Rupiah Melemah ke Rp17.668 Per Dolar AS di Tengah Tekanan Global

Smallest Font
Largest Font

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS merosot hingga menyentuh angka Rp17.668 pada Senin, 18 Mei 2026, akibat kombinasi tekanan fiskal domestik dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Berdasarkan data pasar spot Bloomberg, mata uang Indonesia tersebut melemah sebesar 71 poin atau 0,4 persen, sementara indeks dolar AS sedikit turun sebesar 0,07 persen ke posisi 99,21.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan bahwa kondisi industri perbankan nasional tetap kokoh dalam menghadapi tekanan inflasi dan volatilitas global yang dipicu oleh konflik berkepanjangan di Iran.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyatakan bahwa kinerja intermediasi berjalan baik dengan profil risiko yang terkendali, didukung rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 25,09 persen dan rasio kredit bermasalah (NPL) bruto yang sehat di angka 2,14 persen per Maret 2026.

“The results of stress tests conducted by both OJK and the banking sector show that current banking capital levels remain sufficient to withstand risks caused by significant changes in Indonesia’s macroeconomic conditions,” ujar Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK.

Guna mengantisipasi ketidakpastian global seperti lonjakan harga energi, OJK rutin menggelar simulasi yang mencakup pelemahan rupiah, perlambatan pertumbuhan ekonomi, hingga kenaikan suku bunga.

“OJK continues to coordinate with the government and relevant stakeholders to strengthen policy coordination, monitoring and implement the necessary measures to maintain financial system stability,” kata Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK.

Meskipun perbankan dinilai kuat, rupiah tercatat terus tertekan sepanjang pekan ini dalam perdagangan yang hanya berlangsung selama tiga hari karena adanya libur Kenaikan Yesus Kristus.

Dilansir dari idnfinancials.com, rupiah sempat ditutup di level rekor terlemah Rp17.500 per dolar AS pada Selasa sebelum pulih tipis ke Rp17.465 pada Rabu, yang mencerminkan pelemahan mingguan sebesar 0,53 persen.

Penguatan dolar AS turut menekan mata uang utama Asia lainnya seperti yen Jepang, yuan China, won Korea Selatan, ringgit Malaysia, dan dolar Singapura seiring kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi global.

“If you look at non-energy components, such as services, there are signs the economy is overheating. The Fed must think about ways to break the chain of inflation escalation,” kata Austan Goolsbee, Gubernur Federal Reserve Chicago.

Di sisi lain, Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Teuku Riefky, menilai kemerosotan rupiah melewati Rp17.600 lebih mencerminkan kekhawatiran fiskal dan struktural domestik daripada sekadar tekanan moneter.

Menurut analisis Riefky, ruang fiskal pemerintah semakin menyempit akibat pembengkakan biaya subsidi BBM di tengah lonjakan harga minyak mentah dunia dan rendahnya penerimaan pajak.

“The fiscal issue lies in the shrinking fiscal space caused by rising fuel subsidy burdens amid higher oil prices and weak tax revenues,” ujar Teuku Riefky, Ekonom LPEM FEB UI.

Beban anggaran negara dinilai kian berat seiring peningkatan pengeluaran untuk program unggulan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

“The issue does not stem from monetary policy, but rather from fiscal and structural aspects,” tegas Teuku Riefky, Ekonom LPEM FEB UI.

Riefky juga menyoroti bahwa perubahan kebijakan pemerintah yang kerap terjadi telah menciptakan ketidakpastian pasar dan menurunkan kepercayaan investor terhadap aset domestik.

“The fiscal posture should be improved by refocusing and reallocating spending from less productive budget items toward social assistance and productive expenditure,” kata Teuku Riefky, Ekonom LPEM FEB UI.

Meskipun demikian, faktor eksternal berupa kebuntuan negosiasi tidak langsung antara Iran dan Presiden AS Donald Trump yang memicu persiapan serangan balasan oleh AS dan Israel tetap menjadi pemicu utama.

“There are both external and internal factors. Externally, the pressure comes from the Iran-US conflict. Internally, it stems from fiscal and structural issues,” kata Teuku Riefky, Ekonom LPEM FEB UI.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed