Rupiah Menguat ke 17.508 Meski Minyak Tembus 101 Dolar per Barrel
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat 0,7% ke level 17.508 pada Rabu (9/9/2026), level terkuat sejak 18 Mei 2026, meski harga minyak Brent melonjak 2,6% ke US$101 per barrel. Kenaikan harga minyak didorong eskalasi konflik AS-Iran, termasuk penghancuran 5 kapal tanker Iran oleh militer AS, serta pulihnya pembelian minyak mentah oleh China.
Pelemahan indeks dolar AS (DXY) sebesar 0,4% pada Selasa (8/9) dan 0,02% pada Rabu (9/9) ke level 98,8 turut mendukung penguatan rupiah. DXY tertekan oleh penguatan yen Jepang dan aksi wait and see pasar menunggu rilis data inflasi AS dan pengumuman buyback obligasi pemerintah AS tenor 10–20 tahun.
Menurut Stockbit, rupiah juga didukung tren kenaikan harga komoditas seperti CPO, batu bara, dan tembaga dalam sebulan terakhir, yang mengkompensasi tekanan impor minyak bagi neraca perdagangan Indonesia.
Sementara itu, Bank Indonesia mencatat indeks keyakinan konsumen naik ke 118,5 pada Agustus 2026, dari 116,8 pada Juli 2026, didorong kenaikan hampir seluruh sub-indeks kecuali indeks penghasilan saat ini.
"Kami akan menerapkan bursa mineral dan komoditas strategis secara bertahap, dimulai dengan komoditas yang paling siap," ujar Sarjito, Kepala Eksekutif Pengawas Bursa Mineral dan Komoditas Strategis OJK, Rabu (9/9).
OJK menunggu peraturan presiden yang merinci komoditas yang akan diperdagangkan. Bursa ini ditujukan untuk memperkuat pembentukan harga dalam negeri, menekan praktik transfer pricing, dan meningkatkan penerimaan devisa dan pajak.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow