IHSG Anjlok 2 Persen Terseret Tekanan Minyak Global
Indeks Harga Saham Gambungan (IHSG) anjlok 2,02 persen atau turun 132,05 poin ke level 6.409,33 pada awal sesi II perdagangan Senin (14/9/2026). Pelemahan pasar saham domestik ini dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia, kekhawatiran fiskal, serta ketidakpastian arah suku bunga acuan The Fed.
Data Bursa Efek Indonesia mencatat sebanyak 544 saham melemah, 157 saham menguat, dan 262 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp9,479 triliun dari perdagangan 20,28 miliar saham. Tekanan IHSG diperberat oleh aksi jual bersih investor asing senilai Rp664,34 miliar di seluruh pasar pada sesi I, dengan penjualan terbesar pada saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).
Analis pasar keuangan menilai potensi pembengkakan subsidi energi akibat tingginya harga minyak internasional menjadi beban bagi prospek neraca perdagangan dan APBN Indonesia.
"Indonesia merupakan negara net importer minyak, sehingga kenaikan harga minyak berpotensi memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan dan fiskal, terutama mengingat pemerintah masih memberikan subsidi energi domestik yang cukup besar," kata Henry Wibowo, Co-Founder Alphagate Capital sekaligus Former Chief Indonesia Strategist J.P. Morgan.
Ia menjelaskan bahwa lonjakan harga energi berisiko menambah beban belanja pemerintah untuk BBM nonsubsidi maupun subsidi seperti Pertalite. Namun, Henry memandang konsolidasi teknikal saat ini relatif wajar setelah indeks menguat lebih dari 20 persen sejak Juni 2026.
"Setelah kenaikan yang cukup kuat tersebut, koreksi dan konsolidasi jangka pendek merupakan sesuatu yang wajar," katanya.
Meskipun terdapat volatilitas jangka pendek, daya tarik investasi jangka panjang Indonesia dinilai tetap solid, khususnya pada sektor infrastruktur digital dan kecerdasan buatan.
"Indonesia memiliki posisi yang cukup unik dan kompetitif secara global sebagai tujuan investasi data center, didukung oleh harga lahan yang relatif menarik, ketersediaan pasokan listrik dan air yang stabil, serta kebijakan pemerintah yang semakin mendukung perkembangan industri digital dan data center," jelas Henry.
Di sisi lain, kondisi makroekonomi global juga menambah kehati-hatian investor jelang keputusan rapat pertemuan FOMC pekan ini.
"Dari sisi domestik, indikator makro ekonomi domestik seperti IKK yang terjaga dan stabilitas pasokan energi domestik menjadi faktor cushion bagi IHSG," ujar Nafan Aji Gusta, Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia.
Proyeksi inflasi konsumen AS yang meningkat memicu spekulasi kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin. Gejolak geopolitik di kawasan Teluk Persia yang mengganggu jalur transportasi minyak turut mendorong harga minyak dunia sempat menembus level US$100 per barel.
"Apabila IHSG gagal bertahan di 6.530, koreksi berpotensi berlanjut menuju 6.425, dengan support berikutnya di 6.377. Sebaliknya, apabila mampu rebound dan kembali menembus level 6.592, IHSG berpeluang menguji 6.723, sebelum menuju 6.859 sebagai resistance berikutnya," ujar Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia.
Ia menambahkan bahwa pelaku usaha domestik juga mencermati penurunan Indeks Ekspektasi Kondisi Makroekonomi kuartal III-2026 serta realisasi penerimaan pajak hingga Agustus 2026 yang baru mencapai Rp1.409,1 triliun atau 59,8 persen dari target APBN.
"Penurunan utamanya dipicu oleh kenaikan harga bensin dan ketegangan perdagangan yang meningkatkan kekhawatiran terhadap biaya hidup," ujar Liza.
Tekanan inflasi energi global dan depresiasi kurs mata uang menjadi faktor utama yang diwaspadai pelaku pasar dalam mengantisipasi langkah kebijakan moneter lanjutan dari Bank Indonesia.
"Kondisi tersebut membuat investor tetap berhati-hati menjelang keputusan kebijakan moneter The Fed pekan ini," ujar Liza.
Riset Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG akan bergerak pada rentang 6.450 hingga 6.700 sepanjang pekan ini.
"Sehingga diperkirakan IHSG akan bergerak sideways pada kisaran 6.450-6.700 pada perdagangan pekan ini," ungkap analis Phintraco Sekuritas.
Sementara itu, CGS International Sekuritas memperkirakan pergerakan indeks cenderung bervariasi dengan kecenderungan menguat terbatas yang didukung sentimen positif harga komoditas global.
"Naiknya indeks di bursa Wall Street dan naiknya harga emas serta tembaga diprediksi akan menjadi sentimen positif di pasar," tulis analis CGS International Sekuritas.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow