Mahasiswa UGM Teliti Ekstrak Daun Kelor untuk Redakan Stres Korban Bullying

Smallest Font
Largest Font
Table of Contents
[ Show ]

Tekanan sosial jangka panjang akibat perundungan dapat memicu stres sosial kronis yang berdampak buruk bagi kesehatan mental dan otak. Selama ini, penanganan psikologis maupun neurologis korban perundungan umumnya bergantung pada layanan konseling serta intervensi farmakologis.

Melihat keterbatasan tersebut, tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menguji potensi daun kelor (Moringa oleifera) sebagai alternatif alami untuk meredakan dampak stres pada jaringan otak, seperti dilansir dari Detikcom.

Riset lintas disiplin ini dijalankan oleh lima mahasiswa UGM melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Tim terdiri atas Nisrina Rahma Ardihapsari dan Hanin Izdihar dari Fakultas Biologi, Maryam Izzati Muthmainnah dari Fakultas Psikologi, Lakshinta Hasna Hapsari dari Fakultas Farmasi, serta Syakira Fauzia Fatoni dari Fakultas Kedokteran.

Secara biologis, paparan stres sosial yang berkepanjangan memicu pelepasan hormon kortisol secara terus-menerus. Kondisi tersebut berpotensi merusak fungsi dan struktur otak, terutama pada bagian hipokampus.

Hipokampus memegang peranan krusial dalam pembentukan serta penyimpanan memori. Kerusakan pada area ini berisiko menurunkan kemampuan mengingat, mengganggu konsentrasi, hingga memicu kemunduran fungsi sel-sel saraf secara berlanjut.

Guna mengamati efek mekanismenya, tim peneliti menerapkan metode Chronic Social Defeat Stress (CSDS) menggunakan hewan uji mencit. Pengujian dilakukan dengan mempertemukan mencit korban dan mencit agresor secara terkontrol dan berulang.

Interaksi berulang tersebut membentuk tekanan sosial yang menyerupai pengalaman korban perundungan. Melalui model biologi ini, tim mengamati perubahan memori spasial serta indikasi kerusakan sel saraf.

"Kondisi inilah yang kemudian digunakan sebagai representasi biologi dari dampak bullying jangka panjang pada manusia, khususnya untuk mengamati perubahan pada memori spasial dan tanda-tanda kerusakan sel saraf," tutur Nisrina dikutip dari laman resmi UGM, Kamis (10/9/2026).

Kandungan Bioaktif Daun Kelor untuk Otak

Peneliti menguji pemberian ekstrak daun kelor secara oral pada beberapa tahap induksi stres untuk melihat efek perlindungan neuroprotektifnya. Daun kelor dipilih karena ketersediaannya melimpah, harganya terjangkau, serta kaya akan kandungan bioaktif kuersetin.

Senyawa kuersetin berfungsi sebagai antioksidan yang sanggup menetralkan stres oksidatif di dalam tubuh. Penilaian tingkat kerusakan neuron dilakukan dengan mengukur kadar malondialdehida (MDA), analisis histopatologi neuron hipokampus, serta evaluasi pemulihan memori spasial.

"Kami berharap penelitian ini dapat membuka jalan bagi pengembangan solusi berbasis bahan alam yang terjangkau untuk mendukung kesehatan mental generasi muda," kata Syakira.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed