani Poedjioetomo yang saat ini menetap di Jakarta, karena kondisi bangunan dinilai sudah tidak terawat dengan baik.

Rektor UGM Prof Ova Emilia menyatakan pihak universitas memahami adanya perhatian publik mengenai kabar penjualan rumah kediaman rektor pertama UGM tersebut, namun menegaskan bahwa properti itu merupakan ranah privat keluarga.

"Perlu kami sampaikan bahwa rumah tersebut merupakan milik pribadi keluarga, sehingga terkait kepemilikan maupun keputusan atas rumah tersebut sepenuhnya menjadi ranah keluarga dan bukan kewenangan Universitas," kata Ova, Selasa (19/5/2026).

Ova menambahkan bahwa UGM tetap menaruh rasa hormat yang tinggi terhadap seluruh nilai sejarah serta jasa-jasa para pendiri yang telah memberikan kontribusi besar bagi institusi.

"Pada saat yang sama, kami juga menghormati hak dan keputusan keluarga sebagai pemilik sah rumah tersebut," ujarnya.

Meskipun demikian, pihak universitas saat ini sedang menyusun rencana untuk dapat memanfaatkan bangunan bersejarah tersebut demi kepentingan publik.

"UGM tengah berupaya untuk memanfaatkan rumah tersebut untuk kegiatan akademik dan sosial sehingga mampu merekognisi nilai sejarah atas rumah itu. Upaya-upaya tersebut sedang dilakukan dengan menggandeng KAGAMA," katanya.

Kerabat keluarga yang menjaga rumah tersebut, Budhi Santoso, menjelaskan kronologi penawaran properti secara langsung kepada pihak internal dan sejumlah tokoh tanpa menggunakan jasa perantara demi menjaga kelestarian nilai sejarahnya.

"Yang punya ide melepas rumah ini memang saya, karena kenapa? Masalahnya, maaf ya, tidak dirawat dengan baik-baik. Akhirnya berunding lah (dengan ahli waris), setuju, nah sekarang masih dalam proses lah," kata Budhi saat ditemui detikJogja, Kamis (14/5).

Budhi mengungkapkan keinginan besarnya agar aset historis ini dapat dialihkan kembali kepada institusi pendidikan tempat Prof Sardjito dahulu mengabdi sebagai pimpinan tertinggi.

"Kalau harapan saya, memang yang punya ide untuk mengembalikan ke UGM memang saya, daripada ke orang asing, maaf lho ya, pasti jadi kafe. Kalau memang itu (mau dijual) ya tawarkan ke UGM atau UII, soalnya dulu Pak Sardjito pernah jadi Rektor UII juga, itu akan lebih terhormat, akan dirawat," tuturnya.

Budhi juga membeberkan alasan mendasar lain di balik saran penjualan aset warisan tersebut yang berkaitan dengan faktor usia dari para ahli waris yang bersangkutan.

"Namanya warisan sebaiknya segera dibagi menurut saya. Saya menyarankan dikembalikan (untuk dibeli) ke UGM aja. Daripada, daripada kalau tidak dirawat dengan baik sayang rumahnya. Kalau saya. Dan sudah waktunya lah. Mereka (ahli waris) sudah usia 70an (tahun)," kata Budhi kepada kumparan, Rabu (13/5).

Budhi yang merupakan adik ipar dari anak tunggal Prof Sardjito mengenang garis silsilah keluarganya serta awal mula ia mulai menempati rumah tersebut sejak puluhan tahun silam.

"Saya dengan Pak Sardjito dan Bu Sardjito adalah adik mantu. Ayah saya ketika itu berbesan dengan Prof Sardjito," katanya.

Budhi menceritakan situasi masa lalu ketika ia diminta tinggal di rumah tersebut untuk mendampingi istri Prof Sardjito di saat putranya sering berada di luar negeri.

"Dan di sini kebetulan Bu Sardjito juga melestarikan penemuan Prof. Sardjito obat tradisional yang namanya Calcusol peluruh batu urine," ceritanya.

Tanggung jawab tersebut kemudian berkembang menjadi amanah besar untuk mengelola unit usaha jamu tradisional yang didirikan oleh keluarga sang pahlawan nasional.

"Nah akhirnya estafet demi estafet sekarang pemegang tampuk usaha adalah buyutnya. Beratted kan saya sudah melampaui masa regenerasi empat zaman kan. Bu Sardjito, putranya, cucunya, buyutnya," katanya.

Mengenai nilai transaksi dari properti yang berada di pusat kota Yogyakarta ini, Budhi enggan merinci nominal pastinya secara mendetail kepada kumparan.

"Enggak usah bilang ya pokoknya M gitu aja (miliaran)," kata Budhi.

Budhi juga mengingatkan adanya aturan hukum dan sanksi denda yang mengikat bagi siapa pun pemilik bangunan ini terkait struktur asli bangunan induk.

"Rumah induk yang gini itu tidak boleh diubah (bentuknya). Ketika pemiliknya ubah dendanya 500 juta ya," katanya.

Ia menegaskan nilai historis rumah tersebut sangat tinggi karena pernah menjadi tempat berkumpul dan berdiskusi para tokoh penting serta pendiri bangsa Indonesia.

"Karena rumah ini adalah rumah bersejarah. Pak Karno, Sri Sultan Hamengkubuwono, Pak Hatta dan yang lain termasuk ayahnya Bapak Prabowo yang sekarang Presiden pernah ke sini. Buktinya ada," katanya.

Budhi menyatakan dirinya bahkan sempat memberikan usulan langsung kepada Rektor UGM mengenai opsi fungsional terbaik jika proses pengalihan aset ini terealisasi.

"Dulu sampai pernah nego dan sebagainya sampai Ibu Rektor (UGM) datang ke sini. Saya sarankan Ibu kalau rumah ini jadi dilepas, pergunakan lah sebaik mungkin sebagai rumah dinas antar rektor," katanya.

Ia menambahkan kekhawatiran pribadinya apabila rumah penuh sejarah tersebut jatuh ke tangan pihak luar yang hanya akan menjadikannya sebagai tempat usaha komersial.

"Tapi maaf kalau ini dibeli sama orang asing ya entah siapa pun nek dinggo (kalau dipakai) kafe saya tuh susah, ngelus dada," katanya.

Budhi berharap fungsi akhir dari bangunan ini tetap menjaga kehormatan dan rekam jejak perjuangan kesehatan yang telah dirintis oleh Prof Sardjito semasa hidupnya.

"Paling mulia rumah ini dipakai hunian pribadi atau dibeli UGM atau UII dipakai rumah sejarah," jelasnya.

Di sisi lain, Budhi mengungkapkan perasaan tidak nyaman setelah mengetahui kabar mengenai penjualan rumah peninggalan tersebut mendadak ramai diperbincangkan di platform digital.

"Saya itu malah malu ketika saya melihat (ada iklan) malu ya. Kalau memang ini dilepas dan kata mau dijual kalau saya seperti yang saya kan sudah menawarkan sepuluh orang. Saya secara pribadi face to face atau saya lewat rekan tokoh kerabat. Tapi sudah masuk di iklan saya terus terang aja saya malu," katanya.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed