Rupiah Menguat 0,53 Persen Menjadi Mata Uang Terbaik di Asia
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup menguat 0,53 persen ke posisi Rp17.885 per dolar AS pada perdagangan Jumat, 17 Juli 2026. Apresiasi ini menobatkan mata uang Garuda sebagai yang terbaik di Asia sepanjang pekan dengan kenaikan 0,89 persen secara point-to-point.
Dilansir dari Refinitiv, penguatan rupiah diikuti oleh won Korea Selatan sebesar 0,76 persen, serta dolar Singapura dan yuan China yang naik tipis masing-masing 0,02 persen dan 0,01 persen. Sebaliknya, rupee India melemah paling dalam sebesar 1,01 persen, disusul penurunan baht Thailand, ringgit Malaysia, dan yen Jepang.
Lonjakan mata uang regional dipicu oleh penurunan Indeks Dolar AS sebesar 0,18 persen dalam sepekan ke posisi 100,755 menyusul melandainya inflasi konsumen AS pada Juni. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga Bank Sentral AS pada Juli kini merosot menjadi 11 persen dari pekan sebelumnya yang mencapai 25 persen.
Meskipun inflasi melandai, otoritas moneter AS tetap membuka peluang pengetatan kebijakan jika kondisi ekonomi berubah. Risiko pasar global saat ini juga masih dibayangi oleh meningkatnya kembali ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
"Saya terbuka terhadap kenaikan suku bunga apabila tidak ada perbaikan inflasi dalam waktu dekat," ujar Philip Jefferson, Wakil Ketua The Fed.
Selain sentimen global, keperkasaan rupiah ditopang oleh realisasi investasi domestik paruh pertama tahun ini yang mencapai Rp1.010,6 triliun. Angka yang tumbuh 7,2 persen secara tahunan ini telah memenuhi 49,5 persen dari target investasi tahun 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun.
"Realisasi investasi mencapai Rp1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2%," ujar Rosan Roeslani, Menteri Investasi dan Hilirisasi.
Penanaman Modal Asing menyumbang Rp507,6 triliun dari total investasi tersebut, sedangkan Penanaman Modal Dalam Negeri tercatat sebesar Rp502,9 triliun. Tingginya nilai investasi asing ini memberikan sentimen positif tambahan bagi pergerakan nilai tukar rupiah di pasar global.
Di sisi lain, laporan tnsnews.com.my melansir analisis Shan Saeed, kepala ekonom global di Juwai IQI, yang memproyeksikan mata uang Asia Tenggara tidak akan bergerak serempak pada paruh kedua tahun 2026. Pelemahan dolar AS diperkirakan lebih menguntungkan ringgit dan rupiah dibandingkan dong Vietnam, baht Thailand, dan peso Filipina.
Menurut analisis Juwai IQI, nilai tukar rupiah untuk paruh kedua tahun ini akan berfluktuasi antara 17.500 dan 18.500 rupiah per dolar AS dengan volatilitas tinggi namun memiliki potensi pemulihan signifikan. Sementara itu, nilai tukar ringgit Malaysia diprediksi berada dalam kisaran 3,90 hingga 4,20 ringgit per dolar AS, dong Vietnam antara 25.700 dan 26.800 dong per dolar AS, baht Thailand di sekitar 32,75 hingga 34,75 per dolar AS, dan peso Filipina diperkirakan antara 59,50 dan 62,50 peso per dolar AS.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow